New Normal Jadi Peluang Dunia Konstruksi di Revolusi Industri 5.0
Jum'at, 05 Juni 2020 - 19:25 WIB
loading...
A
A
A
Menurut mantan Wakil Ketua Komisi II DPR ini, New Normal dapat dijadikan momentum pengejawantahan konsep society 5.0 tersebut, utamanya pada iklim infrastruktur di Indonesia. “Karena infrastruktur lah yang paling memungkinkan untuk memadukan SDM dengan teknologi 4.0,” imbuhnya.
Mantan Menteri Pembangunan Desa Tertinggal ini memaparkan pemanfaatan teknologi informasi pada bidang infrastruktur di era New Normal ini seharusnya tidak hanya dalam kegiatan internal perkantoran tetapi juga dalam pengelolaan pekerjaan infrastruktur. Di antaranya, digitalisasi pengelolaan jalan tol dengan cara memanfaatkan teknologi digital yang diberlakukan di seluruh cabang tol dengan meminimalisir pertemuan tatap muka, baik itu rapat, absensi hingga pengisian kartu tol elektronik.
Kemudian, lanjut dia, proses lelang pengadaan barang dan jasa untuk proyek-proyek infrastruktur sudah seharusnya 100% dilakukan dengan cara e-Procurement guna menghindari berkumpulnya banyak orang di satu tempat. Administrasi paperless juga dengan e-procurement 100%, baik itu surat-menyurat, dokumen, pembayaran pajak dan administrasi lainnya.
“Pemanfaatan teknologi perlu juga dikembangkan pada pembangunan infrastruktur yang dikerjakan pada medan yang sulit dijangkau atau membahayakan bagi tenaga kerja manusia, dengan mengembangkan teknologi drone yang dikendalikan dari pusat kendali data,” ujarnya.
Lalu, sambung Lukman, pelibatan tenaga kerja tidak langsung dengan pengembangan precast yang diproduksi oleh UMKM binaan BUMN kekaryaan maupun Kementerian PUPR. Pelibatan dan serapan tenaga kerja tidak hanya pada pekerjaan utama konstruksinya tetapi pada industri penunjangnya.
Mantan Menteri Pembangunan Desa Tertinggal ini memaparkan pemanfaatan teknologi informasi pada bidang infrastruktur di era New Normal ini seharusnya tidak hanya dalam kegiatan internal perkantoran tetapi juga dalam pengelolaan pekerjaan infrastruktur. Di antaranya, digitalisasi pengelolaan jalan tol dengan cara memanfaatkan teknologi digital yang diberlakukan di seluruh cabang tol dengan meminimalisir pertemuan tatap muka, baik itu rapat, absensi hingga pengisian kartu tol elektronik.
Kemudian, lanjut dia, proses lelang pengadaan barang dan jasa untuk proyek-proyek infrastruktur sudah seharusnya 100% dilakukan dengan cara e-Procurement guna menghindari berkumpulnya banyak orang di satu tempat. Administrasi paperless juga dengan e-procurement 100%, baik itu surat-menyurat, dokumen, pembayaran pajak dan administrasi lainnya.
“Pemanfaatan teknologi perlu juga dikembangkan pada pembangunan infrastruktur yang dikerjakan pada medan yang sulit dijangkau atau membahayakan bagi tenaga kerja manusia, dengan mengembangkan teknologi drone yang dikendalikan dari pusat kendali data,” ujarnya.
Lalu, sambung Lukman, pelibatan tenaga kerja tidak langsung dengan pengembangan precast yang diproduksi oleh UMKM binaan BUMN kekaryaan maupun Kementerian PUPR. Pelibatan dan serapan tenaga kerja tidak hanya pada pekerjaan utama konstruksinya tetapi pada industri penunjangnya.
Lihat Juga :