Kisah Cinta Jenderal Polisi yang Tak Pernah Menyakiti Hati Sang Istri
Minggu, 14 Agustus 2022 - 07:00 WIB
loading...
A
A
A
Untuk menyiasatinya, Nunun rela pulang sepekan sekali ke Sukabumi. Selain bertemu orang tua dan keluarga, kepulangan Nunun juga untuk melepas rindu dengan sang kekasih, Adang Daradjatun.
Namun seminggu sekali tidak cukup untuk meredam rindu yang membara. Hampir setiap hari keduanya saling berkirim surat. Kehadiran surat-surat itu menjadi penghibur hati yang sepi.
"Surat saya panjang dan puitis. Tapi, kalau Bapak, balasannya biasa saja. Lebih banyak nasihat," tutur Nunun.
Cemburu yang disebut sebagai bumbu sebuah percintaan juga dialami oleh pasangan Adang dan Nunun. Namun jika biasanya wanita yang cemburuan, tapi malah Adang Daradjatun yang kelak menjadi Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri) ini yang kerap menunjukkannya.
Latar belakang keluarga yang berbeda juga membuat keduanya hanya memiliki sedikit persamaan. Adang berasal dari keluarga bangsawan dan pejabat, sedangkan Nunun dari keluarga pedagang. Namun banyaknya perbedaan itu malah membuat hubungan keduanya semakin erat. Dalam perbedaan itu, Adang dan Nunun bisa merasakan ketergantungan dan saling membutuhkan.
Setelah tiga tahun penjajakan, Adang dan Nunun akhirnya memutuskan untuk membina rumah tangga. Keduanya menikah pada 1972 di Sukabumi dengan pesta adat Sunda. Adang dan Nunun menghabiskan bulan madu di perkebunan di daerah Pelabuhan Ratu.
Namun seminggu sekali tidak cukup untuk meredam rindu yang membara. Hampir setiap hari keduanya saling berkirim surat. Kehadiran surat-surat itu menjadi penghibur hati yang sepi.
"Surat saya panjang dan puitis. Tapi, kalau Bapak, balasannya biasa saja. Lebih banyak nasihat," tutur Nunun.
Cemburu yang disebut sebagai bumbu sebuah percintaan juga dialami oleh pasangan Adang dan Nunun. Namun jika biasanya wanita yang cemburuan, tapi malah Adang Daradjatun yang kelak menjadi Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri) ini yang kerap menunjukkannya.
Latar belakang keluarga yang berbeda juga membuat keduanya hanya memiliki sedikit persamaan. Adang berasal dari keluarga bangsawan dan pejabat, sedangkan Nunun dari keluarga pedagang. Namun banyaknya perbedaan itu malah membuat hubungan keduanya semakin erat. Dalam perbedaan itu, Adang dan Nunun bisa merasakan ketergantungan dan saling membutuhkan.
Setelah tiga tahun penjajakan, Adang dan Nunun akhirnya memutuskan untuk membina rumah tangga. Keduanya menikah pada 1972 di Sukabumi dengan pesta adat Sunda. Adang dan Nunun menghabiskan bulan madu di perkebunan di daerah Pelabuhan Ratu.
Lihat Juga :