TGB: Kondusifitas Keberagaman adalah Rahmat Allah

Jum'at, 08 April 2022 - 17:21 WIB
loading...
TGB: Kondusifitas Keberagaman adalah Rahmat Allah
Ketua Dewan Nasional Konvensi Rakyat Partai Perindo DR. TGB. Muhammad Zainul Majdi. Foto/Tangkapan layar
A A A
JAKARTA - Ketua Dewan Nasional Konvensi Rakyat Partai Perindo DR. TGB. Muhammad Zainul Majdi mengungkapkan kondusifitas keberagaman yang terjadi di Indonesia setidaknya disebabkan oleh dua pemicu. TGB mencontohkan, kondusifitas itu tidak hanya dirasakan oleh salah satu golongan saja.

Saat bulan Ramadhan, kata TGB, umat Islam bisa dengan tenang melaksanakan ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya. “Bersyukur suasana keberagamaan kita sangat kondusif. Sehingga umat muslim pada bulan suci Ramadhan dan juga pada kesempatan-kesempatan yang lain, bisa melaksanakan tuntunan-tuntunan beragama dengan bebas. Demikian juga non-muslim,” kata TGB dalam Webinar Mingguan Partai Perindo dengan tema ‘Ramadan; Momentum Menguatkan Solidaritas Beragama,’ Jumat (8/4/2022).

Kondisi tersebut, kata dia, bukan sesuatu tanpa sebab. Setidaknya ada dua hal, sehingga terciptanya kondusifitas di tengah keberagaman di Tanah Air itu.

Baca juga: TGB: Keberagaman itu sebagai Aset yang Luar Biasa



“Pertama, tentu karunia dari Allah, dan juga merupakan buah dari kerja kolektif dari seluruh anak bangsa di masa sebelum kita. Semua berkontribusi berusaha membangun masyarakat yang harmonis. Kita bersyukur Indonesia sampai saat ini tetap utuh, tetap satu dan mudah-mudahan demikian seterusnya. Ini bukan hadiah dari siapa-siapa, tapi ini adalah rahmat Allah dan hasil dari ikhtiar untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang majemuk, dengan pluralitas yang sangat autentik,” ujar TGB.

Dia mengatakan keberagaman di Indonesia itu autentik. “Bukan buat-buat. Keberagaman autentik adalah keberagaman yang lahir dari kesadaran,” ucapnya.

Dia menambahkan, keberagaman tak ubahnya sebagai tulang belakang bagi Indonesia. Dia berharap tulang belakang itu akan terus kuat, sehingga keberagaman yang terjadi di Indonesia tetap kondusif, seperti halnya pluralis autentik.

“Indoneisa itu seperti manusia ya. Manusia itu kan punya panca indera, maka yang menjadi backbone dari manusia yang namanya Indonesia itu adalah keberagaman kita. Jadi kesadaran kita untuk hidup bersama, menghormati satu sama lain itu seperti tulang belakang ya. Kalau tulang belakang ini tetap tegak, maka Indonesia juga akan tetap tegak dan bisa berjalan dan bahkan berlari cepat,” pungkasnya.
(rca)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2204 seconds (10.55#12.26)