BKKBN Terus Edukasi Masyarakat Cetak Usia Produktif Berkualitas
Minggu, 31 Mei 2020 - 09:42 WIB
loading...
A
A
A
Peserta webinar yang mengikuti siaran langsung dari Cisco Webex sebanyak sekitar 400 peserta, kanal Facebook sebanyak 4000 peserta, sedangkan Youtube sebanyak 1.390 peserta. Sehingga total keseluruhan yang mengikuti webinar sebanyak kurang lebih 5.790 peserta.
Hasto menekankan bahwa saat ini Indonesia sedang mengalami bonus demografi, bahkan akan segera berlalu beberapa tahun lagi. BKKBN bersama Instansi terkait, pakar dan mitra kerja terus saling membantu menciptakan SDM berkualitas. "Untuk memetik Bonus Demografi harus memenuhi dua syarat yaitu tidak hanya dari segi kuantitas namun juga kualitas dari segi kuantitas, sehingga salah satu untuk menciptakan SDM berkualitas adalah kesehatan reproduksinya," ujar Hasto.
Berdasarkan data Evaluasi Demographic and Health Surveys (DHS) yang dilakukan oleh WHO pada tahun 2004 memperkirakan bahwa lebih dari 186 juta WUS yang pernah menikah di negara berkembang mengalami infertilitas, atau setara dengan 1 dari setiap 4 PUS usia 15-49 tahun.
Di Indonesia, dari 67 juta pasangan usia subur, 10-15 persen atau 8 juta mengalami gangguan infertilitas atau kesuburan yang membuat mereka sulit mendapatkan anak (Profil Kesehatan Indonesia, 2012). Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), prevalensi infertilitas di Indonesia meningkat setiap tahun. Pada 2013, tingkat prevalensi adalah 15-25% dari semua pasangan (Riskesdas, 2013). Berdasarkan data dari Perhimpunan Fertilisasi In Vitro Indonesia (Perfitri) pada tahun 2017, terdapat 1.712 pria dan 2.055 wanita yang mengalami infertilitas.
Selain itu, WHO memperkirakan sekitar 50-80 juta pasutri (1 dari 7 pasangan) memiliki masalah infertilitas dan setiap tahun akan muncul 2 juta pasutri dengan masalah infertilitas. Di Indonesia angka kejadian infertilitas diperkirakan terjadi pada lebih dari 20% pasutri. Di Indonesia angka kejadian infertilitas pada perempuan usia 30 – 34 tahun 15%, pada usia 35-39 tahun 30%, dan pada usia 40-44 tahun adalah 55%.
Hasto menekankan bahwa saat ini Indonesia sedang mengalami bonus demografi, bahkan akan segera berlalu beberapa tahun lagi. BKKBN bersama Instansi terkait, pakar dan mitra kerja terus saling membantu menciptakan SDM berkualitas. "Untuk memetik Bonus Demografi harus memenuhi dua syarat yaitu tidak hanya dari segi kuantitas namun juga kualitas dari segi kuantitas, sehingga salah satu untuk menciptakan SDM berkualitas adalah kesehatan reproduksinya," ujar Hasto.
Berdasarkan data Evaluasi Demographic and Health Surveys (DHS) yang dilakukan oleh WHO pada tahun 2004 memperkirakan bahwa lebih dari 186 juta WUS yang pernah menikah di negara berkembang mengalami infertilitas, atau setara dengan 1 dari setiap 4 PUS usia 15-49 tahun.
Di Indonesia, dari 67 juta pasangan usia subur, 10-15 persen atau 8 juta mengalami gangguan infertilitas atau kesuburan yang membuat mereka sulit mendapatkan anak (Profil Kesehatan Indonesia, 2012). Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), prevalensi infertilitas di Indonesia meningkat setiap tahun. Pada 2013, tingkat prevalensi adalah 15-25% dari semua pasangan (Riskesdas, 2013). Berdasarkan data dari Perhimpunan Fertilisasi In Vitro Indonesia (Perfitri) pada tahun 2017, terdapat 1.712 pria dan 2.055 wanita yang mengalami infertilitas.
Selain itu, WHO memperkirakan sekitar 50-80 juta pasutri (1 dari 7 pasangan) memiliki masalah infertilitas dan setiap tahun akan muncul 2 juta pasutri dengan masalah infertilitas. Di Indonesia angka kejadian infertilitas diperkirakan terjadi pada lebih dari 20% pasutri. Di Indonesia angka kejadian infertilitas pada perempuan usia 30 – 34 tahun 15%, pada usia 35-39 tahun 30%, dan pada usia 40-44 tahun adalah 55%.
Lihat Juga :