Bahas Tuberkulosis di Forum G20, Indonesia Ajak Negara-negara Dunia Akhiri Pandemi TB
Rabu, 30 Maret 2022 - 17:52 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kasus Tuberkulosis di Indonesia Tertinggi Ketiga di Dunia
WHO sudah mendeklarasikan pandemi TB di dunia pada 1993. Penanggulangan skala global telah menyelamatkan 66 juta nyawa sejak 2000. Namun pandemi Covid-19 melemahkan sistem ketahanan kesehatan hampir semua negara di dunia dan menyebabkan kematian akibat TB kembali meningkat setelah berhasil ditekan satu dekade terakhir. “Indonesia sebagai presidensi Forum G20 pada tahun ini mendorong agar negara-negara anggota G20 memperkuat arsitektur sistem kesehatan global,” katanya.
Sementara untuk mengadvokasi isu TB, kata Budi, ada tiga hal yang harus dilakukan. Pertama, meningkatkan sistem pelacakan TB. Kedua, penggunaan regimen (jenis) obat TB yang lebih sedikit dan meningkatkan upaya pencegahan TB, dan, ketiga, investasi yang memadai dan berkelanjutan pada riset dan pengembangan vaksin TB yang lebih baik,” kata Budi.
Pengurus Harian Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Fathiyah Isbaniah menambahkan, Tuberkulosis dapat dicegah dan disembuhkan. Hanya dengan memperbaiki jaringan kolaborasi, serta kerja sama multilateral, kerja keras mengeleminasi TB bisa dilakukan. Dengan begitu dunia kesehatan bisa mengembangkan sistem pelacakan, diagnosa, pencegahan, pengobatan, serta vaksinasi TB yang lebih baik lagi.
“Penting bagi Indonesia untuk mengusung tema TB ke dalam Forum G20. Indonesia harus menyumbangkan pemikiran dan aksi atau program nyata agar TB bisa segera tereliminasi di 2030. Sebagai langkah kongkritnya, Indonesia harus memiliki program penanggulangan TB dengan pelaksanaan yang lebih baik supaya angka kasus TB di Indonesia bisa jauh menurun,” terangnya.
Topik bahasan TB di G20 juga dinilai tepat saat ini, mengingat 50% kasus TB dunia teridentifikasi di negara-negara anggota G20 seperti India, China, Indonesia, Afrika Selatan, Brasil, dan Rusia. Indonesia sendiri merupakan negara ketiga dengan beban kasus TB terbanyak di dunia, setelah India dan China.
WHO sudah mendeklarasikan pandemi TB di dunia pada 1993. Penanggulangan skala global telah menyelamatkan 66 juta nyawa sejak 2000. Namun pandemi Covid-19 melemahkan sistem ketahanan kesehatan hampir semua negara di dunia dan menyebabkan kematian akibat TB kembali meningkat setelah berhasil ditekan satu dekade terakhir. “Indonesia sebagai presidensi Forum G20 pada tahun ini mendorong agar negara-negara anggota G20 memperkuat arsitektur sistem kesehatan global,” katanya.
Sementara untuk mengadvokasi isu TB, kata Budi, ada tiga hal yang harus dilakukan. Pertama, meningkatkan sistem pelacakan TB. Kedua, penggunaan regimen (jenis) obat TB yang lebih sedikit dan meningkatkan upaya pencegahan TB, dan, ketiga, investasi yang memadai dan berkelanjutan pada riset dan pengembangan vaksin TB yang lebih baik,” kata Budi.
Pengurus Harian Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Fathiyah Isbaniah menambahkan, Tuberkulosis dapat dicegah dan disembuhkan. Hanya dengan memperbaiki jaringan kolaborasi, serta kerja sama multilateral, kerja keras mengeleminasi TB bisa dilakukan. Dengan begitu dunia kesehatan bisa mengembangkan sistem pelacakan, diagnosa, pencegahan, pengobatan, serta vaksinasi TB yang lebih baik lagi.
“Penting bagi Indonesia untuk mengusung tema TB ke dalam Forum G20. Indonesia harus menyumbangkan pemikiran dan aksi atau program nyata agar TB bisa segera tereliminasi di 2030. Sebagai langkah kongkritnya, Indonesia harus memiliki program penanggulangan TB dengan pelaksanaan yang lebih baik supaya angka kasus TB di Indonesia bisa jauh menurun,” terangnya.
Topik bahasan TB di G20 juga dinilai tepat saat ini, mengingat 50% kasus TB dunia teridentifikasi di negara-negara anggota G20 seperti India, China, Indonesia, Afrika Selatan, Brasil, dan Rusia. Indonesia sendiri merupakan negara ketiga dengan beban kasus TB terbanyak di dunia, setelah India dan China.
Lihat Juga :