Indonesia Perlu Belajar Banyak dari Perang Ukraina Vs Rusia
Rabu, 02 Maret 2022 - 14:06 WIB
loading...
Tentara Garda Nasional Ukraina bersiaga di Kiev tengah, setelah Rusia melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap Ukraina, 25 Februari 2022. Foto/Reuters
A
A
A
JAKARTA - Indonesia dinilai perlu belajar banyak dari konflik antara Ukraina dengan Rusia saat ini. Sebab, posisi Indonesia saat ini dinilai seperti Rusia.
“Kita mesti belajar banyak dari posisi Ukraina dan Rusia hari ini, karena Indonesia sama posisinya. Ukraina karena dia besar, sisi barat dan sisi timur tuh punya perbedaan,“ ujar Pengamat Pertahanan dan Militer Connie Rahakundini Bakrie dikutip dari Kanal YouTube Helmy Yahya Bicara pada Rabu (2/3/2022).
Connie mengungkapkan orang Ukraina di sisi barat lebih merasa Eropa, sedangkan di sisi timur merasa lebih ke Rusia. Kemudian, kata dia, kelompok pemberontak Ukraina berada di sisi timur.
Baca juga: Perang Rusia Vs Ukraina: 6 WNI dan 1 WNA Dievakuasi ke Polandia
“Bedanya apa kita sama Rusia hari ini? Kita dikelilingi FPDA, ada Singapura, ada Malaysia, ada Australia,” kata Connie.
Adapun FPDA atau Five Power Defense Arrangement merupakan sebuah pakta pertahanan yang beranggotakan Inggris, Australia, Selandia Baru, Malaysia, dan Singapura. “Kita dikelilingi The Quad, ada India, ada Jepang, ada Australia lagi, ada UK, kita dikelilingi lagi AUKUS, nah ini kan semua sebenarnya root-nya sama,” imbuhnya.
Diketahui, The Quad adalah empat negara di Kawasan Indo-Pasifik yakni Australia, India, Jepang, dan Amerika Serikat. Sedangkan AUKUS merupakan sebuah perjanjian keamanan trilateral antara Amerika Serikat, Inggris, dan Australia.
Baca: Ini 5 Senjata Anti-tank Ukraina untuk Cegat Pasukan Rusia
“Jadi, kalau mereka bergabung, ya artinya kita dikepung. Kita lihat aja kita, di sini Australia, di situ Filipina, di sini siapa kan coba posisinya?” ucapnya.
Selain itu, kata dia, masyarakat di Indonesia bagian timur lebih merasa sebagai keluarga pasifik atau ras Melanesia. “Menurut saya, kalau ini kita biarkan akan terjadi seperti nanti di Ukraina di sisi timur, apalagi di sini ada AUKUS ada Australia,” tuturnya.
Connie menilai alasan invasi Rusia ke Ukraina untuk memberikan pelajaran ke Amerika Serikat dan Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (North Atlantic Treaty Organization / NATO). “Menurut aku ya sederhananya, memberi pelajaran kepada Amerika Serikat dan NATO. Bahwa dunia ini enggak boleh di-run oleh satu orang saja atau satu negara saja atau satu kelompok saja,” kata dia.
Baca: Misteri Rusia Tak Gunakan Jet Tempur Canggih Gempur Ukraina, Ini Jawabannya
Menurut dia, kekesalan Rusia pun wajar. Sebab, kata dia, sudah sejak lama Rusia melarang Ukraina gabung ke NATO. “2008 Ukraina dan Georgia diundang NATO untuk masuk, nah di situ dia (Rusia, red) sudah bilang jangan, dan dia bilang 2008 Amerika Serikat lu bisa bayangin enggak kalau gue masuk ke Meksiko lalu naruh rudal gue di Kanada, perasaan lu seperti apa kata Putin, itu yang gue rasain kalau lu ambil Ukraina, makanya Ukraina jadi hotspot,” ungkapnya.
“Kita mesti belajar banyak dari posisi Ukraina dan Rusia hari ini, karena Indonesia sama posisinya. Ukraina karena dia besar, sisi barat dan sisi timur tuh punya perbedaan,“ ujar Pengamat Pertahanan dan Militer Connie Rahakundini Bakrie dikutip dari Kanal YouTube Helmy Yahya Bicara pada Rabu (2/3/2022).
Connie mengungkapkan orang Ukraina di sisi barat lebih merasa Eropa, sedangkan di sisi timur merasa lebih ke Rusia. Kemudian, kata dia, kelompok pemberontak Ukraina berada di sisi timur.
Baca juga: Perang Rusia Vs Ukraina: 6 WNI dan 1 WNA Dievakuasi ke Polandia
“Bedanya apa kita sama Rusia hari ini? Kita dikelilingi FPDA, ada Singapura, ada Malaysia, ada Australia,” kata Connie.
Adapun FPDA atau Five Power Defense Arrangement merupakan sebuah pakta pertahanan yang beranggotakan Inggris, Australia, Selandia Baru, Malaysia, dan Singapura. “Kita dikelilingi The Quad, ada India, ada Jepang, ada Australia lagi, ada UK, kita dikelilingi lagi AUKUS, nah ini kan semua sebenarnya root-nya sama,” imbuhnya.
Diketahui, The Quad adalah empat negara di Kawasan Indo-Pasifik yakni Australia, India, Jepang, dan Amerika Serikat. Sedangkan AUKUS merupakan sebuah perjanjian keamanan trilateral antara Amerika Serikat, Inggris, dan Australia.
Baca: Ini 5 Senjata Anti-tank Ukraina untuk Cegat Pasukan Rusia
“Jadi, kalau mereka bergabung, ya artinya kita dikepung. Kita lihat aja kita, di sini Australia, di situ Filipina, di sini siapa kan coba posisinya?” ucapnya.
Selain itu, kata dia, masyarakat di Indonesia bagian timur lebih merasa sebagai keluarga pasifik atau ras Melanesia. “Menurut saya, kalau ini kita biarkan akan terjadi seperti nanti di Ukraina di sisi timur, apalagi di sini ada AUKUS ada Australia,” tuturnya.
Connie menilai alasan invasi Rusia ke Ukraina untuk memberikan pelajaran ke Amerika Serikat dan Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (North Atlantic Treaty Organization / NATO). “Menurut aku ya sederhananya, memberi pelajaran kepada Amerika Serikat dan NATO. Bahwa dunia ini enggak boleh di-run oleh satu orang saja atau satu negara saja atau satu kelompok saja,” kata dia.
Baca: Misteri Rusia Tak Gunakan Jet Tempur Canggih Gempur Ukraina, Ini Jawabannya
Menurut dia, kekesalan Rusia pun wajar. Sebab, kata dia, sudah sejak lama Rusia melarang Ukraina gabung ke NATO. “2008 Ukraina dan Georgia diundang NATO untuk masuk, nah di situ dia (Rusia, red) sudah bilang jangan, dan dia bilang 2008 Amerika Serikat lu bisa bayangin enggak kalau gue masuk ke Meksiko lalu naruh rudal gue di Kanada, perasaan lu seperti apa kata Putin, itu yang gue rasain kalau lu ambil Ukraina, makanya Ukraina jadi hotspot,” ungkapnya.
(rca)
Lihat Juga :