Ibu Kota Negara Pindah, Masih Menarikkah Pilkada DKI Jakarta 2024?
Selasa, 18 Januari 2022 - 20:29 WIB
loading...
Kawasan Monas, Jakarta. Pengamat politik dari Universitas Nasional (Unas) Robi Nurhadi menilai Pilkada DKI Jakarta 2024 tetap menarik meski Ibu Kota Negara pindah ke Kaltim. Foto/Dok SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Ibu Kota Negara akan pindah ke Kalimantan Timur. Namanya pun sudah disiapkan: Nusantara. Apakah pindahnya IKN membuat Pilkada DKI Jakarta 2024 tak menarik lagi?
Menurut pengamat politik dari Universitas Nasional (Unas) Robi Nurhadi, Pilkada DKI Jakarta 2024 masih tetap akan menarik bagi semua kalangan. Ada tiga hal yang mendasari penilaiannya tersebut.
Pertama, kata Robi, Jakarta faktualnya pada saat pilkada nanti masih memegang posisi bargaining kotanya ibu kota. Meski mungkin secara legal boleh jadi akan berubah menjadi Nusantara di Kalimantan Timur, itu baru perubahan yang sifatnya legal. "Dalam tataran fungsional, DKI tetap akan memainkan peran sebagai ibu kota," kata Robi kepada SINDOnews, Selasa (18/1/2022) malam.
Kedua, lanjut Robi, dari sisi ekonomi, di banyak negara kota-kota eks ibu kota atau memiliki rasa ibu kota tetap menarik karena perputaran uangnya. Sebutlah di Malaysia ada Kuala Lumpur, di Amerika ada New York, dan di Australia ada Sydney.
"Kontestasi menuju pemimpin politik di satu daerah tetap saja akan melihat sisi-sisi yang sifatnya dilihat sebagai suatu keuntungan ekonomi, bukan hanya keuntungan politik," katanya.
Menurut pengamat politik dari Universitas Nasional (Unas) Robi Nurhadi, Pilkada DKI Jakarta 2024 masih tetap akan menarik bagi semua kalangan. Ada tiga hal yang mendasari penilaiannya tersebut.
Pertama, kata Robi, Jakarta faktualnya pada saat pilkada nanti masih memegang posisi bargaining kotanya ibu kota. Meski mungkin secara legal boleh jadi akan berubah menjadi Nusantara di Kalimantan Timur, itu baru perubahan yang sifatnya legal. "Dalam tataran fungsional, DKI tetap akan memainkan peran sebagai ibu kota," kata Robi kepada SINDOnews, Selasa (18/1/2022) malam.
Kedua, lanjut Robi, dari sisi ekonomi, di banyak negara kota-kota eks ibu kota atau memiliki rasa ibu kota tetap menarik karena perputaran uangnya. Sebutlah di Malaysia ada Kuala Lumpur, di Amerika ada New York, dan di Australia ada Sydney.
"Kontestasi menuju pemimpin politik di satu daerah tetap saja akan melihat sisi-sisi yang sifatnya dilihat sebagai suatu keuntungan ekonomi, bukan hanya keuntungan politik," katanya.
Lihat Juga :