DPR: Green Jobs Harus Bisa Diterjemahkan Mulai dari Akar Rumput
Sabtu, 25 Juni 2022 - 07:36 WIB
loading...
A
A
A
Peneliti Koaksi Indonesia Siti Koiromah menjelaskan bahwa sebenarnya istilah green jobs bukan hal baru. “ILO mendefinisikan green jobs sebagai pekerjaan yang layak dan berkontribusi melestarikan atau memulihkan lingkungan, yang dapat berasal dari sektor tradisional seperti manufaktur dan konstruksi, maupun sektor yang baru seperti energi terbarukan dan efisiensi energi,” ujar Siti Koiromah.
Dari perspektif Koaksi Indonesia, lanjut dia, strategi pemulihan ekonomi hijau merupakan strategi terbaik dalam menyelesaikan krisis pandemi Covid-19. Dia mengatakan, Indonesia memiliki peluang green jobs yang besar di berbagai sektor.
“Pemerintah Indonesia telah memproyeksikan jumlah green jobs hingga tahun 2045 mencapai 15 juta dalam skema low carbon development Indonesia,” ungkap Siti Koiromah.
Dia melanjutkan, berbasis Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), Koaksi Indonesia menghitung bahwa akan tercipta 432 ribu tenaga kerja langsung akan pada 2030 dan lebih dari 1,12 juta pada 2050. Angka tersebut, kata dia, belum termasuk tenaga kerja tidak langsung dan terinduksi.
“Lalu, dari target dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021 - 2030, 51,6% energi terbarukan setara 20,9 GW menciptakan lebih dari 140 ribu tenaga kerja sedangkan 48,4% energi fosil setara 19,6 GW menciptakan 10 ribu tenaga kerja. Jadi energi terbarukan menciptakan lebih banyak tenaga kerja dibandingkan energi fosil dengan jumlah kapasitas yang hampir sama,” imbuhnya.
Itu sebabnya, sambung dia, green Jobs bisa menjadi bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim karena saat ini sebagian besar emisi Indonesia berasal dari energi fosil. Dia menuturkan, semakin besar industri dengan visi ekonomi hijau dibangun maka semakin banyak green jobs tercipta.
Begitu juga sebaliknya. Semakin besar kontribusi yang dapat diberikan untuk melindungi dan memulihkan lingkungan. “Indonesia perlu langkah strategis dalam mendorong green jobs, yaitu menjadikan energi terbarukan sebagai sumber energi utama, perlunya peta jalan pengembangan keterampilan green jobs, dan menginformasikan dan mempromosikan peluang dan contoh nyata green jobs di berbagai sektor,” jelasnya.
Dari perspektif Koaksi Indonesia, lanjut dia, strategi pemulihan ekonomi hijau merupakan strategi terbaik dalam menyelesaikan krisis pandemi Covid-19. Dia mengatakan, Indonesia memiliki peluang green jobs yang besar di berbagai sektor.
“Pemerintah Indonesia telah memproyeksikan jumlah green jobs hingga tahun 2045 mencapai 15 juta dalam skema low carbon development Indonesia,” ungkap Siti Koiromah.
Dia melanjutkan, berbasis Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), Koaksi Indonesia menghitung bahwa akan tercipta 432 ribu tenaga kerja langsung akan pada 2030 dan lebih dari 1,12 juta pada 2050. Angka tersebut, kata dia, belum termasuk tenaga kerja tidak langsung dan terinduksi.
“Lalu, dari target dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021 - 2030, 51,6% energi terbarukan setara 20,9 GW menciptakan lebih dari 140 ribu tenaga kerja sedangkan 48,4% energi fosil setara 19,6 GW menciptakan 10 ribu tenaga kerja. Jadi energi terbarukan menciptakan lebih banyak tenaga kerja dibandingkan energi fosil dengan jumlah kapasitas yang hampir sama,” imbuhnya.
Itu sebabnya, sambung dia, green Jobs bisa menjadi bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim karena saat ini sebagian besar emisi Indonesia berasal dari energi fosil. Dia menuturkan, semakin besar industri dengan visi ekonomi hijau dibangun maka semakin banyak green jobs tercipta.
Begitu juga sebaliknya. Semakin besar kontribusi yang dapat diberikan untuk melindungi dan memulihkan lingkungan. “Indonesia perlu langkah strategis dalam mendorong green jobs, yaitu menjadikan energi terbarukan sebagai sumber energi utama, perlunya peta jalan pengembangan keterampilan green jobs, dan menginformasikan dan mempromosikan peluang dan contoh nyata green jobs di berbagai sektor,” jelasnya.
Lihat Juga :