Kisah Hidup Jenderal Sudirman: Dari Guru hingga Menjadi Panglima Besar pada Usia 29 Tahun
Jum'at, 08 Oktober 2021 - 05:40 WIB
loading...
A
A
A
Ketika menjadi guru di HIS Muhammadiyah, Cilacap, Sudirman mendapat gaji sebesar f.3 atau setara dengan tiga gulden Belanda dalam satu bulan. Dalam mengajar, Sudirman selalu menyelipkan nilai-nilai dan semangat nasionalisme kepada muridnya lewat cerita Revolusi Prancis.
Kecerdasannya dalam mengajar membuatnya disukai oleh murid-muridnya. Para pengajar yang ada di HIS Muhammadiyah juga memberi kepercayaan padanya untuk naik jabatan menjadi kepala sekolah.
Meskipun memiliki bakat menjadi tenaga pendidik, Sudirman tidak memiliki ijazah sebagai guru karena hanya lulus sekolah menengah pertama, MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) Wiworotomo. Untuk mengatasi kekurangannya di jenjang pendidikan ini, Sudirman memilih belajar dari guru-gurunya di MULO Wiworotomo.
Baca juga: Karomah dan Siasat Jenderal Sudirman Lolos dari Kepungan Belanda serta Pengkhianatan
Setelah itu, Sudirman terpaksa melepaskan pekerjaannya sebagai kepala sekolah karena situasi yang tidak memungkinkan yakni adanya serangan Jepang. Ia beralih menjadi ketua sector LBD (Lucht Besherming Dienst) atau Dinas Perlindungan Bahaya Udara yang dibentuk oleh Belanda.
Saat pendudukan Jepang, Sudirman menjadi anggota Syu Sangikai (dewan perwakilan), anggota Jawa Hokokai Karesidenan Banyumas, serta mengikuti pelatihan Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor pada tahun 1944. Setelahnya, Sudirman dinobatkan menjadi daidancho (komandan batalion) Daidan III di Kroya, Banyumas.
Kecerdasannya dalam mengajar membuatnya disukai oleh murid-muridnya. Para pengajar yang ada di HIS Muhammadiyah juga memberi kepercayaan padanya untuk naik jabatan menjadi kepala sekolah.
Meskipun memiliki bakat menjadi tenaga pendidik, Sudirman tidak memiliki ijazah sebagai guru karena hanya lulus sekolah menengah pertama, MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) Wiworotomo. Untuk mengatasi kekurangannya di jenjang pendidikan ini, Sudirman memilih belajar dari guru-gurunya di MULO Wiworotomo.
Baca juga: Karomah dan Siasat Jenderal Sudirman Lolos dari Kepungan Belanda serta Pengkhianatan
Setelah itu, Sudirman terpaksa melepaskan pekerjaannya sebagai kepala sekolah karena situasi yang tidak memungkinkan yakni adanya serangan Jepang. Ia beralih menjadi ketua sector LBD (Lucht Besherming Dienst) atau Dinas Perlindungan Bahaya Udara yang dibentuk oleh Belanda.
Saat pendudukan Jepang, Sudirman menjadi anggota Syu Sangikai (dewan perwakilan), anggota Jawa Hokokai Karesidenan Banyumas, serta mengikuti pelatihan Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor pada tahun 1944. Setelahnya, Sudirman dinobatkan menjadi daidancho (komandan batalion) Daidan III di Kroya, Banyumas.
Lihat Juga :