Curah Hujan Rendah, Indonesia Mulai Memasuki Musim Kemarau
Jum'at, 26 Juni 2020 - 21:41 WIB
loading...
A
A
A
Sedangkan 30% wilayah yang lebih kering (Bawah Normal) terjadi di Sumatera Utara bagian tengah, Jawa Barat bagian tengah, Jawa Tengah bagian tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah bagian utara, Papua Barat bagian timur, Jayapura, dan Papua bagian utara dan tengah.
Prediksi curah hujan pada akhir Juni hingga pertengahan Juli 2020 umumnya akan berada pada kisaran kriteria rendah (0 – 50 mm/dasarian) hingga menengah (50 – 150 mm/dasarian) di sebagian besar wilayah.
Potensi curah hujan rendah (<50 mm) diprakirakan dapat terjadi di Sumatera khusunya di Riau dengan peluang >70%. Sementara itu, potensi curah hujan rendah di Jawa (kecuali Banten), Bali, NTB, NTT, sebagian Sulawesi Selatan bagian selatan dan Papua bagian selatan di sekitar Merauke memiliki peluang > 90%.
“Hasil monitoring indikator anomali iklim Samudera Pasifik yaitu suhu muka laut wilayah indikator ENSO (Nino 3.4) sampai dengan pertengahan Juni dalam kondisi Netral (fluktuasi suhu muka laut tidak menyimpang lebih dari 0,5°C dari rata rata normal klimatologisnya),” ungkapnya.
Sebagian besar Lembaga Meteorologi dunia memprediksi anomali suhu muka laut di Nino 3.4 sampai akhir tahun berkisar antara Netral dan La Nina Lemah. Kondisi La Nina lemah dinyatakan apabila penyimpangan suhu muka laut di wilayah indikator ENSO lebih dingin -0,5° s.d -1,0°C dari normal klimatologisnya.
Apabila kondisi La Nina dapat terjadi, hal tersebut dapat menambah peluang peningkatan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia, sehingga musim kemarau terkesan lebih basah karena lebih banyak hujan daripada kemarau biasanya.
Sementara itu monitoring anomali iklim Samudera Hindia menunjukkan beda suhu muka laut perairan timur Afrika dan sebelah barat Sumatera sebagai indikator Dipole Mode Samudera Hindia (IOD) bernilai positif (IOD+) pada pertengahan Juni. “Kondisi IOD+ diprediksi akan kembali Netral pada Juli hingga November 2020,” ujarnya.
Monitoring terhadap kondisi suhu muka laut perairan Indonesia menunjukkan kondisi normal dengan kisaran anomali suhu muka laut antara -0.5 s/d +2°C. Suhu muka laut yang hangat (anomali positif) terjadi di perairan timur Sumatera, perairan selatan Jawa, Laut Banda, dan perairan utara Papua.
Prediksi curah hujan pada akhir Juni hingga pertengahan Juli 2020 umumnya akan berada pada kisaran kriteria rendah (0 – 50 mm/dasarian) hingga menengah (50 – 150 mm/dasarian) di sebagian besar wilayah.
Potensi curah hujan rendah (<50 mm) diprakirakan dapat terjadi di Sumatera khusunya di Riau dengan peluang >70%. Sementara itu, potensi curah hujan rendah di Jawa (kecuali Banten), Bali, NTB, NTT, sebagian Sulawesi Selatan bagian selatan dan Papua bagian selatan di sekitar Merauke memiliki peluang > 90%.
“Hasil monitoring indikator anomali iklim Samudera Pasifik yaitu suhu muka laut wilayah indikator ENSO (Nino 3.4) sampai dengan pertengahan Juni dalam kondisi Netral (fluktuasi suhu muka laut tidak menyimpang lebih dari 0,5°C dari rata rata normal klimatologisnya),” ungkapnya.
Sebagian besar Lembaga Meteorologi dunia memprediksi anomali suhu muka laut di Nino 3.4 sampai akhir tahun berkisar antara Netral dan La Nina Lemah. Kondisi La Nina lemah dinyatakan apabila penyimpangan suhu muka laut di wilayah indikator ENSO lebih dingin -0,5° s.d -1,0°C dari normal klimatologisnya.
Apabila kondisi La Nina dapat terjadi, hal tersebut dapat menambah peluang peningkatan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia, sehingga musim kemarau terkesan lebih basah karena lebih banyak hujan daripada kemarau biasanya.
Sementara itu monitoring anomali iklim Samudera Hindia menunjukkan beda suhu muka laut perairan timur Afrika dan sebelah barat Sumatera sebagai indikator Dipole Mode Samudera Hindia (IOD) bernilai positif (IOD+) pada pertengahan Juni. “Kondisi IOD+ diprediksi akan kembali Netral pada Juli hingga November 2020,” ujarnya.
Monitoring terhadap kondisi suhu muka laut perairan Indonesia menunjukkan kondisi normal dengan kisaran anomali suhu muka laut antara -0.5 s/d +2°C. Suhu muka laut yang hangat (anomali positif) terjadi di perairan timur Sumatera, perairan selatan Jawa, Laut Banda, dan perairan utara Papua.
Lihat Juga :