KH Hasyim Asy'ari Hilang dari Kamus Sejarah, Begini Kritikan Politikus PKS
Selasa, 20 April 2021 - 21:23 WIB
loading...
A
A
A
Menurutnya, penulisan sejarah dalam buku tersebut tidak jarang berwatak Belanda-Sentris atau Eropa-Sentris dan kurang kritis secara metodologi. Sehingga, Bukhori mendorong terobosan baru dalam historiografi Indonesia.
"Fenomena ini akhirnya membuat kita datang pada suatu kesadaran untuk meninjau kembali Historiografi Indonesia yang tertuang dalam buku-buku formal di sekolah dimana sedikit sekali mengungkap peran ulama dan santri dalam perjuangan penegakan kedaulatan hingga mempertahankan NKRI," tuturnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, Indonesia sebagai negara yang berdasarkan ketuhanan tidak sepenuhnya kompatibel dengan narasi sejarah yang dibangun dari konstruksi berpikir yang sekuleristik sebagaimana dituliskan oleh para sejarawan barat dan orientalis.
"Kendati begitu, bukan berarti kita antiterhadap narasi sejarah yang dituliskan mereka. Tetapi, cukup dimaknai sebagai pengayaan khazanah. Sementara, historiografi kita harus dibangun dari kajian yang kritis, referensi yang kuat, dan penulisan yang objektif dengan tidak mengesampingkan peran umat Islam sebagai salah satu isu krusialnya," jelasnya.
Dia melanjutkan, narasi sejarah kita akan membentuk kepribadian bangsa kita. "Sebab itu, kita perlu adil sejak dalam pikiran. Termasuk pengakuan kita secara jujur bahwa para ulama dan santri adalah domain penting dalam historiografi Indonesia," pungkasnya.
"Fenomena ini akhirnya membuat kita datang pada suatu kesadaran untuk meninjau kembali Historiografi Indonesia yang tertuang dalam buku-buku formal di sekolah dimana sedikit sekali mengungkap peran ulama dan santri dalam perjuangan penegakan kedaulatan hingga mempertahankan NKRI," tuturnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, Indonesia sebagai negara yang berdasarkan ketuhanan tidak sepenuhnya kompatibel dengan narasi sejarah yang dibangun dari konstruksi berpikir yang sekuleristik sebagaimana dituliskan oleh para sejarawan barat dan orientalis.
"Kendati begitu, bukan berarti kita antiterhadap narasi sejarah yang dituliskan mereka. Tetapi, cukup dimaknai sebagai pengayaan khazanah. Sementara, historiografi kita harus dibangun dari kajian yang kritis, referensi yang kuat, dan penulisan yang objektif dengan tidak mengesampingkan peran umat Islam sebagai salah satu isu krusialnya," jelasnya.
Dia melanjutkan, narasi sejarah kita akan membentuk kepribadian bangsa kita. "Sebab itu, kita perlu adil sejak dalam pikiran. Termasuk pengakuan kita secara jujur bahwa para ulama dan santri adalah domain penting dalam historiografi Indonesia," pungkasnya.
(zik)
Lihat Juga :