Satgas Pastikan Masalah Pencatatan Kasus Covid-19 Terus Dievaluasi

Jum'at, 20 Agustus 2021 - 09:36 WIB
loading...
Satgas Pastikan Masalah...
Satgas Covid-19 memastikan pendataan terus dievaluasi. Foto/dok.SINDOnews
A A A
JAKARTA - Satgas Penanganan Covid-19 kembali mengedukasi masyarakat dalam membaca data perkembangan penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia. Karena semakin tingginya literasi Indonesia terkait data, akan mencegah terjadinya perpecahan diskusi terkait angka dan narasi spesifik tertentu.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menegaskan bahwa angka-angka dalam statistik telah dianalisis para ahli dari data yang ada di lapangan untuk dapat memberikan gambaran apa yang sebenarnya terjadi pada periode waktu tertentu. Indonesia, saat ini terus berupaya meningkatkan kualitas seluruh aspek data Covid-19.

"Adanya beberapa permasalahan teknis terkait pencatatan dan pelaporan terus dievaluasi saat ini dengan berbagai alternatif, baik upaya konvensional dan digitalisasi," jelas Wiku dikutip dari rilis KPCPEN pada Jumat (20/8/2021).

Baca juga: Kemlu: 4.669 WNI Sembuh dari Covid-19, 233 Meninggal

Untuk itu, ia mengajak media, masyarakat, maupun jajaran pemerintah daerah untuk kembali mendalami makna dibalik analisis situasi Covid-19. Seluruh lapisan masyarakat terutama media massa yang berperan penting untuk memahami dan menyampaikan makna data-data dari pemerintah kepada masyarakat luas.

Adapun penjelasan pertama, terkait gratik kasus kumulatif atau total kasus. Melihat grafik kumulatif pada kasus positif, kesembuhan, maupun kematian. Kecuraman grafik memberikan makna bahwa semakin curam kemiringannya maka semakin cepat kondisi angka tersebut meningkat atau menurun dari waktu ke waktu.

Kedua, terkait pergerakan kasus dalam 7 hingga 14 hari atau mingguan. Analisis ini penting untuk menyimpulkan secara cermat dalam kondisi suatu daerah secara lebih valid dengan melihat tren pada 1 atau 2 minggu dibandingkan mengambil kondisi harian yang sangat dinamis.

Ketiga, terkait kecepatan infeksi atau infection rate per populasi. Angka ini digunakan untuk melihat perbandingan antar negara, antar provinsi, antar kabupaten/kota. Maka hal ini dapat menjadi dasar komparasi yang sesuai menggunakan angka kasus per 100 ribu penduduk.

"Kita tidak bisa serta merta melihat keparahan kondisi langsung antar daerah berpopulasi padat hanya dengan jumlah kasus. Maka dalam melakukan perbandingan digunakanlah angka kasus per 100 ribu penduduk tiap daerah," Wiku menjabarkan.

Keempat, terkait hasil tes positif. Angka ini umumnya keluar dalam bentuk persentase dan dapat menggambarkan persebaran virus. Semakin tinggi persentasenya, maka semakin cepat virus meluas di suatu daerah. Semakin besar prioritas testing pada kasus positif dan kontak erat, maka angka positivity rate akan semakin tinggi. "Angka ini direpresentasikan dari upaya testing yang masif, terutama pada kontak erat," imbuh Wiku.

Baca juga: Siap Pasang Badan untuk Jokowi, Megawati Dianggap Berlebihan

Dan kelima, terkait kapasitas tempat tidur dan angka perawatan Covid-19. Tren dalam grafik perawatan dari waktu ke waktu, dapat menggambarkan keparahan kasus aktif dan orang-orang yang sedang sakit. Untuk dapat memahami dampak keterisian rumah sakit terhadap sistem kesehatan, maka dapat diketahui dari rasio kapasitas tempat tidur dari jumlah orang yang dirawat.

Disamping itu, dengan kondisi data saat ini yang belum sepenuhnya sempurna, bukan berarti data yang ada tidak dapat digunakan. Karena analisis tren data dapat memberikan gambaran langkah strategis, apakah yang seharusnya diambil.

Para pihak berkepentingan dan masyarakat dianjurkan memanfaatkan kanal-kanal informasi milik pemerintah yang menyediakan hasil analisis rutin beserta penjelasannya. "Karena pada prinsipnya pengentasan pandemi adalah tugas kita bersama," pungkas Wiku.
(muh)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Covid-19 di Asia Naik,...
Covid-19 di Asia Naik, Mantan Komandan Satgas RS Wisma Atlet Imbau Masyarakat Waspada
Alumni Relawan RSDC...
Alumni Relawan RSDC Wisma Atlet Hadiri Reuni dan Halalbihalal di Markas Marinir
Mitigasi Inklusif Kolaboratif...
Mitigasi Inklusif Kolaboratif Organisasi Jadi Model Ideal Hadapi Bencana Non Alam Pandemi
3 Orang Jadi Tersangka,...
3 Orang Jadi Tersangka, Kasus Pengadaan APD Covid-19 Rugikan Negara Rp319 Miliar
SBY Lapor ke Jokowi...
SBY Lapor ke Jokowi Jadi Penasihat Khusus Aliansi Sedunia Membasmi Malaria
WHO Sebut Tren Kerja...
WHO Sebut Tren Kerja Jarak Jauh Bisa Berdampak Buruk Bagi Kesehatan Pekerja
Eks Bos CDC Klaim Peran...
Eks Bos CDC Klaim Peran Penting AS dalam Memulai Pandemi Covid
Dharma Pongrekun Sebut...
Dharma Pongrekun Sebut Pandemi Agenda Terselubung Asing, Ini Alasan Ridwan Kamil Tanya soal Covid-19
BUMN Berperan Penting...
BUMN Berperan Penting selama Pandemi Covid-19 dan Era Pemulihan
Rekomendasi
6 Petani Diculik Tentara...
6 Petani Diculik Tentara Israel di Lebanon Selatan
Belgia Juara Grup G,...
Belgia Juara Grup G, Lolos ke 32 Besar usai Bungkam Selandia Baru 5-1
Sejarah! Cape Verde...
Sejarah! Cape Verde Lolos ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026 usai Tahan Arab Saudi
Berita Terkini
Polisi Sita Ratusan...
Polisi Sita Ratusan Perangkat Elektronik di Markas Judi Online Hayam Wuruk, Ini Daftarnya
5 Peserta SPPI Meninggal...
5 Peserta SPPI Meninggal saat Latsarmil, Ini Kronologi Tiap Kasus
Bareskrim: Alamat Server...
Bareskrim: Alamat Server Judi Online Hayam Wuruk di Brasil, China, hingga Vietnam
Dewan Etik Partai Golkar...
Dewan Etik Partai Golkar Jatuhkan Sanksi kepada 3 Kader dari Sumsel
Hari Bhayangkara ke-80,...
Hari Bhayangkara ke-80, Kapolri Berangkatkan Umrah Gratis untuk Guru PAUD
Kembali Bertambah, 5...
Kembali Bertambah, 5 Orang Meninggal Dunia saat Latsarmil Calon Manajer KDKMP/KNMP
Infografis
Klasemen Medali SEA...
Klasemen Medali SEA Games 2025: Indonesia Pastikan Finis Runner-up
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved