alexametrics

Kemenkes Beberkan 10 Provinsi dengan Sebaran Kasus DBD Tertinggi

loading...
Kemenkes Beberkan 10 Provinsi dengan Sebaran Kasus DBD Tertinggi
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, angka kasus DBD di Indonesia masih tinggi. FOTO/DOK.SINDOnews
A+ A-
JAKARTA - Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, angka kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia masih tinggi. Tercatat kasus DBD hingga 22 Juni 2020 sebanyak 68.000 kasus.

"Kita melihat bahwa sampai saat ini masih menemukan kasus antara 100 sampai dengan 500 kasus per harinya. Jadi kalau kita melihat jumlah kasus tadi sudah disampaikan 68.000 kasus demam berdarah seluruh Indonesia," kata Nadia di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Graha BNPB, Jakarta (22/6/2020).

Nadia pun mengatakan angka kematian yang disebabkan oleh DBD ini sudah mencapai angka 346 kasus. "Jadi angka kematian kita saat ini sudah mencapai pada angka 346. Dan sama, kurang lebih gambarannya adalah provinsi-provinsi yang tadi, jadi ada Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur yang merupakan juga kasus-kasus tertinggi mengakibatkan kematian," katanya.(Baca juga: Ahli Infeksi Ingatkan Tujuh Tanda Bahaya DBD saat Pandemi Corona)



Dari catatan Kemenkes ada 10 provinsi dengan sebaran kasus DBD tertinggi di Tanah Air yakni Jawa Barat 10.594 kasus, Bali 8.930 kasus, NTT 5.432 kasus, Jawa Timur 5.104 kasus, Lampung 4.983 kasus, NTB 3.796 kasus, DKI Jakarta 3.628 kasus, Jawa Tengah 2.846 kasus, Riau 2.143 kasus, dan Sulawesi Selatan 2.100 kasus.

Nadia mengatakan di tengah pandemi COVID-19 saat ini, ada tiga tantangan untuk pengendalianDBD. "Untuk upaya pengendalian demam berdarah ini kita punya tiga sebenarnya tantangan. Yang pertama adalah karena kegiatan jumantik atau juru pemantau jentik menjadi tidak optimal karena ada social distancing," katanya

Kedua, kata Nadia, adalah kebijakan untuk beraktivitas di rumah membuat bangunan-bangunan ataupun banyak hotel yang ditinggal sehingga ini menjadi tantangan karena banyak sarang nyamuk. "Kita melaksanakan kebijakan kerja dan belajar dari rumah otomatis selama tiga bulan yang lalu gedung-gedung yang banyak sekali yang ditinggal, termasuk musala tempat-tempat ibadah sehingga ini yang menjadi tantangan kita memberantas sarang nyamuk," katanya.(Baca juga: Kemenkes Ingatkan Potensi Ancaman Ganda Kasus DBD dan Virus Corona)

Ketiga, tambah Nadia, adalah karena masyarakat banyak berada di rumah sehingga penting untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk itu di rumah. "Jadi, ini yang menjadi utama tentunya. Kita tidak mengharapkan pada saat kita memasuki masa new normal atau masa damai dengan COVID-19 ini, kita harus pastikan selain tentunya melaksanakan protokol-protokol pencegahan COVID, melakukan pemberantasan sarang nyamuk di sekolah, rumah ibadah, hotel terutama," katanya.

"Apalagi, kalau kita lihat di hotel terutama di Bali itu kasus DBD untuk kabupaten/kota adalah 3 terbesar dan NTB juga 3 terbesar. Dan ini kita melihat mungkin karena sudah terlalu lama aktivitas wisata di sana berhenti sehingga mungkin itu yang akan menjadi perhatian. Karena jumantik juga punya keterbatasan untuk bisa mendatangi rumah-rumah warga," kata Nadia.

Nadia mengatakan, pencegahan penularan DBD paling sederhana dilakukan dengan pemberantasan sarang nyamuk 3M+, yakni Menutup, Menguras, dan Mendaur ulang. "Dan plusnya banyak sekali seperti menggunakan lotion anti nyamuk, menutup jendela rumah dengan kasa nyamuk, dan tidak menggantungkan pakaian," katanya.
(abd)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak