70% Negara Akui Palestina, Partai Gelora Minta Kemlu Desak AS dan Uni Eropa

loading...
70% Negara Akui Palestina, Partai Gelora Minta Kemlu Desak AS dan Uni Eropa
Partai Gelora Indonesia berharap Indonesia meningkatkan perannya dalam berdiplomasi untuk Palestina. FOTO/IST
JAKARTA - Dukungan 138 negara di dunia atas kemerdekaan Palestina sebagai negara merdeka dan berdaulat, tidak lagi di bawah kendali Israel saat ini dinilai harus bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh Indonesia. Negara Indonesia bisa meningkatkan perannya dalam berdiplomasi dengan melakukan lobi terhadap 'goverment to goverment' dan 'people to people' ke 138 negara tersebut, terutama Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Hal tersebut dikatakan Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri DPN Partai Gelora Indonesia Henwira Halim dalam diskusi bertajuk 'Akankah Palestina Segera Merdeka' yang diselenggarakan Al Quds Volunteer Indonesia pada Senin (17/5/2021) malam lalu. "Saat ini sudah ada 138 negara yang mengakui kemerdekaan Palestina, berarti sudah 70% negara di dunia yang mengakui. Tetapi pertanyaannya, kenapa Amerika Serikat mempertahankan Israel dan menolak kemerdekaan Palestina," ujar Henwira.

Ia berpendapat bahwa selama AS masih mem-backup penuh Israel, maka akan dibutuhkan upaya lebih besar untuk memerdekakan Palestina ddari penjajahan negara Yahudi itu. "Jadi selama Amerika Serikat terus mem-backing Israel, maka semakin rumit dan dibutuhkan effort (upaya) yang besar untuk mencapai kemerdekaan Palestina," katanya.

Baca juga: Dubes Palestina Terima Bantuan dari Masyarakat Indonesia untuk Gaza

Menurut dia, untuk membentuk sebuah negara merdeka dan berdaulat, diperlukan empat syarat, yakni populasi, wilayah, pemerintahan dan pengakuan. Namun, karena pertarungan kepentingan geopolitik global, kemerdekaan Palestina terus terganjal, meski 70% negara didunia sudah memberikan dukungan.



Sebab, Amerika Serikat dan sebagian negara Barat ingin mempertahankan pengaruhya di Timur Tengah (Timteng) dengan memberikan dukungan kepada Israel. Dukungan kepada Israel tersebut adalah untuk mempertahankan pengaruh mereka, baik secara politik, keamanan, investasi dan upaya melakukan eksplorasi dalam mendapatkan sumber daya alam baru.

"Palestina ini korban politik geopolitik global. Warga Palestina yang jadi korban kolateral (agunan) geopolitik, sehingga Amerika ragu-ragu mengutuk Israel, apalagi mengambil tindakan tegas," katanya.

Baca juga: China Sebut AS Terus 'Siram Minyak' Dalam Konflik Israel-Palestina

Namun, sikap AS tersebut mulai bergeser oleh tekanan perkembangan internasional mengenai Palestina, serta dinamika politik dan sosial yang terjadi di dalam negeri negeri Paman Sam itu sendiri. Bahkan para Senator dari Partai Demokrat juga sudah mendesak agar segera ada genjatan senjata antara Israel-Palestina, dan meminta Presiden AS Joe Biden bersikap keras ke Israel.

"Senator Demokrat menilai Israel sudah dianggap tidak punya moral, tidak demokratis dan rasis, bahkan apartheid. Kalau sudah menuduh rasis dan apartheid itu sudah tuduhan berat. 28 Senator dari Demokrat ingin ada genjatan senjata dan meminta Presiden Joe Biden keras kepada Israel," katanya.

Henwira menambahkan, saat ini di publik AS sudah ada pergeseran pemahaman yang berbeda mengenai Palestina dan Islam, yang menganggapnya bukan lagi terorisme, tetapi sudah menyangkut sisi kemanusian.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top