Jawab Sindiran AHY Cs, Kubu Moeldoko: Kembalikan Demokrat kepada Rakyat Harga Mati
Senin, 01 November 2021 - 10:20 WIB
loading...
A
A
A
"Pernyataan itu bertolak belakang dengan praktik yang dilakukan AHY. AHY dan kubunya menggunakan tangan besi ala Hitler dalam mengelola partai dan membuat AD/ART yang sarat oligarki, tirani, dan otokrasi sehingga komitmen kuat menjaga iklim demokrasi yang kondusif dan sehat itu hanya pepesan kosong dan hipokrit demokrasi," jelas Rahmad.
Kubu AHY juga menyebut tidak alergi dengan perbedaan pendapat dalam membangun bangsa dan negara ini. "Namun faktanya, mereka sangat alergi dengan perbedaan dan menganggap partai adalah milik pribadi atau kelompok tertentu. Hal itu terlihat dari upaya mereka mengubah sejarah pendirian Partai Demokrat dengan merubah AD/ART partai dan memasukkan nama SBY sebagai pendiri dan menghilangkan 98 nama pendiri asli Partai Demokrat," terang Rahmad.
Terkait pernyataan kubu AHY yang menyebut loyalis Anas lebih berani dari kubu Moeldoko, Rahmad melihat ini sebagai tanda kubu AHY tidak mengerti dan tidak paham esensi demokratisasi pasca Reformasi, yakni menolak oligarki, tirani, KKN, otokrasi, dan totaliter. Baca juga: PKN Akan Ditertawakan Demokrat Jika Tak Lolos Jadi Peserta Pemilu
"Partai itu bukan soal berani atau tidak tapi soal demokratisasi yang sedang diperjuangkan. Bagi kubu Moeldoko, mengembalikan kepemilikan Partai Demokrat kepada rakyat adalah harga mati. Adalah fardhu ain (wajib bagi setiap warga negara) untuk menghapus praktik oligarki, tirani, otokrasi, dan totaliter ala Hitler di dalam Partai Demokrat. Itulah jihad politiknya Pak Moeldoko," pungkas Rahmad.
Kubu AHY juga menyebut tidak alergi dengan perbedaan pendapat dalam membangun bangsa dan negara ini. "Namun faktanya, mereka sangat alergi dengan perbedaan dan menganggap partai adalah milik pribadi atau kelompok tertentu. Hal itu terlihat dari upaya mereka mengubah sejarah pendirian Partai Demokrat dengan merubah AD/ART partai dan memasukkan nama SBY sebagai pendiri dan menghilangkan 98 nama pendiri asli Partai Demokrat," terang Rahmad.
Terkait pernyataan kubu AHY yang menyebut loyalis Anas lebih berani dari kubu Moeldoko, Rahmad melihat ini sebagai tanda kubu AHY tidak mengerti dan tidak paham esensi demokratisasi pasca Reformasi, yakni menolak oligarki, tirani, KKN, otokrasi, dan totaliter. Baca juga: PKN Akan Ditertawakan Demokrat Jika Tak Lolos Jadi Peserta Pemilu
"Partai itu bukan soal berani atau tidak tapi soal demokratisasi yang sedang diperjuangkan. Bagi kubu Moeldoko, mengembalikan kepemilikan Partai Demokrat kepada rakyat adalah harga mati. Adalah fardhu ain (wajib bagi setiap warga negara) untuk menghapus praktik oligarki, tirani, otokrasi, dan totaliter ala Hitler di dalam Partai Demokrat. Itulah jihad politiknya Pak Moeldoko," pungkas Rahmad.
(kri)
Lihat Juga :