Ancaman Inflasi Imbas Invasi Rusia ke Ukraina
Senin, 07 Maret 2022 - 15:18 WIB
loading...
A
A
A
Dampak terhadap Ekonomi Indonesia
Perekonomian Indonesia pada 2021 telah lepas dari resesi dan mampu tumbuh positif di level 3,69%. Capaian pertumbuhan ekonomi ini sekaligus menandakan bahwa fase pemulihan ekonomi nasional berjalan tahun lalu. Pada 2022 target pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah 5,2%, menyiratkan upaya pemulihan ekonomi yang lebih akseleratif sehingga dapat segera menjalankan agenda transformasi ekonomi.
Akan tetapi perang, khususnya Rusia dan Ukraina, yang memicu kenaikan harga minyak dunia lebih tinggi dapat menjadi batu sandungan bagi pemulihan ekonomi nasional dan meningkatkan ketidakpastian dunia bisnis. Lembaga kajian ekonomi dan keuangan, Institute for Development of Economics and Finance (Indef), memproyeksikan ekonomi Indonesia akan turun 0,014% akibat konflik Rusia dan Ukraina yang saat ini tengah berlangsung. Karena itu, penting bagi Indonesia untuk dapat menjaga momentum pemulihan ekonomi di tengah geopolitik global yang memanas dan kenaikan harga minyak dunia.
Selanjutnya ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina yang memanas turut menjadikan harga minyak mentah dunia mulai mendidih, yang akan berimplikasi langsung terhadap belanja subsidi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), mengingat Indonesia sebagai negara importir minyak.
Indonesia memiliki ketergantungan minyak cukup besar terhadap luar negeri, di antaranya 27% bahan bakar minyak (BBM) impor, bahan bakar bensin 56%, dan elpiji 85%. Pada APBN diasumsikan bahwa harga minyak acuan pada 2022 senilai USD63 per barel. Di sisi lain, saat ini tercatat bahwa minyak mentah jenis Brent dan jenis light sweet masing-masing menguat 2,43% dan 1,97% sepanjang pekan. Kini harga minyak mentah dunia Brent sudah menembus di atas USD100 per barrel yang mendorong kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) sebesar USD1.550 per ton dan harga batubara di atas USD350 per ton.
Kenaikan harga minyak secara terus-menerus akibat perang Rusia-Ukraina menjadi sangat dilematis karena secara langsung dapat memicu terjadinya inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat di tengah pemulihan ekonomi nasional pascapandemi Covid-19. Adapun kenaikan harga komoditas dunia: CPO, batubara, serta gas akan mendorong perbaikan pada penerimaan negara.
Perekonomian Indonesia pada 2021 telah lepas dari resesi dan mampu tumbuh positif di level 3,69%. Capaian pertumbuhan ekonomi ini sekaligus menandakan bahwa fase pemulihan ekonomi nasional berjalan tahun lalu. Pada 2022 target pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah 5,2%, menyiratkan upaya pemulihan ekonomi yang lebih akseleratif sehingga dapat segera menjalankan agenda transformasi ekonomi.
Akan tetapi perang, khususnya Rusia dan Ukraina, yang memicu kenaikan harga minyak dunia lebih tinggi dapat menjadi batu sandungan bagi pemulihan ekonomi nasional dan meningkatkan ketidakpastian dunia bisnis. Lembaga kajian ekonomi dan keuangan, Institute for Development of Economics and Finance (Indef), memproyeksikan ekonomi Indonesia akan turun 0,014% akibat konflik Rusia dan Ukraina yang saat ini tengah berlangsung. Karena itu, penting bagi Indonesia untuk dapat menjaga momentum pemulihan ekonomi di tengah geopolitik global yang memanas dan kenaikan harga minyak dunia.
Selanjutnya ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina yang memanas turut menjadikan harga minyak mentah dunia mulai mendidih, yang akan berimplikasi langsung terhadap belanja subsidi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), mengingat Indonesia sebagai negara importir minyak.
Indonesia memiliki ketergantungan minyak cukup besar terhadap luar negeri, di antaranya 27% bahan bakar minyak (BBM) impor, bahan bakar bensin 56%, dan elpiji 85%. Pada APBN diasumsikan bahwa harga minyak acuan pada 2022 senilai USD63 per barel. Di sisi lain, saat ini tercatat bahwa minyak mentah jenis Brent dan jenis light sweet masing-masing menguat 2,43% dan 1,97% sepanjang pekan. Kini harga minyak mentah dunia Brent sudah menembus di atas USD100 per barrel yang mendorong kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) sebesar USD1.550 per ton dan harga batubara di atas USD350 per ton.
Kenaikan harga minyak secara terus-menerus akibat perang Rusia-Ukraina menjadi sangat dilematis karena secara langsung dapat memicu terjadinya inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat di tengah pemulihan ekonomi nasional pascapandemi Covid-19. Adapun kenaikan harga komoditas dunia: CPO, batubara, serta gas akan mendorong perbaikan pada penerimaan negara.
Lihat Juga :