PDIP Ogah Koalisi dengan Demokrat, Pengamat Duga karena Dendam Politik
Rabu, 02 Juni 2021 - 08:27 WIB
loading...
A
A
A
Presiden Jokowi, katanya, menggunakan pendekatan bansos karena untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah pandemi yang telah memunculkan kontraksi ekonomi setahun terakhir, menciptakan gelombang pengangguran, meningkatnya kemiskinan, dan juga hancurnya likuiditas perusahaan dan BUMN, terlebih di sektor infrastruktur akibat investasi yang eksesif di periode pertama pemerintahan Jokowi.
"Jadi, argumen Hasto sebenarnya tidak berdasar. Hasto hanya ingin membangun front politik untuk menghindari koalisi dengan Demokrat karena alasan emosional masa lalu. Kalau ingin berdemokrasi secara matang, sikap-sikap "baper" masa lalu itu sebaiknya dihindari," ungkap dia.
Menurut dia, untuk masa depan demokrasi yang lebih baik, PDIP sebaiknya terbuka berkoalisi dengan partai mana pun, yang punya visi, misi dan cara pandang kebangsaan yang sama. "Termasuk dengan Demokrat," ujarnya.
Di sisi lain, Umam menganggap sentimen-sentimen emosional yang tidak produktif seperti itu perlu dinetralisir oleh partai-partai politik, termasuk PDIP, untuk membangun watak demokrasi yang matang dan terkonsolidasi, agar tercipta tata kelola pemerintahan yang lebih efektif, transparan dan akuntabel.
"Sikap agresif PDIP itu karena PDIP merasa di atas angin, seolah tak ada kekuatan partai mitra dan oposisi yang mampu mengoreksi soliditas dan kekuatan partainya. Perlu diingat, literasi politik masyarakat Indonesia semakin tinggi, berikan teladan yang baik kepada rakyat, kalau memang berkomitmen untuk membangun demokrasi."
"Jadi, argumen Hasto sebenarnya tidak berdasar. Hasto hanya ingin membangun front politik untuk menghindari koalisi dengan Demokrat karena alasan emosional masa lalu. Kalau ingin berdemokrasi secara matang, sikap-sikap "baper" masa lalu itu sebaiknya dihindari," ungkap dia.
Menurut dia, untuk masa depan demokrasi yang lebih baik, PDIP sebaiknya terbuka berkoalisi dengan partai mana pun, yang punya visi, misi dan cara pandang kebangsaan yang sama. "Termasuk dengan Demokrat," ujarnya.
Di sisi lain, Umam menganggap sentimen-sentimen emosional yang tidak produktif seperti itu perlu dinetralisir oleh partai-partai politik, termasuk PDIP, untuk membangun watak demokrasi yang matang dan terkonsolidasi, agar tercipta tata kelola pemerintahan yang lebih efektif, transparan dan akuntabel.
"Sikap agresif PDIP itu karena PDIP merasa di atas angin, seolah tak ada kekuatan partai mitra dan oposisi yang mampu mengoreksi soliditas dan kekuatan partainya. Perlu diingat, literasi politik masyarakat Indonesia semakin tinggi, berikan teladan yang baik kepada rakyat, kalau memang berkomitmen untuk membangun demokrasi."
(zik)
Lihat Juga :