T20 Ajak Dunia Kembali Fokus Tangani Perubahan Iklim
Sabtu, 04 Juni 2022 - 22:08 WIB
loading...
A
A
A
"Jadi ini menjadi pertanyaan besar. Bagaimana kita bisa melakukannya dengan benar? Bagaimana kita bisa sampai di sana," tutup Mari.
Sementara Lead Co-Chair T20 Indonesia Bambang Brodjonegoro mengatakan dunia membutuhkan investasi terkait iklim sebesar USD125 triliun untuk mencapai emisi nol bersih pada 2050, jika mengutip data The United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).
"Ini termasuk investasi tahunan sebesar USD32 triliun di enam sektor utama yang menyumbang sepertiga dari produk domestik bruto (PDB) dunia tahun 2021," ungkapnya.
Adapun keenam sektor yang dimaksud adalah listrik yang membutuhkan USD16 triliun , transportasi sebesar USD5,4 triliun, dan gedung sebanyak USD5,2 triliun. Kemudian, sektor industri yang membutuhkan investasi sebesar USD2,2 triliun, bahan bakar emisi rendah senilai USD1,5 triliun, serta agrikultur, kehutanan, dan penggunaan lahan lainnya sebanyak USD1,5 triliun.
Kendati begitu, Bambang berpendapat terdapat permasalahan mengenai kesenjangan yang lebar antara kapasitas pembiayaan ekonomi hijau negara berkembang dengan negara maju.
"Kapasitas ekonomi negara berkembang secara alami lebih rendah daripada negara maju. Tidak mengherankan bahwa mereka memiliki kapasitas fiskal dan moneter yang lebih kecil," jelasnya.
Sementara Lead Co-Chair T20 Indonesia Bambang Brodjonegoro mengatakan dunia membutuhkan investasi terkait iklim sebesar USD125 triliun untuk mencapai emisi nol bersih pada 2050, jika mengutip data The United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).
"Ini termasuk investasi tahunan sebesar USD32 triliun di enam sektor utama yang menyumbang sepertiga dari produk domestik bruto (PDB) dunia tahun 2021," ungkapnya.
Adapun keenam sektor yang dimaksud adalah listrik yang membutuhkan USD16 triliun , transportasi sebesar USD5,4 triliun, dan gedung sebanyak USD5,2 triliun. Kemudian, sektor industri yang membutuhkan investasi sebesar USD2,2 triliun, bahan bakar emisi rendah senilai USD1,5 triliun, serta agrikultur, kehutanan, dan penggunaan lahan lainnya sebanyak USD1,5 triliun.
Kendati begitu, Bambang berpendapat terdapat permasalahan mengenai kesenjangan yang lebar antara kapasitas pembiayaan ekonomi hijau negara berkembang dengan negara maju.
"Kapasitas ekonomi negara berkembang secara alami lebih rendah daripada negara maju. Tidak mengherankan bahwa mereka memiliki kapasitas fiskal dan moneter yang lebih kecil," jelasnya.
Lihat Juga :