Katib Aam PBNU Ajak Mahasiswa PTKI Tangkal Paham Radikal
Jum'at, 10 Desember 2021 - 15:06 WIB
loading...
A
A
A
"Ini ancaman terhadap format tatanan dunia pasca Perang Dunia II, jika tata dunia ini runtuh, maka Indonesia juga runtuh," kata Yahya dalam keterangan tertulis dikutip, Jumat (10/12/2021).
Tokoh NU ini mengingatkan peserta ada dua hal yang harus digarisbawahi untuk menanggulangi potensi radikalisme di Indonesia. "Pertama, kita tidak bisa pisahkan, antara problem radikalisme trans nasional dengan problem radikalisme domestik yang muncul di Indonesia," kata Yahya.
Baca juga: Anwar Abbas ke Menpan RB: Mana Lebih Berbahaya Radikalisme atau KKN?
Kedua, perlu dikaji mendalam hingga akarnya bahwa radikalisme lebih berorientasi pada kepentingan politik dibandingkan agama. "Saya ingin tekankan disini, lihat realitas sebetulnya bahwa kita harus melihat radikalisme ini sebagai pilihan politik dengan cara menguliti atau membedah konsekuensi realistisnya. Itu lebih kita butuhkan daripada kita berdebat soal rujukan dalil, karena ini dasarnya adalah politik," katanya.
Dalam kesempatan itu, Yahya juga mengungkapkan dirinya tidak rela jika Indonesia harus bubar sebagaimana negara Timur Tengah seperti Suriah, karena adanya kepentingan kelompok yang berupaya menciptakan kerusakan luar biasa dengan memanfaatkan teknologi militer.
Untuk diketahui, Diklatpimnas II PTKI berlangsung sepekan dari 6-12 Desember 2021 yang dilakukan secara daring dan luring. Selain Gus Yahya, narasumber lain yang hadir adalah Kepala BPIP Yudian Wahyudi, Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron, Menpora Zainuddin Amali, dan Deputi IV Kepala Staf Kepresidenan Bidang informasi dan Komunikasi Politik, Juri Ardiantoro.
Tokoh NU ini mengingatkan peserta ada dua hal yang harus digarisbawahi untuk menanggulangi potensi radikalisme di Indonesia. "Pertama, kita tidak bisa pisahkan, antara problem radikalisme trans nasional dengan problem radikalisme domestik yang muncul di Indonesia," kata Yahya.
Baca juga: Anwar Abbas ke Menpan RB: Mana Lebih Berbahaya Radikalisme atau KKN?
Kedua, perlu dikaji mendalam hingga akarnya bahwa radikalisme lebih berorientasi pada kepentingan politik dibandingkan agama. "Saya ingin tekankan disini, lihat realitas sebetulnya bahwa kita harus melihat radikalisme ini sebagai pilihan politik dengan cara menguliti atau membedah konsekuensi realistisnya. Itu lebih kita butuhkan daripada kita berdebat soal rujukan dalil, karena ini dasarnya adalah politik," katanya.
Dalam kesempatan itu, Yahya juga mengungkapkan dirinya tidak rela jika Indonesia harus bubar sebagaimana negara Timur Tengah seperti Suriah, karena adanya kepentingan kelompok yang berupaya menciptakan kerusakan luar biasa dengan memanfaatkan teknologi militer.
Untuk diketahui, Diklatpimnas II PTKI berlangsung sepekan dari 6-12 Desember 2021 yang dilakukan secara daring dan luring. Selain Gus Yahya, narasumber lain yang hadir adalah Kepala BPIP Yudian Wahyudi, Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron, Menpora Zainuddin Amali, dan Deputi IV Kepala Staf Kepresidenan Bidang informasi dan Komunikasi Politik, Juri Ardiantoro.
(abd)
Lihat Juga :