Din Syamsuddin Kenang Buya Syafii Maarif Sosok Berpikiran Reflektif, Kritis, dan Menggelitik

Jum'at, 27 Mei 2022 - 16:54 WIB
loading...
Din Syamsuddin Kenang Buya Syafii Maarif Sosok Berpikiran Reflektif, Kritis, dan Menggelitik
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyebut meninggalnya Buya Ahmad Syafii Maarif bukan hanya kehilangan bagi Keluarga Besar Muhammadiyah, tapi juga Bangsa Indonesia dan dunia Islam. Foto/ANTARA
A A A
JAKARTA - Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menyebut meninggalnya Buya Ahmad Syafii Maarif bukan hanya kehilangan bagi Keluarga Besar Muhammadiyah, tapi juga Bangsa Indonesia dan dunia Islam. Din menilai Buya sosok ulama, cendekiawan, dan pujangga yang telah banyak melahirkan pikiran bernas dan bermanfaat bagi kehidupan bangsa.

"Pikiran-pikiran Almarhum reflektif, kritis, dan menggelitik. Hal demikian bertolak dari batin yang resah dan gelisah terhadap realitas kehidupan umat Islam/Bangsa Indonesia yang antara idealitas dan realitas dinilainya masih senjang dan berjarak. Sebagai pengejawantahannya lahirlah kritik-kritik (tepatnya otokritik) yang keras bahkan "pedas", yang oleh sebagian dirasakan tidak nyaman didengar," jelas Din melalui keterangan tertulis, Jumat (27/5/2022).

Selama bergaul bersama Buya Syafii Maarif, khususnya sebagai wakilnya di PP Muhammadiyah, Din menyaksikan Buya Syafii sejatinya adalah seorang unik, perenung, dan pegaul yang simpatik. "Pikiran-pikiran kritis-reflektifnya lahir dari obsesi tinggi akan kemajuan umat, kemajuan bangsa. Dia sampaikan dengan ketulusan tanpa pamrih (bahkan terkesan nyaris "lugu politik"), karena baginya keyakinan akan kebenaran harus disampaikan demi kebenaran itu sendiri."

Baca juga: Buya Ahmad Syafii Maarif Meninggal, Indonesia Berduka

Bagi Buya Syafii, lanjut Din, otokritik perlu berdaya kejut (shock theraphy), karena hanya dengan demikian kaum yang sedang tidur pulas akan terbangunkan. Sebagian pikirannya sudah terlembaga dalam wawasan ke-Muhammadiyah-an dan menjelma dalam Gerakan Pencerahan Muhammadiyah.

"Sebagian yang lain (yang juga menjadi pikiran banyak tokoh Muhammadiyah) masih harus terus diperjuangkan, yakni menjadikan Muhammadiyah sebagai Gerakan Ilmu. Dalam hal ini, Muhammadiyah memang sudah melampaui Gerakan Ilmu karena praksisme yang diamalkannya juga berbasis ilmu (walau bersifat sederhana). Namun, untuk menjadi Gerakan Peradaban untuk terwujudnya peradaban utama (high civilization) basis keilmuan Gerakan Muhammadiyah masih perlu didalam-tinggikan dalam suatu kerangka ontologis dan epistemologis yang kuat."

Diberitakan sebelumnya, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Buya Ahmad Syafii Maarif meninggal dunia di RS PKU Muhammadiyah Gamping, pukul 10.15 WIB, Jumat (27/5/2022). Informasi ini disebarkan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir.

"Muhammadiyah dan bangsa Indonesia berduka. Telah wafat Buya Prof Dr H Ahmad Syafii Maarif pada hari Jumat tgl 27 Mei 2022 pukul 10.15 WIB di RS PKU Muhammadiyah Gamping," kata Haedar Nashir.

Haedar mendoakan almarhum agar beliau husnulkhatimah, diterima amal ibadahnya, diampuni kesalahannya, dilapangkan di kuburnya, dan ditempatkan di jannatun na'im. "Mohon dimaafkan kesalahan beliau dan do'a dari semuanya. Pemakaman dll informasinya menyusul," tutupnya.

(zik)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1707 seconds (10.177#12.26)