“Lone Wolf dan Transformasi Strategi Teror

loading...
“Lone Wolf” dan Transformasi Strategi Teror
Nafik Muthohirin (Foto: Istimewa)
Nafik Muthohirin
Dosen UMM, Direktur Program RBC Institute A Malik Fadjar

AKSI bom bunuh diri di Makassar, Minggu (28/3), dan penyusupan di Mabes Polri, Rabu (31/3), serta serangkaian penangkapan terduga teroris dalam satu pekan ini membelalakkan mata publik bahwa tindak terorisme tak pernah mati. Ideologi radikal berbasiskan agama selalu tumbuh dengan menyasar kaum muda yang sedang mencari identitas.

Meski pemerintah terus menekan keberadaan mereka, diseminasi pemikiran dan pola gerakan kelompok teroris tetap mengalami transformasi. Melalui Jamaah Ansharut Daulah (JAD), misalnya, pola serangan dan target ancaman yang dilancarkan mengalami perubahan dibanding aksi-aksi terorisme yang terjadi pada awal 2000-an.

Aksi tunggal (lone wolf) dan bom bunuh diri menjadi pilihan strategi yang dilakukan JAD. Tujuannya sangatlah jelas, mereka menargetkan serangan kepada aparat pemerintah, kepolisian, dan warga nonmuslim.

Pergerakan JAD yang bercirikan lone wolf tersebut sangatlah menakutkan. Sebab, pola ini bekerja tidak atas instruksi pimpinan di jaringan teroris. Mereka menjalankan misi secara sendiri-sendiri, masuk dalam kerumunan, menargetkan korban yang sudah ditentukan sendiri, serta pergerakannya tidak mudah dibaca aparat.



JAD dengan transformasi serangan terornya berbentuk lone wolf sekarang ini dianggap paling kreatif dan berbahaya. Melancarkan aksi teror secara sendiri, tapi bisa menyasar target tertentu dan mencelakai banyak orang. Aksi ini banyak ditemukan sebelumnya, seperti pada kasus penembakan tunggal di Selandia Baru (2019) dan kasus Anders Breivik di Norwegia (2011). Keduanya melibatkan teroris berusia muda dan membunuh puluhan orang.

Para militan JAD melancarkan serangan lone wolf melalui beberapa tindakan ekstremis, seperti bom bunuh diri di sejumlah gereja maupun penembakan dan penusukan terhadap aparat pemerintah, terutama pihak kepolisian. Bagi JAD, bom bunuh diri atau aksi lone wolf lainnya menjadi ciri strategi serangan yang terus dilakukan karena dianggap efektif yang dapat mengenai sasaran secara langsung.

Aksi terorisme bercirikan serangan tunggal juga memiliki dampak trauma sosial yang menakutkan. Kasus penembakan di Mabes Polri (31/3) atau penusukan mantan Menkopolhukam Wiranto (2020), bagi kelompok teroris seperti JAD, peristiwa teror ini bertujuan untuk menggambarkan kenyataan situasi nasional yang sedang tidak aman. Sementara itu, meski dianggap gagal (karena tidak menimbulkan korban jiwa dan menghancurkan Gereja Katedral), aksi bom bunuh diri di Makassar dinilai berhasil memunculkan kekhawatiran publik dan menyebarkan pesan kematian.

Sejak berdiri pada 2015, JAD menjadi dalang bagi sejumlah aksi bom bunuh diri, seperti peledakan di Gereja Santa Maria Surabaya, Gereja Kristen Indonesia, dan Polrestabes Surabaya (2018), serta peledakan Halte Bus Kampung Melayu (2017). Selain itu, JAD juga disebut sebagai dalang peledakan bom bunuh diri di Jolo, Filipina, yang menewaskan 14 orang dengan 75 orang luka-luka (2020).

Secara umum, setelah tragedi WTC pada 11 September 2001, muncul kecenderungan sejumlah organisasi teroris meningkatkan intensitas serangan melalui bom bunuh diri karena memiliki tujuan politik yang besar. Al-Qaedah, misalnya, melakukan serangkaian aksi bom bunuh diri untuk memaksa militer Amerika Serikat (AS) pergi dari Semenanjung Arab (Pape, 2003).



Begitu pun dengan ISIS. Organisasi yang didirikan Abu Mus’ab Zarqawi ini mengeluarkan perintah kepada milisinya untuk melakukan serangan teror di negaranya masing-masing. Para kombatan ISIS melancarkan aksi lone wolf melalui beberapa bentuk. Ada yang berupa aksi bom bunuh diri, penembakan dan penusukan warga/aparat, hingga menabrak kerumunan massa.

Jadi, tampak ada kemiripan strategi teror antara ISIS dan JAD dalam hal pemanfaatan lone wolf sebagai bentuk aksi terorisme yang baru. Hal ini karena JAD merupakan representasi gerakan teror ISIS yang berbasis di Asia Tenggara.

JAD merekrut anak-anak muda yang sedang mencari identitas. Sayangnya, para generasi langgas itu salah mendasarkan pemahaman keagamaannya pada orang yang berideologi tertutup. Ada juga di antara mereka yang terpapar melalui akun-akun jejaring sosial yang menyediakan berbagai konten berpaham terorisme.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top