Satgas: 24% Penularan Covid-19 di Populasi Ditularkan oleh OTG

Kamis, 10 Februari 2022 - 19:41 WIB
loading...
Satgas: 24% Penularan Covid-19 di Populasi Ditularkan oleh OTG
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 mengungkapkan Orang Tanpa Gejala (OTG) menyumbangkan sekitar 24% dari penularan Covid-19. Foto/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mengungkapkan dari studi ilmiah di China bahwa Orang Tanpa Gejala (OTG) menyumbangkan sekitar 24% dari penularan Covid-19 yang terjadi di populasi.

“Menurut studi di China, orang tanpa gejala dapat menyumbangkan sekitar 24% dari keseluruhan penularan yang terjadi di populasi,” kata Wiku, Kamis (10/2/2022).

Wiku mengatakan tantangan yang harus dihadapi dalam penanganan Covid-19 saat ini bahwa dengan teknologi yang ada, kemampuan orang positif termasuk OTG untuk menulari orang lain belum dapat diukur dengan pasti.

Baca juga: Positif Covid-19 di Indonesia Bertambah 40.618 Kasus

“Metode testing seperti PCR yang dapat mengukur CT value sendiri hanya sekadar mengukur jumlah virus yang terdapat di dalam tubuh seseorang, bukan jumlah virus yang mampu ditularkan dari orang tersebut ke orang lain,” ungkap Wiku.

Hal yang paling penting, kata Wiku, adalah terdapat kecenderungan sikap kehati-hatian yang lebih rendah pada kasus tidak bergejala daripada yang bergejala karena orang yang tampak sakit akan cenderung mengisolasikan dirinya. “Dengan fakta ini, sikap yang paling bijak adalah menerapkan prokes 3M secara menyeluruh baik kepada orang yang sehat maupun sakit,” paparnya.

Baca juga: Hadapi Lonjakan Covid-19, Kapolri Tekankan Percepat Akselerasi Vaksinasi

Sementara itu, kata Wiku, strategi lain yang dapat lakukan dalam menanggulangi penularan yang semakin masif termasuk mengantisipasi kasus tanpa gejala yaitu dengan cara meningkatkan rasio kontak erat atau jumlah orang yang diidentifikasi oleh suspek kasus.

“Perlu diperhatikan juga, ambang waktu yang tepat dan metode testing yang lebih akurat untuk metode testing sejak pertama kali terpapar untuk menjamin hasil tes yang keluar benar-benar akurat,” katanya.

Berikutnya kata Wiku, adalah surveilans aktif khususnya pada tempat-tempat yang berisiko tinggi terhadap penularan atau berisiko penularan seperti rumah sakit, kantor, atau sekolah. “Kemudian, memprioritaskan vaksinasi kepada kelompok rentan seperti lansia, komorbid, atau orang yang belum divaksin sama sekali untuk mencegah kematian yang tinggi,” ucapnya.

(cip)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1829 seconds (10.177#12.26)