Gus Yahya Ungkap Cerita Pendirian NU Usai Kekhalifahan Turki Runtuh
Selasa, 21 Desember 2021 - 17:57 WIB
loading...
A
A
A
"Ketika runtuh, kemudian muncul revitalisasi, moderninasi Islam. Lalu muncul kerajaan baru di Hijaz, Arab Saudi yang dipimpin Abdul Aziz bin Abdul Rahman Al Saud," katanya.
Kemudian, jelas Gus Yahya, salah satu pendiri NU KH Wahab Chasbullah yang sempat berada di Arab menyatakan bahwa Arab Saudi tidak bisa dijadikan model, sehingga akhirnya bersama-sama mendirikan NU ini.
Baca juga: Jokowi-Ma'ruf Amin Dijadwalkan Hadiri Pembukaan Muktamar NU di Lampung Besok
"Kesimpulan deduktif saya, pendirian NU ini adalah upaya menemukan format peradaban baru. Pasti skalanya global. Maka lambang yang dipilih adalah lambang jagad, bola dunia," katanya.
Atas dasar itu, Gus Yahya yakin, bahwa memang NU didirikan sebagai upaya merintis, dan menemukan format peradaban yang baru untuk menggantikan format lama yang runtuh. "Mandat NU adalah mandat peradaban. Sebuah mandat raksasa," katanya.
Dia pun mengajak, kader-kader NU harus berani berpikir soal ini. Sebab jika tidak, nanti hanya berebut remeh temeh seperti yang selama ini terjadi. "Maka mulai sekarang, kita harus membangun mentalitas dan mindset untuk berpikir soal mandat peradaban itu," ujarnya.
Kemudian, jelas Gus Yahya, salah satu pendiri NU KH Wahab Chasbullah yang sempat berada di Arab menyatakan bahwa Arab Saudi tidak bisa dijadikan model, sehingga akhirnya bersama-sama mendirikan NU ini.
Baca juga: Jokowi-Ma'ruf Amin Dijadwalkan Hadiri Pembukaan Muktamar NU di Lampung Besok
"Kesimpulan deduktif saya, pendirian NU ini adalah upaya menemukan format peradaban baru. Pasti skalanya global. Maka lambang yang dipilih adalah lambang jagad, bola dunia," katanya.
Atas dasar itu, Gus Yahya yakin, bahwa memang NU didirikan sebagai upaya merintis, dan menemukan format peradaban yang baru untuk menggantikan format lama yang runtuh. "Mandat NU adalah mandat peradaban. Sebuah mandat raksasa," katanya.
Dia pun mengajak, kader-kader NU harus berani berpikir soal ini. Sebab jika tidak, nanti hanya berebut remeh temeh seperti yang selama ini terjadi. "Maka mulai sekarang, kita harus membangun mentalitas dan mindset untuk berpikir soal mandat peradaban itu," ujarnya.
Lihat Juga :