Melongok Keunggulan Jet Tempur KFX/IFX, Proyek yang Hampir Batal

loading...
Melongok Keunggulan Jet Tempur KFX/IFX, Proyek yang Hampir Batal
Pembuatan pesawat tempur modern Korean Fighter Xperiment (KFX) dan Indonesia Fighter Xperiment (IFX) yang dikembangkan bersama Korea Selatan dengan Indonesia akhirnya berhasil diwujudkan. Foto/Korea Times
JAKARTA - Pembuatan pesawat tempur modern Korean Fighter Xperiment (KFX) dan Indonesia Fighter Xperiment (IFX) yang dikembangkan bersama Korea Selatan dengan Indonesia akhirnya berhasil diwujudkan.

Pembuatan pesawat tempur semi siluman yang dikembangkan sejak 2011 ini sempat mengalami kendala dan nyaris batal lantaran pengembangan pesawat tempur multi role generasi 4,5 ini masih terkendala pengadaan beberapa komponen yakni, electronically scanned array (AESA) radar, infrared search and track (IRST), electronic optics targeting pod (EOTGP) and Radio Frequency jammer. Termasuk technical asistance agreement dari Amerika Serikat. Baca juga: Jet Tempur KF-21 Resmi Meluncur, Proyek Bersama Korsel-Indonesia

Pembuatan pesawat tempur yang menghabiskan anggaran sebesar Rp21,6 triliun digadang-gadang memiliki kemampuan melebihi pesawat tempur Eurofighter buatan Inggris dan F-18 buatan Amerika Serikat (AS). Sebab, pesawat tersebut didesain dengan teknologi canggih secara aerodinamis dan memiliki kemampuan manuver yang tinggi dan dilengkapi dengan kemampuan semi-stealth, semi conformal missile launcher, advanced avionics, dan air refuelling. Termasuk kemampuan khusus yakni perusak sistem elektronik musuh atau disebut jammer electronic. Baca juga: RI-Korsel Sepakat Lanjutkan Pengembangan Pesawat Tempur KFX

Melongok Keunggulan Jet Tempur KFX/IFX, Proyek yang Hampir Batal




Pesawat supersonik ini juga dilengkapi radar yang bisa menangkap pergerakan musuh dari segala penjuru. Juga dilengkapi optical targeting system yang berfungsi sebagai mata karena bisa menangkap beberapa lawan sekaligus. Rencananya, jumlah pesawat ini akan diproduksi sebanyak 168 unit, di mana Korea akan memiliki 120 pesawat dan Indonesia 48 pesawat untuk tiga skadron. Berbeda dengan Korea, untuk kebutuhan TNI AU pesawat ini akan dilengkapi dengan drag chute atau payung parasut dan external fuel atau tanki eksternal. Dalam proses pembuatannya, Korean Aerospace Industries (KAI) 80% sedangkan PT Dirgantara Indonesia (DI) 20% dalam penyediaan komponennya.

Ada tiga tahapan dalam pembuatan pesawat ini yakni, tahap pengembangan teknologi atauTechnology Development Phase selama dua tahun yang menghasilkan konfigurasi awal pesawat tempur ini. Kemudian Engineering Manufacturing Development Phase dan faseprototyping atau prototipe sebelum akhirnya diproduksi massal. Jika proyek ini berjalan dengan baik maka dipastikan Indonesia akan menjadi negara yang disegani di kawasan.
(cip)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top