Nadiem Makarim Diingatkan Jangan Berjudi dengan Kesehatan Anak Indonesia
Jum'at, 04 Juni 2021 - 11:45 WIB
loading...
A
A
A
"Yang patut disayangkan, Nadiem juga menolak berbicara mengenai klaster di lingkungan sekolah yang muncul setelah kebijakan uji coba tatap muka dilaksanakan. Dari pemberitaan, terakhir kali Nadiem berbicara mengenai klaster sekolah adalah Agustus 2020 padahal akhir-akhir ini sudah cukup banyak klaster pendidikan misalnya di Pekalongan yang terjadi karena pegawai sakit namun tidak melapor dan berbaur dengan rekan lain di sekolah; klaster sekolah Tasikmalaya dan lain-lain. Bisa dibayangkan nasib anak-anak apabila klaster yang menimpa guru-guru di atas terjadi pada saat sekolah tatap muka sudah berjalan," jelasnya.
Hendra melanjutkan alasan utama yang diberikan Nadiem adalah sekolah di rumah merusak masa depan. Sebagai orang yang menyelesaikan hampir seluruh usia sekolahnya di luar negeri, seharusnya Nadiem Makarim sudah mengetahui bahwa sekolah di rumah (homeschooling) sudah menjadi salah satu pilihan orang tua untuk mendidik anak karena lebih fleksibel dan orang tua dapat menentukan sendiri mata pelajaran yang dipelajari anak sesuai minat dan bakat serta dapat melahirkan hubungan orang tua dan anak yang lebih baik.
Dengan semua kelebihan homeschooling ini, kata dia, tidak heran bahkan sebelum COVID-19, orang tua di Indonesia banyak mempercayakan pendidikan anak kepada sistem homeschooling seiring bertambahnya sekolah yang menyediakan program homeschooling. Selain dua alasan utama di atas, vaksin dan homeschooling buruk, alasan yang sering diutarakan Nadiem adalah angka pernikahan dini naik karena sekolah di rumah.
"Pernyataan tersebut membuktikan bahwa Nadiem memang tidak memahami kultur dan sosiologis di Indonesia. Faktanya, bahkan sebelum COVID-19, penikahan dini sudah marak ditemukan di seluruh Indonesia. Misalnya berdasarkan data 2018 atau satu tahun sebelum COVID-19, sebanyak 1.184.100 perempuan menikah di bawah 18 tahun dengan jumlah terbanyak di Jawa sebesar 668.900 perempuan. Jadi sama sekali tidak ada korelasi antara pernikahan dini dengan sekolah di rumah," paparnya.
Terakhir, Nadiem malah melontarkan pernyataan bahwa karena mall dan kantor sudah dibuka maka sekolah tatap muka juga harus dibuka. Tidak ada hubungan antara mal dan kantor dengan sekolah.
Hendra melanjutkan alasan utama yang diberikan Nadiem adalah sekolah di rumah merusak masa depan. Sebagai orang yang menyelesaikan hampir seluruh usia sekolahnya di luar negeri, seharusnya Nadiem Makarim sudah mengetahui bahwa sekolah di rumah (homeschooling) sudah menjadi salah satu pilihan orang tua untuk mendidik anak karena lebih fleksibel dan orang tua dapat menentukan sendiri mata pelajaran yang dipelajari anak sesuai minat dan bakat serta dapat melahirkan hubungan orang tua dan anak yang lebih baik.
Dengan semua kelebihan homeschooling ini, kata dia, tidak heran bahkan sebelum COVID-19, orang tua di Indonesia banyak mempercayakan pendidikan anak kepada sistem homeschooling seiring bertambahnya sekolah yang menyediakan program homeschooling. Selain dua alasan utama di atas, vaksin dan homeschooling buruk, alasan yang sering diutarakan Nadiem adalah angka pernikahan dini naik karena sekolah di rumah.
"Pernyataan tersebut membuktikan bahwa Nadiem memang tidak memahami kultur dan sosiologis di Indonesia. Faktanya, bahkan sebelum COVID-19, penikahan dini sudah marak ditemukan di seluruh Indonesia. Misalnya berdasarkan data 2018 atau satu tahun sebelum COVID-19, sebanyak 1.184.100 perempuan menikah di bawah 18 tahun dengan jumlah terbanyak di Jawa sebesar 668.900 perempuan. Jadi sama sekali tidak ada korelasi antara pernikahan dini dengan sekolah di rumah," paparnya.
Terakhir, Nadiem malah melontarkan pernyataan bahwa karena mall dan kantor sudah dibuka maka sekolah tatap muka juga harus dibuka. Tidak ada hubungan antara mal dan kantor dengan sekolah.
Lihat Juga :