Pendudukan Jepang di Indonesia Menyimpan Sejumlah Sejarah
Kamis, 02 September 2021 - 06:50 WIB
loading...
A
A
A
Adapun propaganda yang disampaikan adalah menyatakan bahwa Jepang sebagai saudara tua bangsa Indonesia yang memiliki keinginan untuk membuat kawasan persemakmuran di wilayah Asia Pasifik. Maka itu, Gerakan 3A dilahirkan, yakni Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia, dan Jepang Pemimpin Asia.
Kemudian, Jepang melibatkan pemuda Indonesia dalam pasukan pembela tanah air (PETA). Pemerintahan Jepang pada 3 Oktober 1943 berdasar Osamu Seirei Nomor 44 Tahun 1943 membentuk PETA yang terdiri dari orang-orang Indonesia untuk menghadapi Sekutu di medan tempur selama Perang Dunia II berlangsung.
Selanjutnya, Jepang pada 1 Maret 1944 membentuk Jawa Hokokai dengan pemimpin tertinggi Gunseikan dan penasihat utama Soekarno. Sedangkan Jawa Hokokai bertujuan menghimpun tenaga lahir dan batin rakyat Indonesia dengan dasar semangat kebaktian. Jawa Hokokai menjadi organisasi induk gabungan dari kumpulan profesi seperti Himpunan Kebaktian Dokter, Himpunan Kebaktian Pendidik, Organisasi wanita dan Pusat budaya.
Karena daerah pendudukannya begitu luas, Jepang membutuhkan tenaga kerja untuk membangun sarana pertahanan, seperti lapangan udara, gudang bawah tanah, jalan raya dan jembatan. Mereka mengambil para pekerjanya dari desa-desa di Pulau Jawa yang padat melalui sistem kerja paksa Romusha.
Sistem kerja paksa yang sangat kejam dan tidak berprikemanusiaan itu sejak 1942 hingga 1945, untuk bekerja di wilayah Indonesia serta Asia Tenggara seperti Birma, Muangthai, Vietnam, Malaysia, dan Serawak. Awalnya, Romusha dilakukan secara sukarela dengan tempat kerja tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Karena terdesak dalam perang Pasifik, pengerahan tenaga kerja mulai disertai dengan paksaan. Setiap kepala keluarga diwajibkan menyerahkan seorang anak lelakinya untuk berangkat menjadi romusha. Romusha diperlakukan kasar dengan pekerjaan sangat berat, sementara kebutuhan makanan tidak cukup. Akibatnya, banyak diantara romusha meninggal di tempat kerja karena sakit, kekurangan makan, kecapaian atau kecelakaan.
Lalu, Jepang pada akhir 1944 mulai terdesak dalam Perang Asia Timur Raya. Bayang-bayang kekalahan Jepang mulai nampak lantaran semua garis pertahanan Jepang di Pasifik sudah hancur oleh serangan sekutu. Pimpinan pemerintah pendudukan Jepang di Jawa, Letnan Jendral Kumakici Harada pada 1 Maret 1945 dalam situasi kritis mengumumkan pembentukan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dengan anggota sebanyak 60 orang
Kemudian, Jepang melibatkan pemuda Indonesia dalam pasukan pembela tanah air (PETA). Pemerintahan Jepang pada 3 Oktober 1943 berdasar Osamu Seirei Nomor 44 Tahun 1943 membentuk PETA yang terdiri dari orang-orang Indonesia untuk menghadapi Sekutu di medan tempur selama Perang Dunia II berlangsung.
Selanjutnya, Jepang pada 1 Maret 1944 membentuk Jawa Hokokai dengan pemimpin tertinggi Gunseikan dan penasihat utama Soekarno. Sedangkan Jawa Hokokai bertujuan menghimpun tenaga lahir dan batin rakyat Indonesia dengan dasar semangat kebaktian. Jawa Hokokai menjadi organisasi induk gabungan dari kumpulan profesi seperti Himpunan Kebaktian Dokter, Himpunan Kebaktian Pendidik, Organisasi wanita dan Pusat budaya.
Karena daerah pendudukannya begitu luas, Jepang membutuhkan tenaga kerja untuk membangun sarana pertahanan, seperti lapangan udara, gudang bawah tanah, jalan raya dan jembatan. Mereka mengambil para pekerjanya dari desa-desa di Pulau Jawa yang padat melalui sistem kerja paksa Romusha.
Sistem kerja paksa yang sangat kejam dan tidak berprikemanusiaan itu sejak 1942 hingga 1945, untuk bekerja di wilayah Indonesia serta Asia Tenggara seperti Birma, Muangthai, Vietnam, Malaysia, dan Serawak. Awalnya, Romusha dilakukan secara sukarela dengan tempat kerja tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Karena terdesak dalam perang Pasifik, pengerahan tenaga kerja mulai disertai dengan paksaan. Setiap kepala keluarga diwajibkan menyerahkan seorang anak lelakinya untuk berangkat menjadi romusha. Romusha diperlakukan kasar dengan pekerjaan sangat berat, sementara kebutuhan makanan tidak cukup. Akibatnya, banyak diantara romusha meninggal di tempat kerja karena sakit, kekurangan makan, kecapaian atau kecelakaan.
Lalu, Jepang pada akhir 1944 mulai terdesak dalam Perang Asia Timur Raya. Bayang-bayang kekalahan Jepang mulai nampak lantaran semua garis pertahanan Jepang di Pasifik sudah hancur oleh serangan sekutu. Pimpinan pemerintah pendudukan Jepang di Jawa, Letnan Jendral Kumakici Harada pada 1 Maret 1945 dalam situasi kritis mengumumkan pembentukan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dengan anggota sebanyak 60 orang
Lihat Juga :