Plus Minus Duet Anies - AHY, Berharap Efek Ekor Jas
Jum'at, 04 Februari 2022 - 05:26 WIB
loading...
A
A
A
Umam menilai jika duet Anies-AHY dipromosikan, tentunya Partai Demokrat berada di sana sebagai salah satu sponsor utama koalisi, pembentuk 20 persen presidential threshold. “Itu bekal awal yang baik, karena tokoh parpol yang memiliki elektabilitas dan mesin politik memadai hanya dua, yakni Prabowo (Gerindra) dan AHY (Partai Demokrat), kecuali PDIP yang bisa mengusung pasangan capres-cawapres sendiri,” ujarnya.
Dia menambahkan, dengan adanya Partai Demokrat sebagai sponsor koalisi dan juga duet, kemungkinan akan adanya partai politik lain dari garis ideologi nasionalis dan khususnya dari garis ideologi politik Islam yang akan merapat, untuk mendapatkan efek ekor jas (coat tail effect). “Efek ekor jas itu terbentuk jika partai politik pengusung nama capres-cawapres memiliki chemistry dan paradigma yang sama, sehingga tidak ada kegamangan yang menjadi sumber slit ticket voting,” katanya.
Baca: PPP Dinilai Lebih Strategis Masuk Gerbong Anies-AHY, Arsul Sani Bilang Begini
Selanjutnya, kata dia, selama Anies tidak mendeklarasikan diri masuk ke partai politik, maka Anies bisa menjadi pemersatu bagi partai-partai pengusungnya. “Terlebih lagi, di balik duet Anies-AHY, ada 2 tokoh politik besar yang bisa menjadi joined forces, yakni SBY-JK, mengingat AHY adalah anak biologis dan ideologis SBY dan JK adalah mentor politik Anies Baswedan. Jika duet ini digarap dengan baik, bisa saja duet Anies-AHY mengulang kemenangan SBY-JK sebagaimana terjadi di Pemilu 2004 lalu,” ungkapnya.
Terlebih lagi, lanjut dia, sebagaimana riset yang saat ini sedang dijalankan oleh Institute for Democracy and Strategic Affairs (IndoStrategic) tentang kekuatan politik yang dimunculkan oleh public mood, hipotesa pihaknya menunjukkan public mood politik rakyat di 2024 mengharapkan perubahan. “Dalam konteks ini, duet Anies-AHY bisa membangun gelombang kekuatan yang menjadi sisi beda dari pemerintahan sekarang, yang dinilai sejumlah kalangan sering meng-ignore suara rakyat,” jelasnya.
Dia mengatakan, tim sukses pasangan Anies-AHY bisa menggarap fenomena perlawanan rakyat dalam pernolakan UU Ciptaker, UU KPK, pembentukan BRIN, sejumlah proyek infrastruktur yang membebani fiskal negara hingga pemindahan Ibu Kota Negara (IKN). Menurut dia, jika public mood akan perubahan itu digarap dengan baik, rakyat akan menginginkan pasangan capres-cawapres yang justru bukan merepresentasikan pemerintah saat ini.
Dia menambahkan, dengan adanya Partai Demokrat sebagai sponsor koalisi dan juga duet, kemungkinan akan adanya partai politik lain dari garis ideologi nasionalis dan khususnya dari garis ideologi politik Islam yang akan merapat, untuk mendapatkan efek ekor jas (coat tail effect). “Efek ekor jas itu terbentuk jika partai politik pengusung nama capres-cawapres memiliki chemistry dan paradigma yang sama, sehingga tidak ada kegamangan yang menjadi sumber slit ticket voting,” katanya.
Baca: PPP Dinilai Lebih Strategis Masuk Gerbong Anies-AHY, Arsul Sani Bilang Begini
Selanjutnya, kata dia, selama Anies tidak mendeklarasikan diri masuk ke partai politik, maka Anies bisa menjadi pemersatu bagi partai-partai pengusungnya. “Terlebih lagi, di balik duet Anies-AHY, ada 2 tokoh politik besar yang bisa menjadi joined forces, yakni SBY-JK, mengingat AHY adalah anak biologis dan ideologis SBY dan JK adalah mentor politik Anies Baswedan. Jika duet ini digarap dengan baik, bisa saja duet Anies-AHY mengulang kemenangan SBY-JK sebagaimana terjadi di Pemilu 2004 lalu,” ungkapnya.
Terlebih lagi, lanjut dia, sebagaimana riset yang saat ini sedang dijalankan oleh Institute for Democracy and Strategic Affairs (IndoStrategic) tentang kekuatan politik yang dimunculkan oleh public mood, hipotesa pihaknya menunjukkan public mood politik rakyat di 2024 mengharapkan perubahan. “Dalam konteks ini, duet Anies-AHY bisa membangun gelombang kekuatan yang menjadi sisi beda dari pemerintahan sekarang, yang dinilai sejumlah kalangan sering meng-ignore suara rakyat,” jelasnya.
Dia mengatakan, tim sukses pasangan Anies-AHY bisa menggarap fenomena perlawanan rakyat dalam pernolakan UU Ciptaker, UU KPK, pembentukan BRIN, sejumlah proyek infrastruktur yang membebani fiskal negara hingga pemindahan Ibu Kota Negara (IKN). Menurut dia, jika public mood akan perubahan itu digarap dengan baik, rakyat akan menginginkan pasangan capres-cawapres yang justru bukan merepresentasikan pemerintah saat ini.
Lihat Juga :