Aspek Ritual dan Nonritual Ramadan
Senin, 19 April 2021 - 06:34 WIB
loading...
A
A
A
Pada bulan Ramadan sebagian umat Islam mengeluarkan zakat dan sedekahnya. Gerakan zakat di kalangan umat Islam belum mempunyai daya ungkit yang signifikan untuk perbaikan ekonomi masyarakat. Jutaan umat Islam yang hidup berkecukupan ternyata tidak mampu mengentaskan saudara-saudaranya yang dilanda kemiskinan. Orang masih suka berzakat dan bersedekah dengan mengundang orang miskin ke rumahnya. Antrian orang miskin yang memanjang dan berjubel terkadang malah menimbulkan bencana karena mereka harus berdesak-desakan. Situasinya bertambah runyam kalau hal tersebut dilakukan di saat pandemi Covid-19.
Puasa harus dilakukan dengan jiwa ikhlas. Salah satu tanda ikhlas adalah tidak mudah kecewa. Saat ini banyak di antara kita menjadi individu yang selalu kecewa. Kecewa mengapa harga barang selalu naik di bulan puasa, kecewa mengapa program pengentasan kemiskinan masih salah sasaran, dan masygul karena pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung satu tahun belum ada tanda-tanda untuk berakhir. Bangsa kita kini juga sibuk mengatasi berbagai bencana alam berupa banjir bandang dan longsor yang menimpa sebagian wilayah Indonesia. Korban jiwa berjatuhan dan banyak masyarakat tinggal di tenda-tenda pengungsian sembari menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.
Di awal bulan Ramadan ini kita juga mendengar bahwa pemerintah mengeluarkan Keppres 6/2021 tentang pembentukan Satgas dalam rangka penanganan dan pemulihan hak negara berupa hak tagih negara atas sisa piutang negara dari dana BLBI. Satgas Penanganan Hak Tagih Negara Dana BLBI bertugas sejak 6 April 2021 sampai 31 Desember 2023. Satgas BLBI akan memburu kerugian negara senilai Rp108 trilyun. Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana-mana, namun korupsi yang masih saja dilakukan para pejabat di negeri ini mengisyaratkan bahwa pendidikan karakter perlu dilakukan sejak usia dini. Bulan Ramadan dapat menjadi bulan pendidikan karena banyak orang Islam berperilaku baik di bulan ini. Puasa Ramadan menekankan aspek ibadah ritual menahan makan, minum dan hal-hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Namun, aspek nonritual yang menyertainya sungguh luar biasa.
Perbaikan karakter umat Islam di bulan Ramadan yang merupakan aspek nonritual dapat menjadi modal dasar untuk memperbaiki kualitas sumberdaya manusia Indonesia. Umat Islam yang setiap tahun berlatih mengendalikan diri di bulan Ramadan akan menjadi pribadi yang disiplin, tidak merugikan orang lain, bertutur kata dengan santun, mampu mengendalikan emosi, yang kesemuanya adalah bekal untuk perbaikan perilaku hidup bangsa. Di bulan Ramadan ini kita perlu terus-menerus mendoakan para pemimpin kita agar mereka tetap amanah dalam menjalankan tugas. Pemimpin yang adil dan amanah akan membawa kesejahteraan bagi rakyatnya. Sungguh tragis kalau ada pemimpin yang perutnya tidak pernah kenyang dengan yang sedikit, dan nafsunya tidak pernah puas dengan yang banyak. Selama 11 bulan sebagian kita telah menjalani kesibukan dan kegiatan yang tidak jelas. Oleh karena itu, mereka yang tidak introspeski diri pada bulan Ramadan, pasti hanya akan mengulang-ulang perbuatan salahnya di bulan-bulan yang akan datang. Mereka adalah orang-orang yang tidak dapat mengambil hikmah dengan datangnya Ramadan.
Puasa harus dilakukan dengan jiwa ikhlas. Salah satu tanda ikhlas adalah tidak mudah kecewa. Saat ini banyak di antara kita menjadi individu yang selalu kecewa. Kecewa mengapa harga barang selalu naik di bulan puasa, kecewa mengapa program pengentasan kemiskinan masih salah sasaran, dan masygul karena pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung satu tahun belum ada tanda-tanda untuk berakhir. Bangsa kita kini juga sibuk mengatasi berbagai bencana alam berupa banjir bandang dan longsor yang menimpa sebagian wilayah Indonesia. Korban jiwa berjatuhan dan banyak masyarakat tinggal di tenda-tenda pengungsian sembari menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.
Di awal bulan Ramadan ini kita juga mendengar bahwa pemerintah mengeluarkan Keppres 6/2021 tentang pembentukan Satgas dalam rangka penanganan dan pemulihan hak negara berupa hak tagih negara atas sisa piutang negara dari dana BLBI. Satgas Penanganan Hak Tagih Negara Dana BLBI bertugas sejak 6 April 2021 sampai 31 Desember 2023. Satgas BLBI akan memburu kerugian negara senilai Rp108 trilyun. Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana-mana, namun korupsi yang masih saja dilakukan para pejabat di negeri ini mengisyaratkan bahwa pendidikan karakter perlu dilakukan sejak usia dini. Bulan Ramadan dapat menjadi bulan pendidikan karena banyak orang Islam berperilaku baik di bulan ini. Puasa Ramadan menekankan aspek ibadah ritual menahan makan, minum dan hal-hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Namun, aspek nonritual yang menyertainya sungguh luar biasa.
Perbaikan karakter umat Islam di bulan Ramadan yang merupakan aspek nonritual dapat menjadi modal dasar untuk memperbaiki kualitas sumberdaya manusia Indonesia. Umat Islam yang setiap tahun berlatih mengendalikan diri di bulan Ramadan akan menjadi pribadi yang disiplin, tidak merugikan orang lain, bertutur kata dengan santun, mampu mengendalikan emosi, yang kesemuanya adalah bekal untuk perbaikan perilaku hidup bangsa. Di bulan Ramadan ini kita perlu terus-menerus mendoakan para pemimpin kita agar mereka tetap amanah dalam menjalankan tugas. Pemimpin yang adil dan amanah akan membawa kesejahteraan bagi rakyatnya. Sungguh tragis kalau ada pemimpin yang perutnya tidak pernah kenyang dengan yang sedikit, dan nafsunya tidak pernah puas dengan yang banyak. Selama 11 bulan sebagian kita telah menjalani kesibukan dan kegiatan yang tidak jelas. Oleh karena itu, mereka yang tidak introspeski diri pada bulan Ramadan, pasti hanya akan mengulang-ulang perbuatan salahnya di bulan-bulan yang akan datang. Mereka adalah orang-orang yang tidak dapat mengambil hikmah dengan datangnya Ramadan.
(war)
Lihat Juga :