Kisah Prajurit Kopassus, Rela Menjadi Martir Guna Melindungi Rekannya Dari Berondongan Fretilin
Kamis, 02 Juni 2022 - 16:08 WIB
loading...
A
A
A
Patroli yang dilakukan pasukan ini mencakup Zona Z, KV 34-34/Komplek Liasidi di pedalaman hutan Bumi Larose. Karena wilayah ini dikenal rawan dan juga merupakan sarang tokoh utama Fretilin yang memiliki persenjataan cukup unggul, pasukannya sendiri merupakan orang-orang yang terlatih.
Awalnya pasukan Kopassandha akan menyergap pos pengamatan Fretilin untuk memudahkan langkah berikutnya. Namun secara tiba tiba pasukan Fretilin bertambah dan menyerbu dari berbagai arah dengan jumlah 300 pasukan. Seakan sudah tau strategi pasukan Kopassandha ini.
Dengan kalahnya jumlah pasukan dan persenjataan, satu persatu anggota mulai gugur. Bahkan pasukan ini sempat dipaksa mundur hingga pinggir jurang. Karena hal ini tentunya membutuhkan pemikiran cepat untuk keluar dari situasi ini. Sementara jalan satu satunya adalah melalui celah bukit dan dibutuhkan ketepatan waktu sebelum disergap oleh pasukan musuh.
Kemungkinan ini dilihat oleh Komandan tim gabungan tersebut yang segera memerintahkan anggota yang tersisa untuk meloloskan diri. Disini peran heroik Pratu Suparlan muncul, dia memilih mengorbankan dirinya untuk menghadang dan mengulur waktu musuh supaya teman temannya bisa selamat.
Dengan gagah berani dia mengambil senapan mesin otomatis FN milik rekannya yang telah gugur kemudian maju menghampiri pasukan Fretilin. Beberapa rekannya mengatakan bahwa dia seperti benteng berjalan yang menahan semua tembakan.
Awalnya pasukan Kopassandha akan menyergap pos pengamatan Fretilin untuk memudahkan langkah berikutnya. Namun secara tiba tiba pasukan Fretilin bertambah dan menyerbu dari berbagai arah dengan jumlah 300 pasukan. Seakan sudah tau strategi pasukan Kopassandha ini.
Dengan kalahnya jumlah pasukan dan persenjataan, satu persatu anggota mulai gugur. Bahkan pasukan ini sempat dipaksa mundur hingga pinggir jurang. Karena hal ini tentunya membutuhkan pemikiran cepat untuk keluar dari situasi ini. Sementara jalan satu satunya adalah melalui celah bukit dan dibutuhkan ketepatan waktu sebelum disergap oleh pasukan musuh.
Kemungkinan ini dilihat oleh Komandan tim gabungan tersebut yang segera memerintahkan anggota yang tersisa untuk meloloskan diri. Disini peran heroik Pratu Suparlan muncul, dia memilih mengorbankan dirinya untuk menghadang dan mengulur waktu musuh supaya teman temannya bisa selamat.
Dengan gagah berani dia mengambil senapan mesin otomatis FN milik rekannya yang telah gugur kemudian maju menghampiri pasukan Fretilin. Beberapa rekannya mengatakan bahwa dia seperti benteng berjalan yang menahan semua tembakan.
Lihat Juga :