Klaim Luhut soal Big Data Penundaan Pemilu 2024, PMII: Impossible

Rabu, 16 Maret 2022 - 20:27 WIB
loading...
Klaim Luhut soal Big...
Direktur Lembaga Kepemiluan dan Demokrasi PB PMII Yayan Hidayat menilai klaim Luhut terkait big data dukungan penundaan Pemilu 2024 adalah hal yang tidak mungkin dan patut dipertanyakan secara akademis. FOTO/DOK.SINDOnews
A A A
JAKARTA - Wacana penundaan pemilu 2024 kembali naik ke permukaan dalam sepekan terakhir setelah Luhut Binsar Pandjaitan mengklaim dirinya memiliki big data berkaitan dengan dukungan netizen terhadap penundaan Pemilu 2024. Menurut Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Marinves) tersebut, big data itu berisi 110 juta pengguna media sosial yang setuju jika Pemilu 2024 ditunda.

Klaim Luhut disampaikan dalam podcast yang diunggah di kanal YouTube Deddy Corbuzier, Jumat (11/3/2022). Dalam pernyataanya, Luhut menjelaskan masyarakat kelas menengah ke bawah menginginkan kondisi sosial ekonomi yang tenang, maka penyelenggaraan Pemilu 2024 diangap dapat menghambat hal tersebut.

Klaim Luhut tersebut kemudian mengundang munculnya berbagai pertanyaan dari publik. Publik menilai data tersebut perlu dibuka dan diuji dalam berbagai metode sehingga tidak menghasilkan kesimpulan yang menyesatkan.



Direktur Lembaga Kepemiluan dan Demokrasi PB PMII Yayan Hidayat menilai klaim Luhut adalah hal yang tidak mungkin dan patut dipertanyakan secara akademis. Bahkan berdasarkan hasil analisisnya, Yayan menemukan fakta yang sangat bertolak belakang dengan apa yang disampaikan Luhut.

"Temuan saya via Drone Emprit, percakapan penundaan Pemilu 2024 dari berbagai media pada 14 Maret 2022 diwarnai dengan sentiment negatif sebanyak 1.186 mentions atau 94,3% sementara hanya 72 mentions atau sekitar 5,7% yang bernada positif," kata Yayan dalam melalui keterangan tertulisnya, Rabu (16/3/2022).

Jika analisis tersebut ditarik dalam periode waktu seminggu belakangan, urai Yayan, maka percakapan berkaitan dengan isu penundaan pemilu didominasi dengan sentimen negatif warganet. Dengan data yang diolah, Yayan mengutarakan bahwa per hari setidaknya ada 1.000 lebih mentions negatif terkait isu penundaan pemilu.

"Jadi kita tentu makin bertanya-tanya, klaim Luhut itu datanya dari mana? Jika tidak jelas, maka ini tentu penyesatan opini publik," kata Yayan.

Baca juga: Puan Lawan Klaim Luhut soal Penundaan Pemilu 2024: Kami Punya Big Data Sendiri

Yayan juga memaparkan hasil analisis lain yang berkaitan dengan pengaruh wacana penundaan pemilu terhadap penyelenggara pemilu terpilih. Menurutnya, jika keyword penundaan pemilu disandingkan dengan keyword KPU maka hasilnya dalam satu minggu belakangan (8-15 Maret 2022) didominasi sentimen negatif.

"Artinya setiap percakapan yang menyoal penundaan pemilu berharap bahwa KPU tidak terpengaruh dengan isu penundaan pemilu dan tetap menjalankan tahapan yang sudah disepakati," ujarnya.

Warganet menganggap dalam wacana yang berkembang, kelemahan KPU dan Bawaslu berpotensi dijadikan alasan untuk melegitimasi penundaan Pemilu 2024. Sebab, KPU dan Bawaslu perlu segera membahas persiapan tahapan Pemilu 2024 guna memberikan kepastian politik.

"Menurut saya penting bagi penyelenggara pemilu untuk segera memastikan tahapan pemilu ini segera berjalan. Jika tidak, kekhawatirannya adalah isu penundaan pemilu dapat berpengaruh terhadap menurunnya kepecayaan publik yang sudah terbangun pada penyelenggara pemilu, utamanya yang baru saja terpilih," kata Yayan.
(abd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Luhut: Bansos ke Depan...
Luhut: Bansos ke Depan Tak Lagi Barang, Diberi Cash Transfer Rp5,4 Juta per Orang
JAM PMII Laporkan Ketum...
JAM PMII Laporkan Ketum GAMKI ke Bareskrim terkait Polemik Ceramah Jusuf Kalla
PTUN Jakarta Kabulkan...
PTUN Jakarta Kabulkan Gugatan Slamet Ariyadi, PB IKA PMII Kubu Fathan Subchi Ajukan Kasasi
PB PMII Tegaskan Tidak...
PB PMII Tegaskan Tidak Terlibat Aksi Demo dan Pelaporan Pandji Pragiwaksono soal Mens Rea
Prabowo Subianto Kunjungi...
Prabowo Subianto Kunjungi Luhut Binsar Pandjaitan di Hari Natal
Siap Jadi Mediator Konflik...
Siap Jadi Mediator Konflik PBNU, IKA PMII Dorong Muktamar Bersama
Chatib Basri Sangkal...
Chatib Basri Sangkal Ditawari Prabowo Posisi Menkeu Gantikan Purbaya
Dasco Ungkap Tujuan...
Dasco Ungkap Tujuan Prabowo Panggil Chatib Basri-Luhut ke Istana
Bareng Luhut Temui Prabowo,...
Bareng Luhut Temui Prabowo, Chatib Basri Buka Suara soal Isu Gantikan Purbaya
Rekomendasi
Krakatau Posco Tanamkan...
Krakatau Posco Tanamkan Budaya Keselamatan kepada Generasi Muda
Hasil Australia Open...
Hasil Australia Open 2026: Alwi Farhan ke 16 Besar, Anthony Ginting Tersingkir
Citra Satelit Tunjukkan...
Citra Satelit Tunjukkan Kehancuran di Pangkalan Udara Israel Akibat Serangan Iran
Berita Terkini
Harumkan Nama Bangsa,...
Harumkan Nama Bangsa, Kolonel Cpn Jimmy Sirait Raih Gelar Master di US Army War College
Pimpinan Lembaga Antirasuah...
Pimpinan Lembaga Antirasuah Diduga Terseret Kasus MBG, Ini Tanggapan KPK
Rupiah dan IHSG Menguat,...
Rupiah dan IHSG Menguat, SBY: Ada Good News untuk Kita Semua
Ketum All Cipayung Nusantara...
Ketum All Cipayung Nusantara Berharap Sidang Kasus Ijazah Jokowi Digelar Terbuka
Tersangka Kasus Ijazah...
Tersangka Kasus Ijazah Jokowi Desak Polisi Buat Kepastian Hukum
Pengacara Roy Suryo:...
Pengacara Roy Suryo: Polisi dan Jaksa Ragu-ragu di Kasus Ijazah Jokowi
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved