GMKI dan PGI Soroti Lonjakan Kasus COVID-19, Ingatkan Jokowi soal Impor Vaksin
Rabu, 01 September 2021 - 13:40 WIB
loading...
A
A
A
PP GMKI mencatat sudah ada 217.9 juta dosis vaksin yang dimpor oleh Indonesia melalui 45 tahapan. Dari vaksin yang masuk, terdapat 5 jenis vaksin di antara 180.7 juta dosis vaksin Sinovac (26.8 juta vaksin jadi Coronavac, dan 153.9 juga dalam bentuk bahan baku atau bulk), 18.76 juta vaksin Astrazeneca, 8.29 juta vaksin Sinopharm, 2.6 juta vaksin Fzier, dan 7.5 juta vaksin Moderna.
"Artinya vaksin Sinovac paling banyak diimpor tapi laju distribusinya hanya mencapai 55 persen. Sedangkan vaksin Astrazeneca jauh lebih tinggi yakni 82 persen," jelas Prima.
Prima juga membandingkan efikasi vaksin Sinovac lebih rendah daripada vaksin Astrazeneca serta harga vaksin Sinovac yang jauh lebih mahal. Berdasarkan hasil uji klinis tahap tiga yang dilakukan di Bandung, efikasi vaksin Sinovac mencapai 65,3%. Melansir studi efikasi vaksin COVID-19, vaksin Astrazeneca menunjukkan nilai 70,4% dalam mencegah COVID-19.
"Yang disayangkan, harga vaksin Sinovac lebih mahal daripada vaksin Astrazeneca. Harga vaksin Sinovac jadi adalah USD13.3 per dosis sedangkan harga bulk Sinovac adalah USD11 per dosis. Dalam proses pengelolahan bulk menjadi vaksin, bulk akan menyusut sekitar 10-15 persen. Artinya rata rata harga proses bulk menjadi vaksin adalah USD12.84 per dosis. Belum ditambahkan anggaran produksi dan managemen, bisa jadi lebih dari harga beli vaksin. Sedangkan harga produksi vaksin Astrazeneca hanya USD3-4 per dosis," ungkap Prima.
"Mengapa Ketua KPCPEN, Erick Thohir tetap menyetujui impor vaksin Sinovac? Padahal beberapa peneliti vaksin Astrazeneca merupakan ilmuwan dari Indonesia," lanjut Prima.
PP GMKI mengingatkan Erick Thohir agar berhati hati terkait anggaran impor vaksin yang mencapai Rp58 triliun. Pasalnya ekonomi negara sedang dalam keadaan sulit, jurang defisit APBN sangat lebar dan utang menumpuk. Selain itu, laju distribusi yang rendah, rentan merugikan keuangan negara.
"Presiden Jokowi harus melakukan evaluasi mendalam. Presiden butuh negarawan yang bekerja di atas kepentingan rakyat bukan kepentingan bisnis," tutup Prima.
"Artinya vaksin Sinovac paling banyak diimpor tapi laju distribusinya hanya mencapai 55 persen. Sedangkan vaksin Astrazeneca jauh lebih tinggi yakni 82 persen," jelas Prima.
Prima juga membandingkan efikasi vaksin Sinovac lebih rendah daripada vaksin Astrazeneca serta harga vaksin Sinovac yang jauh lebih mahal. Berdasarkan hasil uji klinis tahap tiga yang dilakukan di Bandung, efikasi vaksin Sinovac mencapai 65,3%. Melansir studi efikasi vaksin COVID-19, vaksin Astrazeneca menunjukkan nilai 70,4% dalam mencegah COVID-19.
"Yang disayangkan, harga vaksin Sinovac lebih mahal daripada vaksin Astrazeneca. Harga vaksin Sinovac jadi adalah USD13.3 per dosis sedangkan harga bulk Sinovac adalah USD11 per dosis. Dalam proses pengelolahan bulk menjadi vaksin, bulk akan menyusut sekitar 10-15 persen. Artinya rata rata harga proses bulk menjadi vaksin adalah USD12.84 per dosis. Belum ditambahkan anggaran produksi dan managemen, bisa jadi lebih dari harga beli vaksin. Sedangkan harga produksi vaksin Astrazeneca hanya USD3-4 per dosis," ungkap Prima.
"Mengapa Ketua KPCPEN, Erick Thohir tetap menyetujui impor vaksin Sinovac? Padahal beberapa peneliti vaksin Astrazeneca merupakan ilmuwan dari Indonesia," lanjut Prima.
PP GMKI mengingatkan Erick Thohir agar berhati hati terkait anggaran impor vaksin yang mencapai Rp58 triliun. Pasalnya ekonomi negara sedang dalam keadaan sulit, jurang defisit APBN sangat lebar dan utang menumpuk. Selain itu, laju distribusi yang rendah, rentan merugikan keuangan negara.
"Presiden Jokowi harus melakukan evaluasi mendalam. Presiden butuh negarawan yang bekerja di atas kepentingan rakyat bukan kepentingan bisnis," tutup Prima.
Lihat Juga :