BNPB Tegaskan untuk Inisiasi Peta Risiko Bencana Pantai dan Laut
Sabtu, 17 Juli 2021 - 14:31 WIB
loading...
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan diperlukannya untuk membuat peta resiko bencana pada kawasan pantai dan laut. Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan diperlukannya untuk membuat peta risiko bencana pada kawasan pantai dan laut. Hal ini karena banyaknya Pelabuhan di sepanjang Pantai Selatan Jawa.
Baca juga: Kalsel Gencarkan Gerakan Keluarga Sehat Tanggap dan Tangguh Bencana
Awalnya Abdul mengatakan bahwa kapal-kapal yang berada di pelabuhan atau benda yang dapat terapung dan dapat terseret ombak ke darat dapat menambah daya hancur di daratan. Adapun hal tersebut bahkan tidak diperlukan dengan adanya gelombang tsunami yang besar.
"Kita harus mengisiniasi tidak hanya peta resiko bencana di darat tetapi juga di pantai dan laut,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam Clubinar 15 Tahun Tsunami Senyap Pangandaran, Sabtu (17/07/2021)
Baca juga: 3.110 Pohon Ditanam untuk Kenang 1 Tahun Bencana Banjir Bandang Lutra
Menurutnya kapal tersebut sudah harus keluar sebelum putih gelombang tsunami terlihat. Hal ini karena, apabila kapal tersebut terlambat maka kapal akan dianggap susah untuk melawan ombak tsunami tersebut.
“Karena kalau gelombang pecah tsunami pecah sudah terlihat, maka itu sudah sangat dekat, energi potensialnya sudah menjadi energi kinetik, maka mesin kapal tidak akan mampu melawan daya dorong gelombang,” sambungnya
Dalam kesempatan tersebut dia mencontohkan mengenai terseretnya benda yang terseret sampai ke darat. Adapun kejadian tersebut terjadi pada Tsunami Aceh pada 2004 silam.
“Kalau kita liat di Tsunami Aceh, ada PLTD terapung yang beratnya sampai 600 ton itu terbawa sampai 3 kilometer ke darat, apalagi yang perahu lebih kecil,” pungkasnya.
Baca juga: Kalsel Gencarkan Gerakan Keluarga Sehat Tanggap dan Tangguh Bencana
Awalnya Abdul mengatakan bahwa kapal-kapal yang berada di pelabuhan atau benda yang dapat terapung dan dapat terseret ombak ke darat dapat menambah daya hancur di daratan. Adapun hal tersebut bahkan tidak diperlukan dengan adanya gelombang tsunami yang besar.
"Kita harus mengisiniasi tidak hanya peta resiko bencana di darat tetapi juga di pantai dan laut,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam Clubinar 15 Tahun Tsunami Senyap Pangandaran, Sabtu (17/07/2021)
Baca juga: 3.110 Pohon Ditanam untuk Kenang 1 Tahun Bencana Banjir Bandang Lutra
Menurutnya kapal tersebut sudah harus keluar sebelum putih gelombang tsunami terlihat. Hal ini karena, apabila kapal tersebut terlambat maka kapal akan dianggap susah untuk melawan ombak tsunami tersebut.
“Karena kalau gelombang pecah tsunami pecah sudah terlihat, maka itu sudah sangat dekat, energi potensialnya sudah menjadi energi kinetik, maka mesin kapal tidak akan mampu melawan daya dorong gelombang,” sambungnya
Dalam kesempatan tersebut dia mencontohkan mengenai terseretnya benda yang terseret sampai ke darat. Adapun kejadian tersebut terjadi pada Tsunami Aceh pada 2004 silam.
“Kalau kita liat di Tsunami Aceh, ada PLTD terapung yang beratnya sampai 600 ton itu terbawa sampai 3 kilometer ke darat, apalagi yang perahu lebih kecil,” pungkasnya.
(maf)
Lihat Juga :