Tetap Waspada Uang Palsu
Sabtu, 05 Maret 2022 - 14:58 WIB
loading...
A
A
A
Secara spesifik, perlindungan aparat terhadap keaslian uang rupiah yang beredar di masyarakat sangat penting, karena selama ini korban terbanyak yang dirugikan adalah masyarakat bawah. Bagaimana tidak, para sindikat upal ini menjadikan pasar tradisional atau pelaku UMKM sebagai target utama peredaran, karena sangat paham karena mereka lah kelompok paling rentan. Karena itu bisa dibayangkan, betapa sedihnya mereka bila hasil transaksi yang tidak seberapa tersebut tertukar dengan upal.Bukan hanya keuntungan yang sirna, modal pun musnah. Tentu sangat memprihatinkan!
Pihak Bank Indonesia (BI) sebenarnya sudah melakukan mitigasi sangat ketat agar uang rupiah yang beredar di masyarakat tidak mudah dipalsukan. Untuk rupiah, ada 11 fitur yang bisa mendeteksi keaslian. Namun, sebagian fitur dimaksud baru bisa diverifikasi di laboratorium. Sedangkan masyarakat hanya bisa melakukan tiga langkah verifikasi, yakni 3 D atau dilihat, diraba dan diterawang. Namun, rendahnya literasi masyarakat masih menjadi kendala untuk mempersempit ruang gerak sindikat.
Langkah BI mendorong implementasi QRIS (Quick Response Code Indonesia Standard) yang berujud uang digital untuk menggantikan uang tunai sebagai langkah strategis. Namun fakta saat ini, penggunaan uang tunai saat ini masih dominan.Apalagi di kalangan pelaku UMKM di daerah.
Karena itulah, BI dan institusi terkait perlu turun langsung ke pasar-pasar di berbagai pelosok Tanah Air dan sentra-sentra UMKM untuk menyosialisasikan pelaksanaan 3 D agar mereka tidak menjadi sasaran sindikat upal. Bila perlu, otoritas terkait juga membuat alat deteksi sederhana dan mudah dioperasikan sebagai laboratorium mini yang bisa mendeteksi secanggih apapun upal.
Pihak Bank Indonesia (BI) sebenarnya sudah melakukan mitigasi sangat ketat agar uang rupiah yang beredar di masyarakat tidak mudah dipalsukan. Untuk rupiah, ada 11 fitur yang bisa mendeteksi keaslian. Namun, sebagian fitur dimaksud baru bisa diverifikasi di laboratorium. Sedangkan masyarakat hanya bisa melakukan tiga langkah verifikasi, yakni 3 D atau dilihat, diraba dan diterawang. Namun, rendahnya literasi masyarakat masih menjadi kendala untuk mempersempit ruang gerak sindikat.
Langkah BI mendorong implementasi QRIS (Quick Response Code Indonesia Standard) yang berujud uang digital untuk menggantikan uang tunai sebagai langkah strategis. Namun fakta saat ini, penggunaan uang tunai saat ini masih dominan.Apalagi di kalangan pelaku UMKM di daerah.
Karena itulah, BI dan institusi terkait perlu turun langsung ke pasar-pasar di berbagai pelosok Tanah Air dan sentra-sentra UMKM untuk menyosialisasikan pelaksanaan 3 D agar mereka tidak menjadi sasaran sindikat upal. Bila perlu, otoritas terkait juga membuat alat deteksi sederhana dan mudah dioperasikan sebagai laboratorium mini yang bisa mendeteksi secanggih apapun upal.
(ynt)
Lihat Juga :