Ini Langkah BMKG Perkuat Sistem Peringatan Dini Tsunami

Jum'at, 26 Agustus 2022 - 16:55 WIB
loading...
Ini Langkah BMKG Perkuat Sistem Peringatan Dini Tsunami
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan Konsorsium Gempa Bumi dan Tsunami Indonesia (KGTI) sebagai respons BMKG terhadap kecenderungan aktivitas gempa bumi yang terus meningkat dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Foto/Dok.SINDOnews
A A A
JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG ) terus memperkuat sistem peringatan dini tsunami . Salah satunya dengan membentuk Konsorsium Gempa Bumi dan Tsunami Indonesia (KGTI).

Konsorsium tersebut berisi para pakar dan peneliti gempabumi dan tsunami dari berbagai kementerian/lembaga terkait, perguruan tinggi, dan praktisi kebencanaan. “Konsorsium ini sebagai respons BMKG terhadap kecenderungan aktivitas gempa bumi yang terus meningkat dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir dan juga adanya fakta bahwa mekanisme pembangkit tsunami semakin kompleks,” ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangan resminya, Jumat (26/8/2022).

Dwikorita mengatakan, kehadiran KGTI ini juga guna semakin meningkatkan kemandirian bangsa untuk penguatan operasional Sistem Peringatan Dini Tsunami. Strategi ini, kata dia, dilakukan sebagai bagian dari ikhtiar dan komitmen BMKG dalam mewujudkan zero victim.

Baca juga: BMKG: 75,51% Wilayah Indonesia Sudah Mengalami Kemarau



KGTI dibagi dalam tiga kelompok kerja yaitu, pertama kelompok kerja gempa bumi. Kedua, kelompok kerja tsunami. Ketiga, kelompok kerja evaluasi dan pengembangan atau penguatan sistem monitoring, analisis, dan diseminasi gempa bumi dan tsunami.

Secara umum, lanjut Dwikorita, tugas utama KGTI adalah mendukung pengembangan InaTEWS, memberikan evaluasi, dan rekomendasi terhadap sistem operasional monitoring gempa bumi dan peringatan dini tsunami di BMKG. Dwikorita optimistis, kehadiran KGTI ini mampu memperkuat sistem peringatan dini tsunami yang dibangun oleh BMKG.

“Pelibatan ahli, pakar, dan peneliti dari berbagai institusi dan perguruan tinggi tentunya akan semakin memperkuat BMKG, terutama terkait data dan informasi yang dihasilkan,” ujarnya.

Dwikorita menyebutkan sejumlah perguruan tinggi yang terlibat dalam konsorsium ini di antaranya Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), serta beberapa pakar kebumian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Sejumlah manfaat yang diharapkan dari dibentuknya KGTI bagi BMKG. Pertama, memberikan masukan dalam pengembangan keilmuan dan teknologi untuk operasional monitoring dan analisis gempa bumi, yang meliputi strategi monitoring, pengolahan, analisis data, modelling, diseminasi, emerging teknologi, dan pengembangan aplikasi, untuk mendukung terwujudnya sistem monitoring, processing dan disseminasi yang andal.

Kedua, memberikan masukan dalam pengembangan keilmuan dan teknologi untuk operasional peringatan dini tsunami, terutama dalam strategi dan kebijakan pengamatan tsunami, pengolahan dan analisis data tsunami, modelling, diseminasi, dan layanan peringatan dini tsunami. “Dan ketiga, memberikan masukan untuk evaluasi kinerja sistem monitoring gempa bumi dan peringatan dini tsunami,” kata Dwikorita.
(rca)
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1377 seconds (10.55#12.26)