Perkuat Hubungan Bersama Anak dengan Menjadi Orang Tua yang Responsif
Selasa, 29 Juni 2021 - 06:29 WIB
loading...
A
A
A
Presenter dan pembawa acara Cici Panda, ibu dengan dua anak yang kini tinggal di Bali, mengaku merasakan naik turun menjadi orangtua selama pandemi COVID-19. "Pandemi benar-benar membuat kami shock karena kami mengalami dampaknya, kerjaan semua dibatalkan saat itu, suami juga bekerja di bidang yang sama, akibatnya kami tidak punya pemasukan dan harus benar-benar berhemat. Ini awalnya tidak mudah untuk anak pertamaku, Alika, karena ada banyak penyesuaian yang harus dilakukan," kata Cici Panda.
Panda pun terbuka dengan anaknya mengenai situasi berat yang harus dihadapi karena ayah dan ibunya kehilangan pekerjaan. Namun ia dan suami berusaha untuk tetap menenangkan anaknya hingga anaknya mengerti mengapa harus ada perubahan di dalam rumah seperti tidak bisa menyalakan AC di lebih dari 1 ruangan.
"Butuh waktu 6 bulan sampai aku bisa buat keadaan jadi lebih menyenangkan. Adaptasinya lumayan, anakku sempat mengalami bosan, ogah-ogahan sekolah daring. Tapi setelah kami ajak anak untuk diskusi, melibatkan dia dalam banyak hal, sekarang sudah setahun lebih, sampai saat ini baik-baik saja, sudah dapat ritmenya seperti apa," ungkap Panda.
Satrio Rahargo Spesialis Pelibatan Masyarakat dan Program Peduli Anak WVI, mengatakan, di masa pandemi, wajar ketika keluarga mengalami rasa khawatir, takut stres, atau bahkan anak mengalami depresi. Di sini lah, keluarga membangun support system, di mana setiap anggota keluarga dapat saling mendukung satu sama lain, dan bahwa dia tidak sendirian, ada anggota keluarga yang lain yang bisa membantu.
"WVI memiliki modul Pengasuhan dengan Cinta dan kami telah melatih banyak orangtua, membantu para orangtua dalam mengasuh anak. Banyak kami temui, tidak banyak orangtua yang mengerti apa yang harus dilakukan ketika menghadapi masalah pengasuhan. Padahal pengasuhan memiliki banyak aspek, mulai dari pola pengasuhan orangtua yang biasanya dipengaruhi masa lalu, kemudian bagaimana mengekspresikan cinta dengan cara yang diinginkan, membangun komunikasi, hingga bagaimana orangtua dapat menjadi teladan bagi
anak-anak," ungkap Satrio.
Panda pun terbuka dengan anaknya mengenai situasi berat yang harus dihadapi karena ayah dan ibunya kehilangan pekerjaan. Namun ia dan suami berusaha untuk tetap menenangkan anaknya hingga anaknya mengerti mengapa harus ada perubahan di dalam rumah seperti tidak bisa menyalakan AC di lebih dari 1 ruangan.
"Butuh waktu 6 bulan sampai aku bisa buat keadaan jadi lebih menyenangkan. Adaptasinya lumayan, anakku sempat mengalami bosan, ogah-ogahan sekolah daring. Tapi setelah kami ajak anak untuk diskusi, melibatkan dia dalam banyak hal, sekarang sudah setahun lebih, sampai saat ini baik-baik saja, sudah dapat ritmenya seperti apa," ungkap Panda.
Satrio Rahargo Spesialis Pelibatan Masyarakat dan Program Peduli Anak WVI, mengatakan, di masa pandemi, wajar ketika keluarga mengalami rasa khawatir, takut stres, atau bahkan anak mengalami depresi. Di sini lah, keluarga membangun support system, di mana setiap anggota keluarga dapat saling mendukung satu sama lain, dan bahwa dia tidak sendirian, ada anggota keluarga yang lain yang bisa membantu.
"WVI memiliki modul Pengasuhan dengan Cinta dan kami telah melatih banyak orangtua, membantu para orangtua dalam mengasuh anak. Banyak kami temui, tidak banyak orangtua yang mengerti apa yang harus dilakukan ketika menghadapi masalah pengasuhan. Padahal pengasuhan memiliki banyak aspek, mulai dari pola pengasuhan orangtua yang biasanya dipengaruhi masa lalu, kemudian bagaimana mengekspresikan cinta dengan cara yang diinginkan, membangun komunikasi, hingga bagaimana orangtua dapat menjadi teladan bagi
anak-anak," ungkap Satrio.
(hab)
Lihat Juga :