Diundang The Swedish Academy, Denny JA Masuk Nominasi Peraih Nobel Sastra
Senin, 20 Desember 2021 - 13:45 WIB
loading...
A
A
A
Dengan begitu, Swedish Academy, The Nobel Committee tanpa rintangan bahasa dapat membaca atau menonton puluhan karya puisi esai dalam bahasa Inggris. Ketiga, puisi esai semakin diakui dunia sebagai genre baru puisi. Sangat jarang sekali tercipta genre baru dalam puisi. Puisi esai yang diciptakan Denny JA kini sudah masuk dalam kamus resmi bahasa Indonesia. “Saat ini sudah terbentuk pula komunitas puisi esai ASEAN yang berpusat di Malaysia. Datuk Jasni Matlani menjadi presiden komunitas puisi esai ASEAN,” ucapnya.
Keempat, yang unik, terutama dalam karya puisi esai Denny JA, yang menyuarakan isu Hak Asasi Manusia (HAM) di kawasan negara dengan penduduk Muslim terbesar dunia yakni Indonesia. Puisi esai tak hanya seksi dari sisi genre baru, tapi juga pesan hak asasi manusia.
”Komunitas puisi esai segera bersidang memutuskan siapa yang dicalonkan. Sejauh ini Denny JA calon yang paling kuat. Jika akhirnya Denny JA yang dicalonkan, maka Denny JA menjadi sastrawan Indonesia kedua yang pernah secara resmi dicalonkan dengan prosedur resmi melalui undangan panitia nobel, setelah Pramudya Ananta Toer,” ujarnya.
Menanggapi hal itu dirinya resmi dicalonkan nobel sastra mewakili Indonesia, bahkan Asia Tenggara, Denny JA tak ingin banyak berkomentar. ”Pencalonan nobel sastra bagus untuk diplomasi budaya Indonesia. Namun saya berkarya karena saya mencintai gagasan, tidak berorientasi penghargaan,” ucapnya,
Keempat, yang unik, terutama dalam karya puisi esai Denny JA, yang menyuarakan isu Hak Asasi Manusia (HAM) di kawasan negara dengan penduduk Muslim terbesar dunia yakni Indonesia. Puisi esai tak hanya seksi dari sisi genre baru, tapi juga pesan hak asasi manusia.
”Komunitas puisi esai segera bersidang memutuskan siapa yang dicalonkan. Sejauh ini Denny JA calon yang paling kuat. Jika akhirnya Denny JA yang dicalonkan, maka Denny JA menjadi sastrawan Indonesia kedua yang pernah secara resmi dicalonkan dengan prosedur resmi melalui undangan panitia nobel, setelah Pramudya Ananta Toer,” ujarnya.
Menanggapi hal itu dirinya resmi dicalonkan nobel sastra mewakili Indonesia, bahkan Asia Tenggara, Denny JA tak ingin banyak berkomentar. ”Pencalonan nobel sastra bagus untuk diplomasi budaya Indonesia. Namun saya berkarya karena saya mencintai gagasan, tidak berorientasi penghargaan,” ucapnya,
(cip)
Lihat Juga :