Kopaskhas TNI AU Genap 74 Tahun, Ini Sejarah dan Deretan Kehebatannya
Minggu, 17 Oktober 2021 - 18:13 WIB
loading...
A
A
A
Dibekali dengan kemampuan komplit, Paskhas muncul menjadi satuan elite yang tangguh. Pashas dengan baret jingganya menjadi andalan dalam sejumlah operasi khusus. Tak heran, jika pasukan khusus ini disegani sejumlah negara-negara di dunia. Bahkan, beberapa panglima NATO mengungkapkan jika Indonesia menjadi salah satu negara yang patut diwaspadai karena mempunyai pasukan khusus yang selalu disimpan yaitu Paskhas.
Pernyataan itu disampaikan mantan panglima-panglima NATO saat ditanya salah seorang mahasiswa di Amerika. “Tidak ada Markas pasukan kecil seperti ini (Paskhas). Denjaka dan Kopasus tidak memiliki markas dengan landasan udara sendiri,” ujar Panglima TNI ketika itu Jenderal TNI Gatot Nurmantyo di Mako Korpaskhas, Margahayu, Bandung.
Sejumlah bukti yang menunjukkan ketangguhan Paskhas d antaranya ketika terjadi insiden di Bandara Komoro, menjelang lepasnya Provinsi Timor Timur (TimTim). Saat itu 80 prajurit Paskhas nyaris kontak tembak dengan pasukan Australia yang tergabung dalam International Force for East Timor (Interfet).
Insiden berawal saat pesawat C-130 Hercules yang membawa pasukan Interfet Australia mendarat di Bandara Komoro. Saat keluar dari pesawat, mereka langsung membentuk formasi tempur, membentuk perimeter pertahanan. Tindakan pasukan Australia ini dianggap berlebihan membuat prajurit Paskhas yang tengah mengendalikan dan mengoperasikan bandara terheran-heran. Sebab situasi di Timtim saat itu relatif aman, konfik hanya terjadi di hutan.
Situasi semakin tegang. Sebanyak 80 prajurit Kopaskhas sudah bersiap mengokang senjata, bersiaga bila konflik dengan Interfet, termasuk pasukan Gurkha yang tergabung di dalamnya benar-benar terjadi. Namun ketika pasukan Interfet mengetahui jika situasi bandara aman-aman saja dan tidak ada milisi bersenjata. Mereka baru menyadari jika informasi intelijen mengenai kondisi Tim-Tim sudah dikuasai milisi bersenjata tidak benar.
Ketegangan kembali terjadi ketika Pangkoopsau II Marsda TNI Ian Santosa tiba di Bandara Komoro. Saat turun dari pesawat C-130 Hercules TNI AU dengan dikawal sejumlah pasukan Paskhas bersenjata lengkap pasukan Interfet tiba-tiba langsung menodongkan senjata kepada rombongan Marsda TNI Ian Santosa, yang mereka anggap sebagai ancaman. Padahal, sejatinya Marsda TNI Ian Santosa datang untuk berkoordinasi dengan komandan Interfet Mayjen Peter Cosgrove. Sontak, prajurit Paskhas langsung bereaksi keras. Mereka pun juga menodongkan senjata kepada tentara Interfet.
Baca juga: Diikuti Prajurit Paskhas, Pendidikan Prajurit Komando Angkatan 105 Ditutup Danjen Kopassus
Pernyataan itu disampaikan mantan panglima-panglima NATO saat ditanya salah seorang mahasiswa di Amerika. “Tidak ada Markas pasukan kecil seperti ini (Paskhas). Denjaka dan Kopasus tidak memiliki markas dengan landasan udara sendiri,” ujar Panglima TNI ketika itu Jenderal TNI Gatot Nurmantyo di Mako Korpaskhas, Margahayu, Bandung.
Sejumlah bukti yang menunjukkan ketangguhan Paskhas d antaranya ketika terjadi insiden di Bandara Komoro, menjelang lepasnya Provinsi Timor Timur (TimTim). Saat itu 80 prajurit Paskhas nyaris kontak tembak dengan pasukan Australia yang tergabung dalam International Force for East Timor (Interfet).
Insiden berawal saat pesawat C-130 Hercules yang membawa pasukan Interfet Australia mendarat di Bandara Komoro. Saat keluar dari pesawat, mereka langsung membentuk formasi tempur, membentuk perimeter pertahanan. Tindakan pasukan Australia ini dianggap berlebihan membuat prajurit Paskhas yang tengah mengendalikan dan mengoperasikan bandara terheran-heran. Sebab situasi di Timtim saat itu relatif aman, konfik hanya terjadi di hutan.
Situasi semakin tegang. Sebanyak 80 prajurit Kopaskhas sudah bersiap mengokang senjata, bersiaga bila konflik dengan Interfet, termasuk pasukan Gurkha yang tergabung di dalamnya benar-benar terjadi. Namun ketika pasukan Interfet mengetahui jika situasi bandara aman-aman saja dan tidak ada milisi bersenjata. Mereka baru menyadari jika informasi intelijen mengenai kondisi Tim-Tim sudah dikuasai milisi bersenjata tidak benar.
Ketegangan kembali terjadi ketika Pangkoopsau II Marsda TNI Ian Santosa tiba di Bandara Komoro. Saat turun dari pesawat C-130 Hercules TNI AU dengan dikawal sejumlah pasukan Paskhas bersenjata lengkap pasukan Interfet tiba-tiba langsung menodongkan senjata kepada rombongan Marsda TNI Ian Santosa, yang mereka anggap sebagai ancaman. Padahal, sejatinya Marsda TNI Ian Santosa datang untuk berkoordinasi dengan komandan Interfet Mayjen Peter Cosgrove. Sontak, prajurit Paskhas langsung bereaksi keras. Mereka pun juga menodongkan senjata kepada tentara Interfet.
Baca juga: Diikuti Prajurit Paskhas, Pendidikan Prajurit Komando Angkatan 105 Ditutup Danjen Kopassus
Lihat Juga :