Pancasila Jadi Mata Pelajaran, BPIP Sebut Tinggal Tunggu Persetujuan Jokowi
Jum'at, 01 Oktober 2021 - 05:14 WIB
loading...
Kepala BPIP Yudian Wahyudi menyebut pihaknya sedang membahas terkait mata pelajaran Pancasila di seluruh jenjang pendidikan Indonesia bersama Menko PMK Muhadjir Effendy. Foto/Tangkapan Layar Youtube Bamusi TV
A
A
A
JAKARTA - Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi menyebut pihaknya sedang membahas terkait mata pelajaran Pancasila di seluruh jenjang pendidikan Indonesia bersama Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy. Menurutnya, rencana tersebut tinggal menunggu keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
"Sedang kami bahas sama Pak Menko, yaitu akan menjadikan kembali Pancasila sebagai mata pelajaran dari PAUD hingga ke Perguruan Tinggi. Ini tinggal tunggu teken Presiden," ujar Yudian dalam akun Youtube Bamusi TV, Kamis (30/9/2021). Baca juga: Eki Pitung: Saatnya Negara Beri Penghormatan Khusus Pada Hari Kesaktian Pancasila
Menurut Yudian, mata pelajaran Pancasila nantinya akan menggunakan metode buku yang terdiri dari 70% teori dan 30% praktik. Adapun yang dimaksud teroritis termasuk siapa penggagas Pancasila, kapan dan di mana rapat perumusannya dan lain sebagainya.
“Nanti termasuk peraturan perundang-undangannya, sehingga menjadi Pancasila misalnya sebagai falsafah negara, Pancasila sebagai ideologi negara, Pancasila sebagai pemersatu, itu tanda petik kognitif atau pengetahuan teoritis,” tuturnya.
Kemudian, 30% praktik dalam buku tersebut berisi keteladanan dari tokoh sejarah hingga masyarakat yang tetap menjunjung tinggi nilai Pancasila. Tak lain tujuannya agar anak didik meneladani dan meniru keteladanan para tokoh.
Lebih lanjut, buku mata pelajaran Pancasila nantinya tidak hanya tokoh seperti Bung Karno dan Bung Hatta saja. Melainkan yokoh masyarakat di tiap daerah akan ditampilkan dalam buku tersebut.
“Jadi keteladanan nanti di dalam buku ini lebih ditampilkan pada lokalitas masing-masing. Jadi kalau orang di Maluku nanti baca Pancasila itu tokoh-tokohnya banyak yang dari Maluku, yang akan mereka bicarakan di dalam kelas. Bagaimana orang Maluku muncul sebagai seorang Pancasilais. Nanti di Aceh juga begitu,” terangnya. Baca juga: Membaca Narasi Sejarah yang Mengerdilkan Peran Soekarno sebagai Penggagas Pancasila
“Walaupun seperti yang saya katakan, tetap dari atas ada tokoh-tokoh utama itu dalam sejarah ada, yang diharapkan juga kita adil tapi tidak menutup pintu bagi yang belum muncul. Jadi teladan Pancasila akan selalu hadir karena itu menyangkut detik nafas kehidupan kita. Jadi siapapun di situ bisa jadi teladan Pancasila,” tutupnya.
"Sedang kami bahas sama Pak Menko, yaitu akan menjadikan kembali Pancasila sebagai mata pelajaran dari PAUD hingga ke Perguruan Tinggi. Ini tinggal tunggu teken Presiden," ujar Yudian dalam akun Youtube Bamusi TV, Kamis (30/9/2021). Baca juga: Eki Pitung: Saatnya Negara Beri Penghormatan Khusus Pada Hari Kesaktian Pancasila
Menurut Yudian, mata pelajaran Pancasila nantinya akan menggunakan metode buku yang terdiri dari 70% teori dan 30% praktik. Adapun yang dimaksud teroritis termasuk siapa penggagas Pancasila, kapan dan di mana rapat perumusannya dan lain sebagainya.
“Nanti termasuk peraturan perundang-undangannya, sehingga menjadi Pancasila misalnya sebagai falsafah negara, Pancasila sebagai ideologi negara, Pancasila sebagai pemersatu, itu tanda petik kognitif atau pengetahuan teoritis,” tuturnya.
Kemudian, 30% praktik dalam buku tersebut berisi keteladanan dari tokoh sejarah hingga masyarakat yang tetap menjunjung tinggi nilai Pancasila. Tak lain tujuannya agar anak didik meneladani dan meniru keteladanan para tokoh.
Lebih lanjut, buku mata pelajaran Pancasila nantinya tidak hanya tokoh seperti Bung Karno dan Bung Hatta saja. Melainkan yokoh masyarakat di tiap daerah akan ditampilkan dalam buku tersebut.
“Jadi keteladanan nanti di dalam buku ini lebih ditampilkan pada lokalitas masing-masing. Jadi kalau orang di Maluku nanti baca Pancasila itu tokoh-tokohnya banyak yang dari Maluku, yang akan mereka bicarakan di dalam kelas. Bagaimana orang Maluku muncul sebagai seorang Pancasilais. Nanti di Aceh juga begitu,” terangnya. Baca juga: Membaca Narasi Sejarah yang Mengerdilkan Peran Soekarno sebagai Penggagas Pancasila
“Walaupun seperti yang saya katakan, tetap dari atas ada tokoh-tokoh utama itu dalam sejarah ada, yang diharapkan juga kita adil tapi tidak menutup pintu bagi yang belum muncul. Jadi teladan Pancasila akan selalu hadir karena itu menyangkut detik nafas kehidupan kita. Jadi siapapun di situ bisa jadi teladan Pancasila,” tutupnya.
(kri)
Lihat Juga :