Dirut TVRI: Saya Bertanggung Jawab Atas Apa yang Sudah Ditulis di Medsos
Jum'at, 29 Mei 2020 - 18:49 WIB
loading...
A
A
A
Dia melanjutkan, tentunya hal itu tidak menghilangkan integritas penulis dan tokoh yang bersangkutan, karena substansinya tidak terkait pornografi. "Bahkan sikap Dewan Pers ketika itu menilai terhadap putusan MA yang memvonis Erwin Arnada sebagai Pemred majalah Playboy Indonesia pada tahun 2010. Dewan Pers, secara tegas menolak menyebutkan majalah Playboy Indonesia melanggar pasal pornografi. Bahkan Dewan Pers menilai, putusan tersebut merupakan bentuk kriminalisasi pers," katanya.
Setelah dilantik menjadi Dirut TVRI, Brotoseno mengakui semua punya rekam jejak digital dan peristiwa masa lalu dalam era digital sekarang. Brotoseno mengaku sejak awal tidak pernah berbohong kepada publik, dimana semua bisa dilihat dalam jejak digital dan tidak ada kasus pelanggaran hukum di masa lalu.
Saat itu, lanjut ke, Netizen masih belum terpolarisasi dan belum terjadi perpecahan kubu aspirasi politik maupun ideologi seperti sekarang. "Dalam percakapan itu yang juga melibatkan beberapa orang seperti pekerja seni termasuk saya, dapat saja menggunakan bahasa gurauan yang oleh pihak lain dapat dianggap sebagai hal serius," imbuhnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, setiap orang memiliki rekam jejak masa lalu, termasuk bagaimana percakapan di media sosial. "Apapun itu, setiap orang tentu memiliki masa lalu, termasuk kesalahan yang dilakukan tanpa
sengaja," tuturnya.
Brotoseno pun mengaku tidak menyangka akan menduduki jabatan publik di TVRI. "Saya bertanggungjawab atas apa yang sudah saya tulis di media sosial dan juga sikap saya sebagai warga negara. Bahwa di belakang hari ada yang mengungkap beberapa tulisan di jejaring sosial, setelah saya atas kehendak Allah SWT menjadi Direktur Utama LPP TVRI, terlepas dari adanya tujuan tertentu, niatan sengaja
membelokkan opini dan melakukan pembunuhan karakter, tentu merupakan fakta yang harus saya hadapi," ujarnya.
Bagi Brotoseno, sangat penting untuk menguatkan komitmennya untuk memperbaiki hal-hal yang buruk di masa lalu dan memulai tahap baru. Dia mengaku berdoa dan memohon ridha Allah untuk senantiasa mampu mengemban beban amanah melalui jabatan Direktur Utama LPP TVRI.
Setelah dilantik menjadi Dirut TVRI, Brotoseno mengakui semua punya rekam jejak digital dan peristiwa masa lalu dalam era digital sekarang. Brotoseno mengaku sejak awal tidak pernah berbohong kepada publik, dimana semua bisa dilihat dalam jejak digital dan tidak ada kasus pelanggaran hukum di masa lalu.
Saat itu, lanjut ke, Netizen masih belum terpolarisasi dan belum terjadi perpecahan kubu aspirasi politik maupun ideologi seperti sekarang. "Dalam percakapan itu yang juga melibatkan beberapa orang seperti pekerja seni termasuk saya, dapat saja menggunakan bahasa gurauan yang oleh pihak lain dapat dianggap sebagai hal serius," imbuhnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, setiap orang memiliki rekam jejak masa lalu, termasuk bagaimana percakapan di media sosial. "Apapun itu, setiap orang tentu memiliki masa lalu, termasuk kesalahan yang dilakukan tanpa
sengaja," tuturnya.
Brotoseno pun mengaku tidak menyangka akan menduduki jabatan publik di TVRI. "Saya bertanggungjawab atas apa yang sudah saya tulis di media sosial dan juga sikap saya sebagai warga negara. Bahwa di belakang hari ada yang mengungkap beberapa tulisan di jejaring sosial, setelah saya atas kehendak Allah SWT menjadi Direktur Utama LPP TVRI, terlepas dari adanya tujuan tertentu, niatan sengaja
membelokkan opini dan melakukan pembunuhan karakter, tentu merupakan fakta yang harus saya hadapi," ujarnya.
Bagi Brotoseno, sangat penting untuk menguatkan komitmennya untuk memperbaiki hal-hal yang buruk di masa lalu dan memulai tahap baru. Dia mengaku berdoa dan memohon ridha Allah untuk senantiasa mampu mengemban beban amanah melalui jabatan Direktur Utama LPP TVRI.
Lihat Juga :