Perlu Kolaborasi Semua Elemen dalam Mengatasi Stunting di Indonesia
Sabtu, 09 Oktober 2021 - 16:29 WIB
loading...
A
A
A
"Dengan aktif menginisiasi kerja sama berbagai pemangku kepentingan yang merupakan pendekatan pentahelix, diharapkan nantinya dapat membantu percepatan pelaksanaan program percepatan penurunan stunting terlebih di tengah kondisi pandemi dan paska pandemi Covid-19," jelasnya.
Peneliti senior SEAMEO RECFON dan Country Lead AASH Indonesia, Umi Fahmida menyampaikan AASH adalah studi inter-disiplin yang dilaksanakan di tiga negara yakni, India, Indonesia, dan Senegal di mana Lombok Timur menjadi lokasi studi di Indonesia. AASH bertujuan untuk mempelajari tipologi faktor-faktor yang membentuk jalur menuju stunting (stunting typology) dengan pendekatan anak secara utuh (whole child approach) termasuk komponen fisik (gizi, epigenetik, kesehatan saluran cerna), lingkungan pengasuhan, pendidikan dan pangan. ”Dari studi ini diharapkan akan dihasilkan alat pendukung kebijakan (decision support tool) nasional dan lokal yang relevan dalam upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting,” katanya.
Ketua Umum Nasyiatul Aisyiyah Diyah Puspitarini mengatakan masyarakat sipil merupakan salah satu pemeran penting dalam percepatan pengurangan stunting. Dia mengklaim Lazismu ikut berperan dalam menangani stunting di Indonesia. "Kontribusi program Lazismu sebagai salah satu program pencegahan stunting bertajuk Peningkatan Kemampuan Gizi Seimbang Seluruh Indonesia di 34 Provinsi dan 462 Kabupaten/Kota," jelasnya.
Kondisi pandemi Covid-19 diperkirakan akan meningkatkan jumlah anak stunting di dunia. Oleh karenanya pencegahan dan penurunan stunting memerlukan penanganan interdisiplin serta keterlibatan berbagai pihak. “Selaras dengan konvergensi stunting yang melibatkan multi-sektor, tim peneliti dari berbagai disiplin ilmu, elemen pemerintah, non-pemerintah dan masyarakat semuanya mempunyai peran dalam melawan stunting. Itulah semangat yang ingin dikuatkan dalam peringatan Action Against Stunting Day ini,” ucapnya.
Peneliti senior SEAMEO RECFON dan Country Lead AASH Indonesia, Umi Fahmida menyampaikan AASH adalah studi inter-disiplin yang dilaksanakan di tiga negara yakni, India, Indonesia, dan Senegal di mana Lombok Timur menjadi lokasi studi di Indonesia. AASH bertujuan untuk mempelajari tipologi faktor-faktor yang membentuk jalur menuju stunting (stunting typology) dengan pendekatan anak secara utuh (whole child approach) termasuk komponen fisik (gizi, epigenetik, kesehatan saluran cerna), lingkungan pengasuhan, pendidikan dan pangan. ”Dari studi ini diharapkan akan dihasilkan alat pendukung kebijakan (decision support tool) nasional dan lokal yang relevan dalam upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting,” katanya.
Ketua Umum Nasyiatul Aisyiyah Diyah Puspitarini mengatakan masyarakat sipil merupakan salah satu pemeran penting dalam percepatan pengurangan stunting. Dia mengklaim Lazismu ikut berperan dalam menangani stunting di Indonesia. "Kontribusi program Lazismu sebagai salah satu program pencegahan stunting bertajuk Peningkatan Kemampuan Gizi Seimbang Seluruh Indonesia di 34 Provinsi dan 462 Kabupaten/Kota," jelasnya.
Kondisi pandemi Covid-19 diperkirakan akan meningkatkan jumlah anak stunting di dunia. Oleh karenanya pencegahan dan penurunan stunting memerlukan penanganan interdisiplin serta keterlibatan berbagai pihak. “Selaras dengan konvergensi stunting yang melibatkan multi-sektor, tim peneliti dari berbagai disiplin ilmu, elemen pemerintah, non-pemerintah dan masyarakat semuanya mempunyai peran dalam melawan stunting. Itulah semangat yang ingin dikuatkan dalam peringatan Action Against Stunting Day ini,” ucapnya.
(cip)
Lihat Juga :