Balitbang Demokrat Sebut 29 Juta Suara Terbuang jika Ambang Batas Parlemen Dinaikkan
Senin, 15 Juni 2020 - 08:25 WIB
loading...
A
A
A
Dengan tingginya ambang batas parlemen, dapat menimbulkan problem keberagaman politik, lanjut Firman. Adanya tokoh-tokoh potensial, yang punya komitmen tegas dan jelas dalam memperbaiki kehidupan politik, dan memunculkan alternatif ide, tidak berhasil masuk parlemen karena parpolnya tersungkur oleh ambang batas parlemen yang terlalu tinggi. (Baca juga: Masyumi Reborn Buka Kemungkinan Beraliansi dengan Partai Baru Amien Rais ).
Lanjut Firman, peningkatan ambang batas parlemen merupakan pembatasan hak dan kedaulatan rakyat untuk berkumpul dan membuat institusi bernama partai politik untuk memperjuangkan idealismenya. "Ini karena mereka dihantui oleh ambang batas parlemen yang semakin tinggi."
Firman curiga, mengingat watak dasar penguasa hanya ingin serba cepat saja, mau bernegosiasi dengan semakin sedikit pihak di parlemen setiap ada agenda yang ingin diperjuangkan, dan mungkin adanya kelompok-kelompok kritis yang berasal dari partai-partai kecil, yang bisa mengganggu agendanya, sehingga perlu direduksi keberadaannya di parlemen. "Padahal, dinamika di pemerintahan itu sederhananya tentang how to get power dan how to maintain the power, bukan asal cepat."
Dengan demikian, lanjut Firman, parliamentary threshold yang tinggi tidak saja akan menghapuskan keberagaman politik dan hak rakyat yang berujung pada apatisme, namun juga cenderung mengekalkan konservatisme dan penguatan demokrasi elitis.
Lanjut Firman, peningkatan ambang batas parlemen merupakan pembatasan hak dan kedaulatan rakyat untuk berkumpul dan membuat institusi bernama partai politik untuk memperjuangkan idealismenya. "Ini karena mereka dihantui oleh ambang batas parlemen yang semakin tinggi."
Firman curiga, mengingat watak dasar penguasa hanya ingin serba cepat saja, mau bernegosiasi dengan semakin sedikit pihak di parlemen setiap ada agenda yang ingin diperjuangkan, dan mungkin adanya kelompok-kelompok kritis yang berasal dari partai-partai kecil, yang bisa mengganggu agendanya, sehingga perlu direduksi keberadaannya di parlemen. "Padahal, dinamika di pemerintahan itu sederhananya tentang how to get power dan how to maintain the power, bukan asal cepat."
Dengan demikian, lanjut Firman, parliamentary threshold yang tinggi tidak saja akan menghapuskan keberagaman politik dan hak rakyat yang berujung pada apatisme, namun juga cenderung mengekalkan konservatisme dan penguatan demokrasi elitis.
(zik)
Lihat Juga :