GAMKI Dorong Rusia dan Ukraina Ubah Pendekatan Penyelesaian Konflik
Sabtu, 04 Juni 2022 - 13:56 WIB
loading...
Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) mengharapkan Rusia dan Ukraina mengubah pendekatan militer menjadi pendekatan negosiasi damai dalam penyelesaian konflik. Foto/ist
A
A
A
JAKARTA - Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) mengharapkan Rusia dan Ukraina mengubah pendekatan militer menjadi pendekatan negosiasi damai dalam penyelesaian konflik. GAMKI menilai perang memberikan dampak yang sangat buruk bagi kemanusiaan, rakyat sipil, terkhusus anak-anak dan perempuan.
“Kami mengharapkan kedua negara dan semua pihak yang terkait dapat mengubah pendekatan dalam penyelesaian konflik ini, dari pendekatan militer menjadi pendekatan negosiasi damai," kata Sekretaris Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) GAMKI Sahat Martin Philip Sinurat dalam siaran persnya, Jumat (3/6/2022).
Sahat mengatakan, DPP GAMKI telah menyampaikan sikap organisasi secara resmi dalam pertemuan terpisah dengan Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia Ina Lepel dan Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva. "Dalam dua pertemuan yang terpisah itu, GAMKI menyampaikan sikap organisasi yang dihargai dan diterima oleh kedua duta besar tersebut," ujar Sahat.
Baca juga: Rusia dan Ukraina Bakal Hadir di G20, Indonesia Bisa Jadi Fasilitator Perdamaian
Namun di sisi lain, GAMKI menghormati sikap dan kebijakan dari negara-negara tersebut sesuai dengan kepentingan nasional dari masing-masing negara. "Sikap GAMKI jelas, kami menolak perang dan menolak adanya pendekatan senjata dalam penyelesaian konflik. Namun kami tetap menghormati apa yang menjadi sikap dan kebijakan dari negara yang sedang berkonflik," imbuhnya.
Dalam pertemuan di Wisma Kedubes Rusia, GAMKI menanyakan dan mengklarifikasi kepada Lyudmila Vorobieva tentang adanya informasi di media sosial yang mengait-ngaitkan persoalan Rusia - Ukraina dengan persoalan agama. "Ibu Dubes Lyudmila Vorobieva menjelaskan bahwa persoalan Rusia dan Ukraina bukanlah konflik agama melainkan persoalan geopolitik. Masyarakat Rusia majemuk seperti Indonesia, terdiri dari berbagai etnis, suku, dan agama, baik Kristen Ortodoks, Protestan, dan Katolik, serta beragama Islam, Buddha, dan lainnya," jelas Sahat.
“Kami mengharapkan kedua negara dan semua pihak yang terkait dapat mengubah pendekatan dalam penyelesaian konflik ini, dari pendekatan militer menjadi pendekatan negosiasi damai," kata Sekretaris Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) GAMKI Sahat Martin Philip Sinurat dalam siaran persnya, Jumat (3/6/2022).
Sahat mengatakan, DPP GAMKI telah menyampaikan sikap organisasi secara resmi dalam pertemuan terpisah dengan Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia Ina Lepel dan Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva. "Dalam dua pertemuan yang terpisah itu, GAMKI menyampaikan sikap organisasi yang dihargai dan diterima oleh kedua duta besar tersebut," ujar Sahat.
Baca juga: Rusia dan Ukraina Bakal Hadir di G20, Indonesia Bisa Jadi Fasilitator Perdamaian
Namun di sisi lain, GAMKI menghormati sikap dan kebijakan dari negara-negara tersebut sesuai dengan kepentingan nasional dari masing-masing negara. "Sikap GAMKI jelas, kami menolak perang dan menolak adanya pendekatan senjata dalam penyelesaian konflik. Namun kami tetap menghormati apa yang menjadi sikap dan kebijakan dari negara yang sedang berkonflik," imbuhnya.
Dalam pertemuan di Wisma Kedubes Rusia, GAMKI menanyakan dan mengklarifikasi kepada Lyudmila Vorobieva tentang adanya informasi di media sosial yang mengait-ngaitkan persoalan Rusia - Ukraina dengan persoalan agama. "Ibu Dubes Lyudmila Vorobieva menjelaskan bahwa persoalan Rusia dan Ukraina bukanlah konflik agama melainkan persoalan geopolitik. Masyarakat Rusia majemuk seperti Indonesia, terdiri dari berbagai etnis, suku, dan agama, baik Kristen Ortodoks, Protestan, dan Katolik, serta beragama Islam, Buddha, dan lainnya," jelas Sahat.
Lihat Juga :