Ini Alasan 36,4% Masyarakat Enggan Divaksin Versi Survei LSI
Minggu, 18 Juli 2021 - 15:35 WIB
loading...
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menemukan bahwa sebanyak 36,4% publik yang belum divaksin, enggan untuk melakukan vaksinasi virus Corona (Covid-19). Foto/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menemukan bahwa sebanyak 36,4% publik yang belum divaksin, enggan melakukan vaksinasi virus Corona (Covid-19), meskipun mereka tahu bahwa pemerintah memiliki program vaksinasi gratis dan mendukung program vaksinasi tersebut.
Baca juga: Corona Masih Mengancam, Berikut 4 Tips WFH Supaya Tetap Produktif
Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif LSI, Djayadi Hanan dalam rilis survei nasional yang bertajuk 'Sikap Publik Terhadap Vaksin dan Program Vaksin Pemerintah'.
Baca juga: 3 Herbal Perkuat Daya Tahan Tubuh Selama Isolasi Mandiri Lawan Corona
"Mayoritas atau hampir semua tahu bahwa pemerintah sudah memulai program vaksinasi (90,3%), kemudian umumnya juga hampir 84,9% setuju dengan program vaksinasi, yang tidak setuju sedikit ada di kisaran 10,7%. Jadi ini dukungan yang cukup besar untuk program vaksinasi," kata Djayadi dalam paparannya secara daring, Minggu (18/7/2021).
Baca juga: Hari Pertama PPKM Mikro, Kasus Baru Corona di Jayapura Bertambah 71 Orang
Kemudian, Djayadi melanjutkan, pihaknya menanyakan apakah mereka sudah melakukan vaksinasi, hasilnya sama dengan update vaksinasi 6 Juni lalu, 7,5% masyarakat yang telah mendapatkan 2 dosis vaksin, dan 9,9% yang baru mendapatkan 1 dosis vaksin. Yang mengaku belum divaksin ada 82,6%.
"Dari yang belum divaksin, masih banyak yang belum bersedia divaksin ada 36,4%, hampir 40% dari 82% dari masyarakat yang belum divaksin. Ini tantangan bagi program vaksinasi pemerintah," ujarnya.
Adapun alasan mereka tidak bersedia divaksin, kata dia, di antatanya, karena takut akan efek samping vaksin 55,5%, menganggap vaksin tidak efektif 25,4%, merasa badannya sehat-sehat saja 19%.
"Itu 3 alasan terbesar. Di luar itu meragukan kehalalannya (9,9%), merasa takut akan membayar untuk memperoleh vaksin itu (8,7%), kalau sudah banyak yang divaksin maka saya tidak perlu divaksin (4,1%),
vaksin hanya akal-akalan perusahaan farmasi untuk mendapatkan untung (3,8%), dan alasan lainnya," urai Djayadi.
Diketahui, survei ini dilakukan dengan telepon pada 20-25 Juni dengan basis respondennya yang terpilih secara acak berdasarkan survei LSI selama 3 tahun terakhir. Ada 7.477 yang berhasil telepon, ada 1.200
responden yang berhasil diwawancarai.
Secara umum sampel ini menggambarkan karakteristik secara nasional. Survei ini memiliki margin of error (MoE) sekitar ±2.88% pada tingkat kepercayaan 95%. Sampel berasal dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara proporsional.
Baca juga: Corona Masih Mengancam, Berikut 4 Tips WFH Supaya Tetap Produktif
Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif LSI, Djayadi Hanan dalam rilis survei nasional yang bertajuk 'Sikap Publik Terhadap Vaksin dan Program Vaksin Pemerintah'.
Baca juga: 3 Herbal Perkuat Daya Tahan Tubuh Selama Isolasi Mandiri Lawan Corona
"Mayoritas atau hampir semua tahu bahwa pemerintah sudah memulai program vaksinasi (90,3%), kemudian umumnya juga hampir 84,9% setuju dengan program vaksinasi, yang tidak setuju sedikit ada di kisaran 10,7%. Jadi ini dukungan yang cukup besar untuk program vaksinasi," kata Djayadi dalam paparannya secara daring, Minggu (18/7/2021).
Baca juga: Hari Pertama PPKM Mikro, Kasus Baru Corona di Jayapura Bertambah 71 Orang
Kemudian, Djayadi melanjutkan, pihaknya menanyakan apakah mereka sudah melakukan vaksinasi, hasilnya sama dengan update vaksinasi 6 Juni lalu, 7,5% masyarakat yang telah mendapatkan 2 dosis vaksin, dan 9,9% yang baru mendapatkan 1 dosis vaksin. Yang mengaku belum divaksin ada 82,6%.
"Dari yang belum divaksin, masih banyak yang belum bersedia divaksin ada 36,4%, hampir 40% dari 82% dari masyarakat yang belum divaksin. Ini tantangan bagi program vaksinasi pemerintah," ujarnya.
Adapun alasan mereka tidak bersedia divaksin, kata dia, di antatanya, karena takut akan efek samping vaksin 55,5%, menganggap vaksin tidak efektif 25,4%, merasa badannya sehat-sehat saja 19%.
"Itu 3 alasan terbesar. Di luar itu meragukan kehalalannya (9,9%), merasa takut akan membayar untuk memperoleh vaksin itu (8,7%), kalau sudah banyak yang divaksin maka saya tidak perlu divaksin (4,1%),
vaksin hanya akal-akalan perusahaan farmasi untuk mendapatkan untung (3,8%), dan alasan lainnya," urai Djayadi.
Diketahui, survei ini dilakukan dengan telepon pada 20-25 Juni dengan basis respondennya yang terpilih secara acak berdasarkan survei LSI selama 3 tahun terakhir. Ada 7.477 yang berhasil telepon, ada 1.200
responden yang berhasil diwawancarai.
Secara umum sampel ini menggambarkan karakteristik secara nasional. Survei ini memiliki margin of error (MoE) sekitar ±2.88% pada tingkat kepercayaan 95%. Sampel berasal dari seluruh provinsi yang terdistribusi secara proporsional.
(maf)
Lihat Juga :