Selain Wapres, Jokowi Disarankan Aktifkan Ma'ruf Amin Jadi Penasihat
Kamis, 25 Juni 2020 - 20:54 WIB
loading...
A
A
A
Kata Fahri, kebijakan yang kontroversial bisa dilihat dari sikap pemerintah terhadap RUU Omnibus Law Cipta Kerja, sejumlah Perppu hingga yang terbaru tentang RUU Haluan Ideologi Pancasila, yang dianggap mengambil alih cabang kekuasaan di legislatif.
"Seharunya wapres itu karena dia tidak memimpin lembaga atau struktur kenegaraan. Karena dalam struktur kenegaraan kita wapres itu hanya berguna kalau dipake presiden ya fungsikan pak kyai itu sebagai penasehat," ucapnya.
Fahri menambahkan, sebagai Ketua MUI, Kiai Ma'ruf bisa mengambil hati umat Islam agar tak aksi demonstrasi lagi. Terlebih, di tengah pandemi Covid-19, maka semua pihak harus berjalan bersama menyelesaikan wabah. Sayangnya, di periode kedua dan dalam kondisi berhadapan dengan Covid-19, negara masih berantem masalah ideologi.
"Berantem-berantem itu ada perdebatan itu kita juga gak ngerti apa sih gunanya. Karena semua UU yang kontroversial itu kita gak tau siapa jubirnya. Lama-lama sembunyi diam-diam ngomong apa di belakang dia, bilang oh kami gak ikut-ikut, oh itu kecolongan," ucapnya.
"Ini lah watak yang jelek dari sebagian bangsa kita. Hipokrasi tidak berani menghadapi kenyataan dan tidak berani katakan sesuatu apa adanya. Tak berani membela pikiran-pikirannya. Begitu pikiran kontroversial lalu diserang orang lari dan tidak kelihatan," pungkas dia.
"Seharunya wapres itu karena dia tidak memimpin lembaga atau struktur kenegaraan. Karena dalam struktur kenegaraan kita wapres itu hanya berguna kalau dipake presiden ya fungsikan pak kyai itu sebagai penasehat," ucapnya.
Fahri menambahkan, sebagai Ketua MUI, Kiai Ma'ruf bisa mengambil hati umat Islam agar tak aksi demonstrasi lagi. Terlebih, di tengah pandemi Covid-19, maka semua pihak harus berjalan bersama menyelesaikan wabah. Sayangnya, di periode kedua dan dalam kondisi berhadapan dengan Covid-19, negara masih berantem masalah ideologi.
"Berantem-berantem itu ada perdebatan itu kita juga gak ngerti apa sih gunanya. Karena semua UU yang kontroversial itu kita gak tau siapa jubirnya. Lama-lama sembunyi diam-diam ngomong apa di belakang dia, bilang oh kami gak ikut-ikut, oh itu kecolongan," ucapnya.
"Ini lah watak yang jelek dari sebagian bangsa kita. Hipokrasi tidak berani menghadapi kenyataan dan tidak berani katakan sesuatu apa adanya. Tak berani membela pikiran-pikirannya. Begitu pikiran kontroversial lalu diserang orang lari dan tidak kelihatan," pungkas dia.
(maf)