Mustofa Nahrawardaya: Next Time Watak Arteria Dahlan Harus Dihindari
Kamis, 20 Januari 2022 - 05:04 WIB
loading...
A
A
A
Jadi, kata dia, suasana rapat komisi DPR tidak terlalu formal mesti pakai bahasa Indonesia dengan benar. “Sekali-sekali ada jokes maupun humor dari mitra maupun anggota komisi, biasa saja. Jadi, Mas Arteria Dahlan saya rasa terlalu lebay menanggapi adanya mitra yang menggunakan bahasa daerah Sunda,” tuturnya.
Menurut dia, tuntutan Arteria kepada Jaksa Agung Sanitiar Burhanudin agar memecat seorang Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) yang berbahasa Sunda di forum rapat sungguh membuat rakyat ketakutan. “Seolah DPR itu kaku, dan tidak ada kompromi serta mudah marah dan emosi mirip Arteria. Tentu ini tidak benar,” ungkapnya.
Maka itu, kata Mustofa, sebaiknya Arteria datang ke Jawa Barat, temui masyarakat Sunda dan meminta maaf. “Ini lebih elok. Ke depan, tidaklah baik meniru gaya Arteria sebagai wakil rakyat. Kita sedang memerangi watak sentimen SARA, maka next time watak Arteria harus dihindari,” jelasnya.
Baca: Paguyuban Pasundan Tuntut Arteria Dahlan Minta Maaf Secara Terbuka
Dia menuturkan, kearifan lokal jangan dibunuh di kantor wakil rakyat. “Justru sebaliknya, harus dikembangkan menjadi kearifan nasional. Karena bahasa daerah itu bagian dari kearifan lokal yang memiliki nilai keadaban tinggi,” pungkasnya.
Menurut dia, tuntutan Arteria kepada Jaksa Agung Sanitiar Burhanudin agar memecat seorang Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) yang berbahasa Sunda di forum rapat sungguh membuat rakyat ketakutan. “Seolah DPR itu kaku, dan tidak ada kompromi serta mudah marah dan emosi mirip Arteria. Tentu ini tidak benar,” ungkapnya.
Maka itu, kata Mustofa, sebaiknya Arteria datang ke Jawa Barat, temui masyarakat Sunda dan meminta maaf. “Ini lebih elok. Ke depan, tidaklah baik meniru gaya Arteria sebagai wakil rakyat. Kita sedang memerangi watak sentimen SARA, maka next time watak Arteria harus dihindari,” jelasnya.
Baca: Paguyuban Pasundan Tuntut Arteria Dahlan Minta Maaf Secara Terbuka
Dia menuturkan, kearifan lokal jangan dibunuh di kantor wakil rakyat. “Justru sebaliknya, harus dikembangkan menjadi kearifan nasional. Karena bahasa daerah itu bagian dari kearifan lokal yang memiliki nilai keadaban tinggi,” pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :