Ada Potensi Gempa dan Tsunami Besar di Jatim, BMKG: Jangan Panik
Senin, 07 Juni 2021 - 07:12 WIB
loading...
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati meminta masyarakat tidak panik terhadap potensi gempa bumi dan tsunami dahsyat hasil penelitian para ahli. Foto/dok.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) menegaskan gempa berkekuatan 8,7 dan tsunami 29 meter di pantai selatan Jawa Timur merupakan potensi bukan prediksi.
“Terkait gempa magnitudo 8,7 dan tsunami 29 meter di pesisir Pantai Selatan Jawa Timur, menyikapi potensi gempa dan tsunami di wilayahnya bahwa itu adalah suatu acuan bukan prediksi artinya belum tentu terjadi, jangan panik,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangan yang diterima, Senin (7/6/2021).
Baca juga: BMKG: Jatim Terancam Mega Tsunami, Ini Penjelasan Pakar Geologi ITS
Dwikorita mengatakan potensi gempa magnitudo 8,7 dan tsunami 29 meter ini merupakan hasil kajian dan pemodelan para ahli. Dia pun mengatakan bahwa hal ini dilakukan sebagai upaya untuk kepentingan mitigasi.
“Tetapi kenapa kami lakukan? Karena untuk kepentingan mitigasi, berjaga-jaga kondisi terburuk. Kenapa yang dipilih kondisi terburuk? Kalau kondisi terburuk itu sudah disiapkan, sudah dilatihkan, dan fasilitasnya sudah disiapkan, Insya Allah itu tidak terjadi, yang terjadi lebih lebih ringan,” kata Dwikorita.
“Terkait gempa magnitudo 8,7 dan tsunami 29 meter di pesisir Pantai Selatan Jawa Timur, menyikapi potensi gempa dan tsunami di wilayahnya bahwa itu adalah suatu acuan bukan prediksi artinya belum tentu terjadi, jangan panik,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangan yang diterima, Senin (7/6/2021).
Baca juga: BMKG: Jatim Terancam Mega Tsunami, Ini Penjelasan Pakar Geologi ITS
Dwikorita mengatakan potensi gempa magnitudo 8,7 dan tsunami 29 meter ini merupakan hasil kajian dan pemodelan para ahli. Dia pun mengatakan bahwa hal ini dilakukan sebagai upaya untuk kepentingan mitigasi.
“Tetapi kenapa kami lakukan? Karena untuk kepentingan mitigasi, berjaga-jaga kondisi terburuk. Kenapa yang dipilih kondisi terburuk? Kalau kondisi terburuk itu sudah disiapkan, sudah dilatihkan, dan fasilitasnya sudah disiapkan, Insya Allah itu tidak terjadi, yang terjadi lebih lebih ringan,” kata Dwikorita.
Lihat Juga :