Robert Walter Monginsidi, Namanya Bagaikan Hantu yang Ditakuti Pasukan Belanda

Rabu, 25 Agustus 2021 - 05:32 WIB
loading...
A A A
Selama itu Robert selalu dapat meloloskan diri dari kepungan pasukan Belanda. Namun pada tanggal 28 Februari 1947 merupakan hari nahas baginya. Pada hari itu Robert tertangkap oleh pasukan Belanda dan kemudian dimasukkan ke penjara di Hoogepod Ujung Pandang. Di penjara itu Belanda membujuknya agar melepaskan perjuangannya dan kalau bersedia akan diberi hadiah-hadiah dan kedudukan yang menggiurkan. Tetapi Robert tetap menolak, ia berkata “Tetap setia pada cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945. Berani berjuang untuk kepentingan nusa dan bangsa dan berani pula menanggung segala akibatnya”.

Sementara itu kawan-kawan Robert di luar berjuang keras untuk membebaskannya dari penjara. Mereka menyelundupkan 2 buah granat tangan yang dimasukkan ke dalam makanan kiriman. Bersama dengan Abdullah, Lahade, Yoseph dan Lewa Daeng Matari, Robert dengan bersenjatakan 2 granat berhasil lolos dari penjara dengan melalui atap dapur pada tanggal 19 Oktober 1946. Alangkah marahnya pasukan Belanda melihat sel-sel penjara tempat Robert dan kawan-kawannya itu sudah kosong, mereka lalu mengerahkan segenap kemampuannya untuk mencari Robert.

Rupanya sudah ketentuan Tuhan Yang Maha Esa, hanya sembilan hari Robert dapat menghirup udara kemerdekaan. Pada jam 05.00 pagi hari tanggal 26 Oktober 1948 selagi Wolter berada di Klapperkan Lorong 22 A Nomor 3, Kampung Maricayya, Ujung Pandang, ia disergap oleh pasukan Belanda, karena ada yang mengkhianatinya.

Robert dimasukkan lagi dalam penjara Polisi Militer Belanda dan dijaga dengan sangat ketat, Belanda tidak ingin Harimau Indonesia ini lepas untuk kedua kalinya dari penjara. Mereka menyiksa Wolter dengan berbagai cara, tetapi tetap teguh pada pendiriannya. Ia adalah seorang pemimpin sejati. Semua tindakan kawan-kawannya diakui sebagai tanggung jawabnya. Kemudian Robert dipindahkan ke penjara KIS (Kiskampement). Sungguh luar biasa, walaupun Robert mengetahui apa yang akan terjadi dengan dirinya, dan hukuman apa yang akan diterimanya, namun ia tetap tabah dan tampak ketenangan jiwanya.

Robert adalah pemeluk agama Kristen, sejak kecil ia sudah mendapatkan bekal dan bimbingan iman kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Pengaruh iman dan agama itu terlihat betul pada Wolter yang baru berusia 23 tahun. Ia semakin tenang dan bertawakal, sama sekali tidak terlihat rasa takut dan kegoncangan jiwanya. Ia banyak membaca dan menulis surat pada masa itu. Robert bersikap pasrah, keikhlasannya terlukis dalam kata-katanya “Aku telah relakan diriku untuk menjadi korban dengan keinsyafan untuk memenuhi kewajiban dengan masyarakat ini dan yang akan datang”.

Tentu saja ia mengalami pemeriksaan Polisi Militer Belanda dengan caranya yang keras dan kejam, namun Wolter tak gentar oleh ancama dan siksaan. Tekadnya telah bulat, bahwa ia berani menanggung segala akibat perjuangannya, “Dan saya tunduk pada bathin saya”, katanya.

Pada tanggal 26 Maret 1949, Robert diajukan ke muka pengadilan Kolonial Belanda. Pada akhirnya ia dijatuhi hukuman mati, tetapi Robert tetap tabah dan berjiwa kstaria, ia berkata “Aku tidak mengandung perasaan tidak baik terhadap siapapun, juga terhadap mereka yang menjatuhkan hukuman yang paling berat ini kepadaku, karena kupikir mereka tidak mengetahui apa yang mereka kerjakan”. Robert benar-benar bersikap ikhlas pada nasib dan perjuangannya.

Dia meninggalkan ucapan “Apa yang bisa saya tinggalkan hanya roh ku saja yaitu roh setia hingga terakhir pada Tanah Air dan tidak mundur sekalipun, menemui rintangan apapun menuju cita-cita kebangsaan yang tetap. Terbatas dari segala pikiran ini, junjunganku senantiasa Tuhan Yang Maha Kuasa, dan dengan kepercayaan yang disebut belakangan ini, sangguplah saya tahan segala-galanya, teguh iman di dalam kesukaran, tenang ketika keadaan sederhana dan tidak melupakan kenalan-kenalan jika berada dalam kemajuan”.

Robert telah diputuskan oleh kolonial Belanda untuk dijatuhi hukuman mati, berbagai pihak menganjurkan agar ia meminta pengampunan atau grasi kepada pemerintah Belanda bahkan secara diam-diam ayahnya sendiri, terdorong oleh rasa kasih sayang kepada puteranya, telah memintakan grasi. Tetapi Robert sendiri telah menolak untuk meminta grasi itu. Ia sudah benar-benar merelakan akibat dari perjuangannya itu.

Ternyata Pemerintah Belanda memang menolak grasi tersebut. Robert sendiri setelah mendengar grasi itu ditolak tetap tenang. Ia berkata “Memang betul, bahwa ditembak bagi saya berarti ada kemenangan batin, dan dihukum apapun tidak ada membelenggu jiwa sebab kegembiraan di dalam keyakinan sendiri memang adalah luas”. Akhirnya Robert Walter Monginsidi ditembak mati di hadapan regu tembak Belanda pada tanggl 5 September 1949.

Jasadnya kemudian dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Panaikang Makassar pada 10 November 1950. Pada 6 November 1973, Robert dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia. Dia juga mendapatkan penghargaan tertinggi Negara Indonesia, Bintang Mahaputra (Adipradana) pada 10 November 1973. Baca juga: Namanya Jadi Jalan Terpanjang, Ini Sepak Terjang Letjen Djamin Ginting di Medan Perang

Ayahnya, Petrus yang berusia 80 tahun pada saat itu, menerima penghargaan tersebut. Untuk mengenang jasanya, Bandara Wolter Monginsidi (kini Bandar Udara Haluoleo) di Kendari, Sulawesi Tenggara dinamakan sebagai penghargaan kepada Mongisidi. Sejumlah pernghargaan lainnya seperti kapal TNI Angkatan Laut, KRI Wolter Mongisidi dan Rumah Sakit TNI Angkatan Darat Robert Wolter Mongisidi di Manado.
(kri)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Berjasa Besar bagi Bahasa...
Berjasa Besar bagi Bahasa dan Budaya, Sutan Takdir Alisjahbana Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Panglima TNI Lantik...
Panglima TNI Lantik 1.737 Perwira Baru di Akmil Magelang
Presiden Prabowo: Hanya...
Presiden Prabowo: Hanya di Indonesia Polisi Ngurus Pertanian, Tentaranya Sering Ada di Sawah
Ditegur Delegasi Belanda...
Ditegur Delegasi Belanda karena Merokok saat KMB, Jawaban Agus Salim Ini Membuat Mereka Terdiam
Pangdivif 2 Kostrad...
Pangdivif 2 Kostrad Mayjen TNI Primadi Pimpin Sertijab Jabatan Strategis, Ini Namanya
TB Hasanuddin Kritik...
TB Hasanuddin Kritik Pelibatan Komcad dalam Pengamanan Demo Mahasiswa: Berpotensi Picu Konflik Horizontal
Di Balik Kesaktian Pangeran...
Di Balik Kesaktian Pangeran Diponegoro, Ada Keris Pusaka Bernama Kiai Bondoyudo
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
Amnesty International...
Amnesty International Desak TNI Tak Dilibatkan Jaga Demo Mahasiswa Hari Ini
Rekomendasi
Rincian UKT Jalur Mandiri...
Rincian UKT Jalur Mandiri Unair 2026, Berapa Biaya Kuliah Prodi Pilihanmu?
Digitalisasi Kunci Kecepatan...
Digitalisasi Kunci Kecepatan Jasa Raharja Cairkan Santunan Korban Kecelakaan
Banjir Tapanuli Tengah...
Banjir Tapanuli Tengah Jadi Alarm, YSSC Desak Gerakan Nyata Pulihkan Hutan
Berita Terkini
Kemendukbangga Siapkan...
Kemendukbangga Siapkan Program Ayah Idaman untuk Tingkatkan Partisipasi KB Pria
KPK Tahan Bupati Kuansing...
KPK Tahan Bupati Kuansing dan Dua Orang Lainnya terkait Suap Pengisian Jabatan
Presiden Belarus Lukashenko...
Presiden Belarus Lukashenko Tiba di Jakarta, Bertemu Prabowo Besok
Rustini Muhaimin Dorong...
Rustini Muhaimin Dorong Kemandirian Santri Lewat Pelatihan Menjahit
Alasan Calon Manajer...
Alasan Calon Manajer Kopdes Ikuti Latsarmil, Wamenhan: Latih Disiplin dan Kerja Sama
KPK Panggil Bupati Indragiri...
KPK Panggil Bupati Indragiri Hulu terkait Kasus Ajudan Gubernur Abdul Wahid
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved