Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis Bikin Hasto Kristiyanto Terkenang Masa Kecil
Minggu, 11 April 2021 - 03:35 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Resmikan Gedung di Ponpes, Kapolri: Silahturahmi dengan Ulama Jangan Pernah Putus
“Bung Karno mengatakan Indonesia yang berkepribadian dalam kebudayaan. Di situlah padepokan ini, semua suku dan agama, semua umat manusia Indonesia bisa bersatu dalam semangat yang sama, bergelora dengan tegap yang sama, yaitu untuk Indonesia raya kita,” kata Hasto dengan nada berapi-api.
Sementara itu, Pengasuh Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis, Ananta Wahana mengungkapkan awal berdirinya padepokan. Awalnya lahan seluas 4.000 meter itu merupakan hutan bambu yang penuh ular sebelum disulap menjadi tempat nyaman bagi masyarakat untuk datang belajar, berdiskusi atau sekadar berkumpul masyarakat.
“Kini, tempat ini sudah menjadi tempat belajar dan wadah bagi generasi muda dan masyarakat untuk menempa diri mereka lewat latihan-latihan kepemimpinan, kelas-kelas filsafat, seminar, dan bahkan menjadi ajang bagi beberapa komunitas seni budaya untuk berlatih mengekspresikan diri mereka,” kata Ananta.
Padepokan juga menyediakan ruang-ruang kelas untuk tempat belajar anak usia dini, bahkan kerap menjadi sekolah darurat bagi anak-anak pengungsi dari daerah-daerah konflik di Timur Tengah, seperti Siria, Irak, dan Afganistan. “Semangat pendirian Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis tidak lepas dari cita-cita awal pendirian padepokan tersebut agar menjadi kebun tempat persemaian kader-kader nasionalis dan pancasilais yang unggul,” ujar Ananta.
Kendati lokasinya jauh dari perkotaan, tetapi Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis telah berhasil membuktikan eksistensi menjadi tempat titik temu lintas generasi, kaum muda lintas aliran politik, serta lintas agama dan budaya. Terbukti, nama-nama tokoh yang menjadi pemeran utama di panggung politik nasional pernah singgah di padepokan tersebut.
“Bung Karno mengatakan Indonesia yang berkepribadian dalam kebudayaan. Di situlah padepokan ini, semua suku dan agama, semua umat manusia Indonesia bisa bersatu dalam semangat yang sama, bergelora dengan tegap yang sama, yaitu untuk Indonesia raya kita,” kata Hasto dengan nada berapi-api.
Sementara itu, Pengasuh Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis, Ananta Wahana mengungkapkan awal berdirinya padepokan. Awalnya lahan seluas 4.000 meter itu merupakan hutan bambu yang penuh ular sebelum disulap menjadi tempat nyaman bagi masyarakat untuk datang belajar, berdiskusi atau sekadar berkumpul masyarakat.
“Kini, tempat ini sudah menjadi tempat belajar dan wadah bagi generasi muda dan masyarakat untuk menempa diri mereka lewat latihan-latihan kepemimpinan, kelas-kelas filsafat, seminar, dan bahkan menjadi ajang bagi beberapa komunitas seni budaya untuk berlatih mengekspresikan diri mereka,” kata Ananta.
Padepokan juga menyediakan ruang-ruang kelas untuk tempat belajar anak usia dini, bahkan kerap menjadi sekolah darurat bagi anak-anak pengungsi dari daerah-daerah konflik di Timur Tengah, seperti Siria, Irak, dan Afganistan. “Semangat pendirian Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis tidak lepas dari cita-cita awal pendirian padepokan tersebut agar menjadi kebun tempat persemaian kader-kader nasionalis dan pancasilais yang unggul,” ujar Ananta.
Kendati lokasinya jauh dari perkotaan, tetapi Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis telah berhasil membuktikan eksistensi menjadi tempat titik temu lintas generasi, kaum muda lintas aliran politik, serta lintas agama dan budaya. Terbukti, nama-nama tokoh yang menjadi pemeran utama di panggung politik nasional pernah singgah di padepokan tersebut.
Lihat Juga :