Profil Frans Kaisiepo Pejuang Kemerdekaan Pengibar Bendera Merah Putih Pertama di Papua
Sabtu, 27 Agustus 2022 - 06:14 WIB
loading...
A
A
A
Dilansir dari situs Kementerian Keuangan, Frans Kaisiepo pada Juli 1946 menjadi utusan Nederlands Nieuw Guinea dan satu-satunya orang asli Papua pada Konferensi Malino di Sulawesi Selatan. Niat Belanda yang ingin menggabungkan Papua dengan Maluku dan menjadikan Papua bagian dari Negara Indonesia Timur (NIT) ditentang keras oleh Frans Kaisiepo.
Baca: 7 Pahlawan Nasional yang Fotonya Diabadikan di Uang Rupiah
Dia bersikeras bahwa wilayah Papua seharusnya dipimpin oleh orang-orang Papua sendiri daripada dipimpin oleh orang lain. Dia pun mengusulkan nama Papua atau Nederlands Nieuw Guinea diganti dengan "Irian" yang berasal dari bahasa asli Biak yang berarti “Cahaya yang mengusir kegelapan”.
Hal tersebut dilatar belakangi oleh kata Papua yang awalnya merupakan sebutan pua-pua yang artinya adalah keriting. Sebutan itu dianggapnya merendahkan orang-orang lokal Papua.
Maka itu, dia berkehendak untuk menghentikan sebutan tersebut. Kata Irian kemudian dipolitisasi kelompok nasionalis Indonesia di Papua sebagai akronim dari Ikut Republik Indonesia Anti Nederlands.
Perjuangannya di bidang politik terus berlanjut. Frans Kaisiepo mendirikan Partai Indonesia Merdeka di Biak pada 1946. Dia terus memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di tanah Papua meski Indonesia telah resmi memproklamirkan kemerdekaannya.
Frans Kaisiepo dipenjara oleh Belanda sejak 1954 hingga 1961 karena perlawanannya. Kemudian, dia mendirikan Partai Irian Sebagian Indonesia (ISI) pada 1961.
Baca: 7 Pahlawan Nasional yang Fotonya Diabadikan di Uang Rupiah
Dia bersikeras bahwa wilayah Papua seharusnya dipimpin oleh orang-orang Papua sendiri daripada dipimpin oleh orang lain. Dia pun mengusulkan nama Papua atau Nederlands Nieuw Guinea diganti dengan "Irian" yang berasal dari bahasa asli Biak yang berarti “Cahaya yang mengusir kegelapan”.
Hal tersebut dilatar belakangi oleh kata Papua yang awalnya merupakan sebutan pua-pua yang artinya adalah keriting. Sebutan itu dianggapnya merendahkan orang-orang lokal Papua.
Maka itu, dia berkehendak untuk menghentikan sebutan tersebut. Kata Irian kemudian dipolitisasi kelompok nasionalis Indonesia di Papua sebagai akronim dari Ikut Republik Indonesia Anti Nederlands.
Perjuangannya di bidang politik terus berlanjut. Frans Kaisiepo mendirikan Partai Indonesia Merdeka di Biak pada 1946. Dia terus memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di tanah Papua meski Indonesia telah resmi memproklamirkan kemerdekaannya.
Frans Kaisiepo dipenjara oleh Belanda sejak 1954 hingga 1961 karena perlawanannya. Kemudian, dia mendirikan Partai Irian Sebagian Indonesia (ISI) pada 1961.
Lihat Juga :