Webinar MWA UI: Sinergi Triple Helix untuk Penanganan Pandemi Covid-19

Jum'at, 26 Maret 2021 - 11:44 WIB
loading...
Webinar MWA UI: Sinergi...
Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN_ Bambang Brodjonegoro. Foto/Istimewa
A A A
JAKARTA - Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro memaparkan kerangka riset dan inovasi nasional dengan pengantar obsesi Kemristek/BRIN, yaitu mengubah paradigma pembangunan ekonomi Indonesia dari resource-driven economy menjadi innovation-driven economy.

Paradigma innovation-driven economy, yaitu bangsa yang inovatif, menguasai Iptek, mandiri, dan berdaya saing global. Bambang menekankan bahwa perlu dilakukan sinergi triplehelix yang kuat antara akademisi, pemerintah, dan industri.

Kemristek melakukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan berbagai aktor triple-helix dalam upaya pemulihan ekonomi dan masyarakat melalui berbagai program percepatan penanganan pandemi Covid-19 dan less contact economy.

Bambang mengungkapkan Kemristek telah menginisiasi Konsorsium Riset dan Inovasi yang telah dilaksanakan mulai Maret 2020. Konsorsium ini merupakan kolaborasi antara pemerintah, universitas, lembaga pemerintah nonkementerian (LPNK), industri, diaspora, asosiasi profesional, dan rumah sakit.Baca juga: Kemlu: 3.985 WNI Positif Covid-19 di Luar Negeri

Dalam usia konsorsium yang relatif singkat, telah lahir lebih dari 60 produk inovasi yang sedang dan telah dikembangkan untuk penanggulangan Covid-19. Beberapa produk inovasi tersebut diantaranya adalah alat kesehatan untuk skrining Covid-19 yaitu PCR Test Kit, Uji CePAD (Covid-19 Antigen) dari Universitas Padjadjaran, GeNose dari Universitas Gadjah Mada, dan Floked Swab dari UI.

Lalu untuk alat kesehatan pendukung, seperti ventilator, telah dikembangkan oleh beberapa universitas, seperti Institut Teknologi Bandung, UI, dan yang lain.

“Untuk inovasi terapi, terdapat Convalescent Plasma dan Mesenchymal stem cells, yakni inovasi dari UI yang dapat memperbaiki jaringan paru-paru dan bisa meningkatkan kesembuhan 2,5 kali lipat khusus pasien Covid-19 dengan kategori berat. Inovasi ini diharap dapat menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia selama masa pandemi dan untuk kebutuhan jangka panjang,” ujar Prof. Bambang.

Presiden Direktur PT Dexa Medica, Ferry A Soetikno memaparkan kontribusi Dexa Group yang ikut membangun industri bahan baku obat di Indonesia.

Menurut dia, pasar farmasi Indonesia memiliki growth potential yang menjanjikan. Dalam kaitan dengan sumber bahan baku obat, ini merupakan peluang untuk bisa menyuplai pasar dengan bahan baku yang lebih kompetitif dengan mempertahankan mutu dan lain sebagainya.

“Kesadaran hidup sehat juga meningkat, sehingga kebutuhan konsumen terhadap suplemen preventif memiliki peluang yang besar. Urgensi untuk membangun kemandirian industri bahan baku obat tidak bisa ditawar lagi. Saya berterima kasih kepada Bapak Menristek yang telah mengayomi kita membentuk platform/atmosfer yang melibatkan banyak stakeholder,” tuturnya.

Dexa mengembangkan bahan baku obat herbal dari biodiversitas Indonesia yang bersumber dari kekayaan sumber daya alam hayati dengan berbasis riset dan didukung oleh medical evidence-based. Ferry menjelaskan bahwa Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) adalah obat yang akan dipakai untuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan pasar yang lain.

OMAI terbuat dari bahan alam berupa ekstrak/fraksi tanaman asli dan tumbuh di Indonesia. Saat ini OMAI telah memperoleh status sebagai Fitofarmaka atau Obat Herbal Terstandar.Baca juga: Buka Munas Apkasi, Jokowi Ingatkan Pandemi Covid-19 Belum Berakhir

Sementara itu, Budi Wiweko, Wakil Direktur IMERI-FKUI, menjelaskan tentang teknologi mahadata (big data) yaitu sebuah potensi pelayanan kesehatan di masa mendatang.

Dia memaparkan bahwa di masa depan, big data akan menjadi suatu jenis pelayanan kesehatan baru. Sumber big data dalam bidang kesehatan diperoleh dari rumah sakit, laboratorium, emergency, disease registries, Biobank, dan lain sebagainya.

Perpaduan perilaku, manusia, teknologi dan big data akan menghasilkan apa yang disebut “kedokteran presisi”, yaitu kedokteran yang menyesuaikan dengan kebutuhan pasien, yang dapat memprediksi masa depan kesehatan pasien.

Big data yang telah diolah dapat menjadi "model" dan dapat digunakan untuk pengobatan. Misalnya, dari big data dapat diketahui bahwa dalam 10 tahun ke depan, seseorang dapat mengidap suatu penyakit seperti cenderung rentan darah tinggi, atau rentan mengidap penyakit kanker payudara, dan lain-lain.

Ini dapat dipakai sebuah negara untuk mengelola kesehatan daerahnya melalui apa yang disebut “presisi public health”. Tenaga kesehatan di masa depan akan sangat dibutuhkan kemampuan dalam bidang teknologi, perilaku manusia, dan pemahaman data.
(dam)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Covid-19 di Asia Naik,...
Covid-19 di Asia Naik, Mantan Komandan Satgas RS Wisma Atlet Imbau Masyarakat Waspada
Alumni Relawan RSDC...
Alumni Relawan RSDC Wisma Atlet Hadiri Reuni dan Halalbihalal di Markas Marinir
Kasus Menteri Satryo...
Kasus Menteri Satryo Soemantri Brodjonegoro, Dasco Minta Evaluasi
Pegawai Kemendikti Saintek...
Pegawai Kemendikti Saintek Demo: Kami ASN Dibayar Negara, Bukan Babu Keluarga
Karangan Bunga Bertuliskan...
Karangan Bunga Bertuliskan Lawan Menteri Zalim Hiasi Kemendikti Saintek
Spanduk Selamatkan dari...
Spanduk Selamatkan dari Menteri Pemarah dan Suka Main Tampar di Depan Kantor Kemendikti Saintek
Eks Bos CDC Klaim Peran...
Eks Bos CDC Klaim Peran Penting AS dalam Memulai Pandemi Covid
Dharma Pongrekun Sebut...
Dharma Pongrekun Sebut Pandemi Agenda Terselubung Asing, Ini Alasan Ridwan Kamil Tanya soal Covid-19
BUMN Berperan Penting...
BUMN Berperan Penting selama Pandemi Covid-19 dan Era Pemulihan
Rekomendasi
Gunung Merapi Erupsi,...
Gunung Merapi Erupsi, Guguran Lava Meluncur 2 Kilometer ke Arah Barat
Prancis di Persimpangan...
Prancis di Persimpangan Mimpi dan Trauma
Setelah Setahun Vakum,...
Setelah Setahun Vakum, D.O EXO Siap Comeback Solo Agustus 2026
Berita Terkini
Guntur Romli Tepis Tuduhan...
Guntur Romli Tepis Tuduhan BEM Bersatu: Kegilaan Logika Cocokologi yang Dipaksakan
Aliansi BEM Bersatu...
Aliansi BEM Bersatu Endus Dugaan Keterlibatan Politikus PDIP dalam Aksi Tolak MBG
Budiman Sesalkan Pembubaran...
Budiman Sesalkan Pembubaran Diskusi di UGM: Seharusnya Kita Bisa Berdialog dengan Sehat
Usai Temui Jokowi, IKA...
Usai Temui Jokowi, IKA BEM Nusantara Akan Bertemu Gibran, Bahas Apa?
Bonatua Silalahi Ungkap...
Bonatua Silalahi Ungkap Kejanggalan di Fotokopi Ijazah Jokowi: Tak Ada Tanggal Legalisir, Melanggar Peraturan
Digeruduk Mahasiswa...
Digeruduk Mahasiswa UGM saat Diskusi, Budiman Sudjatmiko: Kami Bersedia untuk Dikritik
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved